Tuesday, February 3, 2009

Perlu skill khusus tunggangi moge

SUMBER BERITA

Kecelakaan tidak hanya terjadi pada pengguna kendaraan roda dua biasa. Penunggang kuda besi besar alias motor gede (moge) pun banyak yang mengalami. Hal ini marak terjadi karena berkendara lebih didasarkan pada pengalaman, tanpa penguasaan skill yang cukup.

Tidak seperti kecelakaan motor yang jumlahnya dicatat hingga jutaan setahun, accident para pengguna moge tidak banyak diketahui publik, padahal kejadiannya juga tidak sedikit.

Hal ini terjadi karena komunitas pengguna motor besar ini berlatar belakang orang mapan dan punya jabatan. Kecelakaan yang merugikan diri sendiri ataupun korban orang lain, bagi kelompok ini tak pantas diekspos ke publik.

Jusri Pulubuhu, Direktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menyatakan negara ini tidak memiliki rekaman data yang valid terkait dengan jumlah kecelakaan yang melibatkan moge, tapi dia meyakini jumlahnya cukup besar.

Jika dirunut ke belakang, lanjutnya, tingginya angka kecelakaan di negara ini bermula pada praktik "abuse off policy." Ketentuan seseorang harus mengikuti sekolah mengemudi sebelum mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) tak pernah dipatuhi.

"Mengendarai moge itu tidak sama dengan motor biasa. Butuh skill dan trik untuk mengendalikannya," kata Jusri saat memberi arahan pada Riding Dynamic Course) bertajuk Ride Like A Master bagi komunitas Indonesian Bikers Society (IBS) 888, belum lama ini.

Berkendara tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga lingkungan di sekeliling. Sebuah kecelakaan terjadi tidak hanya akibat kelalaian pengendara, tapi justru bisa terjadi karena pihak lain melakukan kesalahan.

Tiga Faktor

Jusri menyebutkan tiga faktor yang harus dikuasai benar penunggang moge saat melintas di jalan raya, yaitu lintasan, kecepatan (speed), dan postur tubuh saat di atas motor.

"Ketiganya harus dijaga seproporsional mungkin. Butuh skill khusus untuk mengetahui kapan harus menambah kecepatan dengan memerhatikan lintasan yang sempit."

Riding position harus disesuaikan dengan posisi kendaraan dan gerak yang akan dilakukan dengan moge. Jika ini dilakukan, berkendara akan terasa lebih aman dan nyaman, termasuk saat menerapkan teknik belok, mengerem, ataupun saat mengangkat kendaraan yang terjatuh.

"Satu orang pun cukup menegakkan moge yang roboh," katanya seraya memberi contoh teknik yang memanfaatkan berat motor Honda Goldwing untuk menekan tenaga yang harus dikeluarkan.

Mengendarai motor berbobot 200 kg-300 kg ini memang akan memberi kesan gagah dan nyaman. Akan tetapi di balik itu bukan tidak mungkin justru bisa membahayakan diri atau bahkan orang lain, jika tak dibekali pengetahuan.

Belum lagi, akan menjadi sasaran sumpah serapah pengguna jalan akibat praktik berkendara yang ugal-ugalan dan arogan.

Jika hanya sekadar mengendarai, mungkin bukan persoalan yang terlalu sulit. Karena itu, tak ada salahnya pemilik moge membekali diri dengan skill khusus sehingga berkendara atau touring yang dilakukan tidak setiap hari ini bisa lebih aman dan nyaman. Baik buat diri sendiri maupun lingkungan. (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id)

No comments:

Post a Comment

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP