Wednesday, February 18, 2009

Lalu Lintas Jakarta di mata Ekspatriat

Pernah coba bertanya ke seorang pengemudi yang kebetulan warga asing (ekspatriat) tentang lalu lintas ibukota ? Pastinya cerminan buruk sampai juga ke mata mereka dimana jalan raya ibukota tidak sekalipun memberikan contoh baik dalam hal berlalu lintas. Ketiadaan etika, pemahaman aturan yang kurang hingga sifat egois para pengguna demi mencari cepatnya waktu untuk pulang dan pergi bekerja. Belum lagi ketidak siapan aparat lalu lintas dalam mengantisipasi membludaknya kendaraan dalam satu titik. Alhasil pemandangan kemacetan sudah boleh dibilang hal biasa di ibukota.

Pada satu dari 3 batch kelas pelatihan Defensive Driving di Weatherford Indonesia sebagian peserta adalah kaum ekspatriat. Bila ditinjau lebih dekat mereka sebenarnya sudah lebih dulu mengenal istilah Defensive Driving, harap maklum karena perolehan surat ijin mengemudi di negara mereka jauh lebih ketat ketimbang di Indonesia, notabene di sini hanya dengan berbekal uang saja sudah mampu mengantungi surat ijin mengemudi. Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) sebagai penyedia pelatihan berkendara lebih menekankan ke pembentukan behavior & habits sikap & kebiasaan berkendara untuk bisa 'survive' bergerak di ibukota.

Menyusul pelatihan-pelatihan kelas International yang telah ratusan kali diadakan oleh JDDC selama ini, maka kelas yang dipandu 3 instruktur berpengalaman dari JDDC banyak menyampaikan ragam tips tentunya dengan menggunakan bahasa Inggris , salah satunya saat peserta bertanya sekaligus heran kenapa sulit sekali pengendara ibukota memberikan jalan kepada kendaraan lain. Kebanyakan lebih memilih tidak memberikan jalan. Pada dasarnya warga negara Indonesia adalah pribadi yang santun. Bagaimana caranya agar kita yang meminta jalan lalu diberikan jalan oleh pengendara lain. Cukup buka kaca mobil dan lambaikan tangan dan lontarkan senyum ke pengemudi lain yang sedang dimintai jalan. Praktis cara tersebut terbilang efektif dan sudah banyak percobaan yang diterapkan berhasil dengan sukses. Cara ini terbilang lebih sopan ketimbang menutup rapat kaca kendaraan yang seolah mengisolasi pengemudi dari lingkungan luar.

Bagaimanapun sopan santun bisa diterapkan dimana saja, termasuk saat kita berkendara baik menggunakan roda empat maupun roda dua. Melalui cara inilah kita menerapkan usaha untuk mengantisipasi bahaya. Bahaya dalam arti mengantisipasi adanya benturan dua kendaraan yang tidak saling memberi jalan. Drive Smart !

No comments:

Post a Comment

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP