Thursday, February 5, 2009

Panduan Dasar Defensive Driving

SUMBER BERITA
gambar

- 40.000 ribu jiwa melayang setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia -

Demikian informasi yang BeritaATPM.com catat, saat mengikuti program Smart Driving Clicic (SDC) pada awal April 2007 lalu di kawasan Lido, Bogor. Data lainya yang kami catat melalui program tersebut, yaitu Indonesia berada di peringkat terburuk di Asia dalam hal berlalu lintas dan road safety. Dan menurut data tahun 2006 diinformasikan kerugian negara mencapai Rp. 100 trilyun akibat kecelakaan, seperti yang dikutip dari Jusri Pulubuhu, founder/training director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Di sisi lain, asuransi kecelakaan yang menyebabkan jiwa melayang pun tergolong sangat rendah dibanding negara tetangga. Asuransi kematian di Indonesia yang diambil dari polis pajak kendaraan hanya berkisar Rp. 10 juta/jiwa. Bandingkan dengan Singapura Rp. 3,6 milyar/jiwa dan Malaysia Rp. 2,4 milyar/jiwa. Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan menambah jumlah korban jiwa dengan kerugian yang sangat besar tersebut? Tanpa bermaksud menggurui, kami membawa 'oleh-oleh' dari pelatihan tersebut, yang mungkin bisa sangat membantu Anda untuk mengemudi dengan teknik beresiko rendah.

Mengemudi secara difensif diawali dengan perencanaan dan kemampuan yang matang. Setiap kali mengemudi, kita harus melakukannya seakan-akan jiwa kita tergantung pada cara kita mengemudi. Seorang pengemudi yang difensif harus mampu, secara sadar maupun spontan untuk melakukan tindakan-tindakan preventif dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, orang lain, properti, dan lingkungan terhadap potensi kerusakan/kerugian.

Ada tiga faktor kunci teknik mengemudi difensif. Pertama, pemahaman dan penguasaan bahaya dan resiko. Kedua, pemahaman dan penguasaan dasar-dasar kendaraan bermotor, dan ketiga, pemahaman dan penguasaan teknik mengemudi difensif. Faktor ketiga ini dibagi lagi dalam tiga sub, yaitu pemahaman dan penguasaan mengenai peraturan lalu lintas, pemahaman dan penguasaan teknik kebiasaan melihat, dan pemahaman dan penguasaan keterampilan emergensi.

Kebiasaan Observasi dan Melihat
Ada tiga konsep dalam mengemudi difensif versi JDDC, yaitu pandangan aman, lingkaran aman, dan diikat dengan 'sikap'. Dengan mempunyai pandangan aman, kita dapat mengenali sesuatu lebih awal, menjadi lebih waspada, mempunyai waktu untuk mengambil keputusan, waktu yang cukup untuk menghindari sesuatu tersebut, dan terhindar dari pergerakan tiba-tiba dan pengereman tajam.

Melalui pandangan aman, kita dapat menciptakan lingkaran aman/lingkaran imajinasi. Karena mengemudi kendaraan bermotor merupakan kegiatan yang dinamis, dengan situasi yang selalu berubah, maka kita harus selalu menjaga pandangan dan memelihara ruang aman untuk setiap pergerakan. Usahakan menstimulasi mata ke kanan dan ke kiri setiap dua detik.

Bahaya
Berdasarkan studi JDDC, faktor manusia menempati porsi tertinggi dari suatu kecelakaan kendaraan bermotor. Beberapa faktor tersebut disebabkan diantaranya tidak fokus, kurang terampil, serta lemahnya pengkajian resiko. Kurang terampil meliputi ketidaktahuan pengemudi terhadap fungsi-fungsi alat-alat kontrol, termasuk dalam hal rem dan cara pengoperasiannya.

Bahaya adalah suatu obyek, kondisi fisik atau pengaruh fisik yang mempunyai potensi untuk menyebabkan suatu kehilangan, kerusakan, kehancuran, kerugian, bahkan lebih jauh lagi, kematian. Jalan raya adalah suatu tempat berkumpulnya segala macam bahaya, mulai dari pejalan kaki, pengendara, kendaraan bermotor, kepadatan pemakai jalan, kondisi permukaan jalan, hingga ditambah masalah cuaca.

Adalah tindakan bijaksana bila kita paham akan bahaya dan mengambil suatu sikap dalam merespon bahaya-bahaya tersebut dengan suatu sistem preventif, agar resiko dapat dihindari atau setidaknya diminimalisir.

5 Kategori Gangguan

Pertama, Rute.
- Mencari-cari arah petunjuk jalan,
- Berada di jalan padat dan sempit sambil mencari tanda-tanda petunjuk,
- Memasuki suatu kawasan asing.

Kedua, Mental.
- Sedang marah, atau gangguan pikiran lain,
- Ekonomi, pekerjaan,
- Sedang sangat gembira, sedih.

Ketiga, Pandangan.
- Bisa terjadi terhadap sesuatu yang menarik di pinggir jalan,
- Billboard,
- Mobil yang mewah dan hebat.

Keempat, Dari Kendaraan.
- Bunyi-bunyi yang aneh tiba-tiba dari kendaraan kita, atau
- Sesuatu yang dibicarakan oleh penumpang.

Kelima, Tidak Terbiasa
- Mengemudi kendaraan yang lain,
- Kecepatan tidak terbiasa,
- Kondisi lalu lintas yang berbeda.

Metode Sederhana Pemeriksaan Pra Perjalanan
Mengelilingi kendaraan untuk mengecek bagian luar kendaraan, misalnya bodi kendaraan, bagian kolong kendaraan, kondisi roda, kebersihan kaca, serta plat nomor kendaraan. Selanjutnya memeriksan bagian mesin kendaraan, berikut pengecekan lampu-lampu dan indikator. Lalu diteruskan pengecekan kondisi sabuk pengaman dan alat keselamatan lainnya.

JDDC memberi satu simbol kata untuk hal ini, yaitu BALOK, yang merupakan singkatan dari B (ban, bodi kendaraan), A untuk air (radiator, aki, wiper), L untuk listrik (lampu-lampu, klakson), O untuk olie (mesin, power steering, rem, transmisi otomatik), dan K untuk karet/kabel (fan belt, selang-selang), Kertas (SIM, STNK, KTP, dll).

Pengenalan Kendaraan
Disamping itu, pengenalan dan pemahaman akan kendaraan menjadi bagian penting lainnya, yang mencakup 3 kelompok, yaitu: (1) Indikator kontrol, meliputi indikator air, oli, aki, putaran mesin, temperatur, dan tekanan. Sementara (2) fisik kendaraan, meliputi track base (jarak lebar roda), wheelbase (jarak sumbu roda), radius putar, dan tinggi kendaraan. Sementara (3) karakter kendaraan, diantaranya sudut steer (roda kemudi), rem, dan tenaga. Sudut steer (roda kemudi), dilakukan dengan pergerakan ke kiri dan ke kanan saat kita mulai pergerakan. Lakukan ini di area yang aman dengan kecepatan yang pelan. Dengan demikian kita akan segera tahu kemampuan dan kondisi putar dari kendaraan tersebut.

Pengereman dan Fungsi Rem
Mengenai karakter rem, sebaiknya kita melakukan penginjakan pedal rem, dari halus sampai yang paling dalam sehingga kita mengerti karakter dan sensitivitas dari rem tersebut. Tindakan harus dilakukan di area aman, dengan demikian kita dapat menghindari kepanikan ketika harus melakukan pengereman tiba-tiba.

Umumnya pada sebuah kecelakaan kendaraan bermotor, rem dijadikan alasan utama. Misalnya rem kendaraan tidak bekerja maksimal atau jarak pengereman terlalu panjang. Beberapa pembalap bahkan mengatakan, dari keseluruhan tugas pengemudi yang paling berat adalah pengereman dengan benar. Dan ilmu mengemudi difensif akhirnya bermuara pada bagaimana mengoperasikan rem dengan benar. Pengoperasian rem dengan benar dan sesuai kemampuan akan memperkecil peluang pengemudi terlibat kecelakaan.

Jangan menginjak pedal kopling pada saat melakukan pengereman.

Jarak berhenti kendaraan akan sangat dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:
  • Manusia; kondisi fisik, umur, mental dari pengemudi
  • Kecepatan; semakin cepat laju kendaraan, semakin besar daya kinetik yang terjadi, dan ini akan membuat jarak pengereman menjadi lebih panjang.
  • Kondisi ban; permukaan ban yang baik tidak kurang dari 2mm akan membuat traksi/cengkeraman roda menjadi maksimal ketika pengereman berlangsung.
  • Cuaca; cuaca panas pada permukaan aspal akan membuat cengkeraman roda berkurang saat dilakukan pengereman.
  • Lintasan; lintasan gravel, basah, dan berpasir ikut memberikan jarak berhenti yang panjang dibandingkan permukaan tanah kering/aspal.
  • Bobot kendaraan; semakin berat beban dari sebuah kendaraan akan memberikan daya kinetik/dorong yang besar kepada kendaraan tersebut. Dengan demikian jarak berhenti kendaraan semakin panjang.
Ada dua fase reaksi di sini. Fase pertama, reaksi manusia, yaitu pengemudi memerlukan waktu untuk mengobservasi sebelum memutuskan tindakan dan akhirnya bereaksi. Selama masa observasi, kendaraan tetap bergerak dan pengemudi belum melakukan tindakan apa-apa. Fase kedua, yaitu reaksi mekanikal, di mana roda tidak langsung aktif seketika saat merespon reaksi pengemudi.

Jika kendaraan kita masih menggunakan tromol dan belum dilengkapi ABS, maka ada baiknya kita mempelajari teknik pengereman stab dan squeeze. Kedua teknik ini dibutuhkan saat kondisi darurat. Teknik stab yaitu pompa pedal rem sampai terkunci, kemudian lepas, dan tekan lagi. Sementara teknik squeeze, yaitu pompa pedal rem, tekan, lepas, tekan.

Blind Spot
Perlu disadari bidang pandang di spion tetap lebih terbatas dibanding dengan melihat langsung. Untuk itu kaca spion adalah langkah pertama untuk melihat sisi yang dituju. Langkah berikutnya adalah mengaktifkan lampu sein, menyempatkan menoleh langsung, baru kita beraksi, pindah jalur misalnya.

Kaca spion adalah 'Alat Bantu' Melihat!!

Blind spot adalah suatu bidang pandang yang tidak terlihat akibat terhalang oleh sesuatu obyek. Di Amerika Serikat dikabarkan lebih dari 600.000 kasus pindah jalur mengundang kecelakaan setiap tahunnya. Dan 60 % dari jumlah pengemudi tersebut umumnya mengaku tidak melihat kendaraan lain.
Selalu amati kaca spion Anda (aturan 5 - 8 detik!)

Menikung dan Olah Kemudi
Dalam mengemudi difensif, metoda tangan di arah jarum jam 10 - 2 atau 9 - 3, dengan teknik menggerakkan stir 'tarik dan dorong' (pull & push), sehingga kedua tangan tidak pernah berada di dalam lingkaran setang kemudi, termasuk jempol Anda. Khusus untuk setang kemudi yang telah dilengkapi bantalan udara (airbag), maka posisi tangan sangat dianjurkan pada posisi 9 - 3.

Pada dasarnya ketika kendaraan sedang bergerak, maka kestabilan kendaraan telah berkurang. Ini menyebabkan traksi roda pada permukaan lintasan ikut berkurang. Olehnya saat menikung, pengemudi harus memfokuskan cara mengemudinya pada dua faktor, yaitu kecepatan dan lintasan. Kecepatan yang berlebihan dan sudut radius yang besar akan memperbesar daya sentrifugal dan mengurangi traksi roda ke permukaan jalan. Sementara mengerem, memindahkan transmisi, dan mengubah kecepatan dengan tiba-tiba membuat kestabilan kendaraan akan berkurang dan memperbesar daya sentrifugal.

Pandangan Aman

Zona Melihat
Zona paling jauh di mana kita melihat bahaya dari awal 30 - 120 detik ke depan, tetapi tidak jelas. Kita mempunyai waktu yang cukup untuk bermanuver dengan halus dan aman.

Zona Analisa
Zona antara 12 - 25 detik di hadapan kita. Pada zona ini bahaya baru bisa terlihat jelas. Pada saat inilah kita baru bisa menganalisa dan mengambil keputusan. Coba ambil satu titik target di hadapan Anda yang berjarak 15 detik ke depan, dengan cara ini Anda akan mengemudi dengan lurus. Apabila kurang dari jarak itu, Anda akan mengemudi dengan meliuk-liuk, ke kiri dan ke kanan, dan menyulitkan pengendara di belakang Anda (ini disebabkan karena jarak Anda terlalu dekat).

Zona Beraksi
Zona terdekat dengan Anda 4 - 6 detik ke depan. Pada zona ini, Anda harus dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada obyek di depan, jika tidak maka Anda berada dalam kesulitan.

Tabrakan depan-depan
Tabrakan depan dengan depan (frontal) atau disebut adu kambing adalah tabrakan yang mematikan. Ketika kecepatan kedua kendaraan yang berlawanan beradu kambing, maka hukum energi kinetik berlaku, yaitu ketika dua kecepatan berlawanan beradu, maka terjadi empat kali tenaga daya yang terjadi.

Jika kendaraan yang datang dari depan baru disadari pada zona analisa 12 - 15 detik, maka kurangi kecepatan dengan segera dan arahkan kendaraan ke arah bahu jalan (kiri), jangan menunggu sampai kecelakaan terjadi.

Jika masalah baru muncul pada zona aksi 4 - 6 detik di depan Anda, maka beraksilah segera untuk menghindar. Beri klakson/lampu jika masih punya waktu. Bagi kendaraan yang belum dilengkapi ABS, maka rem dengan keras (tajam), selanjutnya dengan cepat lepas rem (ingat teknik stab/squeeze). Kalau Anda melakukan pengereman yang tajam dengan lama, maka roda-roda akan terkunci dan slip. Hal ini mengakibatkan Anda tidak dapat/sulit mengontrol kendaraan Anda.

Panduan Dasar Defensive Driving ini sangatlah penting untuk dipahami, karena menyangkut keselamatan diri Anda dan orang lain. Wajib selalu diingat, Andalah awal dan penentunya. Have a nice defensive driving!!

sumber: beritaatpm.com

2 comments:

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP