SUMBER BERITAgambar
Sampai detik ini sebagian besar orang tidak peduli soal safety driving. Kalaupun tahu, mereka tidak mau tahu. Terbukti, kecelakaan lalu lintas berulang terjadi, dan kasusnya nyaris sama. Mobil terbalik, tabrakan, terbakar, ban pecah, tercebur sungai dan sebagainya.
Ulah pengguna jalan juga tak berubah. Sering dijumpai mereka ngebut secara sembrono, berbelok tanpa memberi tanda, menyalip tiba-tiba, mengerem mendadak dan sebagainya. Ini fakta sehari-hari dalam berlalu-lintas dan menjadi hal yang biasa. Padahal dampak yang diakibatkannya bisa merugikan diri sendiri atau orang lain.
Dalam konteks ini, PT Asuransi Astra menggelar acara “Drive Safe Day for Journalist,” pada Sabtu (19/1) di Jakarta. Program ini dibuat untuk memberi pemahaman bagaimana menguasai kendaraan dengan benar dan aman, dalam berbagai situasi yang terkadang membutuhkan respons seketika.
Salah satu sesi yang menarik adalah praktik. Di lapangan kantor pusat PT Asuransi Astra telah dibuat simulasi lintasan, di mana para peserta bisa mempraktikkan teknik mengerem dan cara menghindari tabrakan frontal. Betulkah rem bisa menghentikan laju mobil dan setir yang berfungsi membelokkan arah, bekerja sesuai keinginan kita?
Menurut Jusri Pulubuhu–Training Director dari Jakarta Devensive Driving Consulting (JDDC), dalam situasi panik, pengendara sering melakukan pengereman mendadak sambil membelokkan setir untuk menghindari tabrakan.Tapi yang terjadi justru kebalikannya.
Dalam situasi ini, rem sama sekali tidak berfungsi dan setir yang dibelokkan tidak juga mampu membelokkan arah mobil, sehingga tabrakan frontal tak bisa dihindari. Padahal kecepatan mobil tak lebih dari 60 km/jam. Para peserta di sesi ini dibuat takjub, sebab satu per satu menjajal adegan seru ini.
Mulai dari menginjak rem hingga objek yang akan ditabrak–yang berjarak hanya sekitar 20 meter– ternyata mobil tidak juga stop, bahkan melaju dan akhirnya menabrak “tembok” yang disusun dari balok-balok busa. “Bagaimana bisa, saya sudah mengerem dan membelokkan kemudi ke arah lain, mobil kok tetap nyelonong ya. Untung bukan tembok betulan,” celoteh M Lulut dari Majalah Autocar, menceritakan pengalamannya.
Oleh panitia, mobil tes sengaja tidak difungsikan fitur rem ABS (Antilock Braking System)–ini seperti kondisi sebenarnya--di mana umumnya kendaraan yang berseliweran di jalan raya tanpa disertai fitur tersebut. Hanya mobil dengan merek-merek tertentu atau mewah yang memiliki fitur tersebut.
“Artinya, mobil-mobil yang tidak disertai perangkat itu memang tidak aman sehingga kita harus mengatur jarak aman untuk menghindari tabrakan frontal. Kalau ada ABS pun, bukan jaminan bahwa kita akan aman, sebab faktor manusianya menentukan. Apakah dia cukup cekatan untuk melakukan manuver dalam tempo seper sekian detik secara akurat?” jelas Jusri.
Menurut Jusri, angka kematian yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas mencapai 36.000 orang per tahun di Indonesia. Penyebab utama adalah faktor manusia yang mencapai 90 persen. Celakanya, kesadaran untuk mengendarai secara aman belum menyentuh nurani pengguna jalan raya, khususnya di Indonesia sehingga sering terjadi pelanggaran lalu lintas yang bisa mencelakakan diri sendiri, bahkan orang lain.
Dalam kondisi ekstrem, nyawa pun melayang. Akibatnya, keluarga yang salah satu anggotanya tewas atau cacat seumur hidup karena kecelakaan, sangat mungkin bisa jatuh miskin, karena kehilangan tulang punggung ekonomi keluarganya. “Tinggal dikalikan dengan angka kematian setiap tahun maka bisa dihitung berapa besar pemiskinan yang terjadi. Jadi, slogan ingatlah keluarga menunggu di rumah itu, dibuat untuk dicermati karena maknanya dalam,” ujarnya

No comments:
Post a Comment