Showing posts with label defensive driving. Show all posts
Showing posts with label defensive driving. Show all posts

Friday, February 27, 2009

Defensive Driving for Ladies : Astra Credit Company

Apa yang terlintas di benak anda saat melihat seorang pengemudi wanita ? Meremehkan kemampuannya ? Menunggu waktu untuk menghindar atas potensi kecerobohannya ? Atau justru mengagumi kemampuan yang mungkin terlihat di atas rata-rata. Sayangnya apa yang terlihat di jalan seringkali para kaum hawa ini berani melakukan multitasking saat mengemudi. Entah memegang ponsel, menata rias wajah atau bahkan saling bercengkerama dengan penumpang di sebelahnya. Angka kecelakaan yang melibatkan unsur fatal memang banyak diisi oleh pengemudi pria, pengemudi wanita justru mengemuka pada kasus-kasus yang sebenarnya terhitung remeh yang berefek kecerobohan. Tak heran klaim asuransi memunculkan data lebih dari 50 % berisi klaim-klaim yang datang dari pengemudi wanita.

Sabtu (14/2) bertempat di gedung Astra Credit Company (ACC) di bilangan TB Simatupang Jakarta Selatan, pihak ACC menggelar satu hari training "Safety Driving for Ladies". Di bawah arahan Jusri Pulubuhu, trainer dan foounder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), para peserta wanita yang hadir terlihat serius bahkan mengkritisi juga membenarkan setiap isi materi yang diberikan. Pada isi materi trainer membeberkan data yang diambil dari penelitian seorang pemerhati 'Road Safety' Dr Leon James asal Hawaii USA, dalam tabel yang dibuat terlihat masing-masing pengemudi pria maupun wanita memiliki sumbangsih masing-masing terhadap fakta kecelakaan. Kecelakaan fatal lebih banyak di dominasi cara berkendara kaum adam sementara insiden-insiden kecil justru dominan datang dari kaum hawa.

Training satu hari ini berisi setengah hari kelas teori yang menekankan terhadap "Road Hazard Awareness", lalu jeda makan siang peserta melakukan praktek sederhana atas pengendalian mobil, salah satunya adalah parkir paralel. Di kelas praktek itu pula peserta diberikan materi cek kendaraan sebelum memulai berkendara atau yang lebih dikenal dengan pengecekan ala P.O.W.E.R yaitu Petrol - Oil - Water - Electricity dan Rubber. Di samping itu juga diperagakan posisi memegang kendali setir yang benar hingga penggunaan seatbelt dan kursi bayi dalam mobil. Peserta tak kurang dari 15 orang ini terbagi atas dua mobil yang telah disiapkan. Di akhir sesi peserta tampak cukup puas mencoba ragam transmisi kendaraan beserta pengetahuan di dalamnya. Hendaknya ini bisa jadi sebuah pegangan karena sebuah proses training berkendara adalah investasi bagi peserta.

Friday, February 20, 2009

Dr Leon James and Dr Driving

Membaca dan mempelajari data statistik kadar agresifitas antara pengemudi pria dan wanita melalui internet mengantarkan saya ke satu sosok pria yang belum pernah saya tau eksistensinya. Namanya Dr Leon James, seorang profesor psikologi asal Hawaii USA. Kelahiran (cek nanti). Apa yang membuat profil beliau menjadi lebih menarik ? Tidak lain kepeduliannya tentang area psikologi berkendara. Tentunya ini lebih dekat ke arah pengamatan ke si pengemudi kendaraan itu sendiri. Pernah dengar istilah "Dr Driving" ? Jika belum maka sosok Dr Leon James inilah yang berada di belakang layar tokoh Dr Driving.

Satu cerita menarik tentang Dr Leon James (Leon) sebelum beliau menekuni profesi seputar psikologi berkendara. Di hari minggu pagi yang indah di tahun 1982, selesai mengantar nenek dari istrinya (Dr Diane Nahl) tak diduga justru muncul keluhan atas perilaku buruk dirinya saat berkendara. "Leon is not a very good driver", begitu ucap sang nenek. Sontak Leon kaget dan mendesak kenapa sebutan itu bisa muncul. Jawaban yang diterima adalah mengenai buruknya Leon saat menikung. Sang nenek yang saat itu berusia 92 tahun tidak terima cara Leon menikung yang membuat terhempas ke pintu. Sang nenek mengeluhkan itu semua ke istri Leon. Leon sendiri menyebutnya bahwa itu adalah keluhan yang keterlaluan. "Pegangi saja pegangan pintu itu !", jawab Leon. Ternyata istrinya sendiri pun mengeluhkan soal yang sama soal perilaku berkendara Leon. Berubah lajur tanpa menengok, malas menyalakan sein saat hendak bermanuver selalu dilakukan Leon secara simulta, ini yang membuat sang istri, Diane juga merasa keselamatannya terancam.

Atas dasar keluhan-keluhan tersebutlah Dr Leon James sadar diri. Lalu Leon menemukan apa yang disebutnya "Partnership Driving". Di sisi lain Leon juga menemukan bentuk lain keberadaan teman di dalam dirinya sendiri. Muncul nama Dr Driving di benaknya. Inilah yang menyelamatkan pernikahan Leon, juga hidupnya, juga semangatnya. Ternyata sebelum mau berubah, Leon adalah seorang pengemudi yang individualis. Bergerak secara agresif, merasa selalu kompetitif dan oportunis termasuk perilaku 'mendekati' pejalan kaki saat mereka berjalan pelan, dan hal-hal lain yang mengancam keselamatan, baik diri sendiri dan orang lain. Leon merasa sudah cakap berkendara sampai-sampai teguran Diane tidak digubrisnya. Keteguhan hati Diane akhirnya memaksa Leon berbenah diri. Jadilah Leon saksi atas agresifitas cara berkendaranya sendiri. Leon lalu mulai menatapnya dari sisi psikologis, terlebih dia adalah seorang profesor psikologi. Modifikasi secara sistematis mulai dilakukannya, mulai dari merubah kepribadian, satu per satu, membangun sebuah identitas baru yang lebih modern, kompeten, bahagia serta lebih tenang.

Dr Driving semakin menunjukkan kepribadiannya di otak Leon, seolah seperti berbisik ketika Leon berkendara dan terus mengawasi pergerakannya. Lalu pelan-pelan Dr Driving mewujudkan beberapa efek sikap positif terhadap Leon saat berkendara seperti mengambil lebih sedikit resiko, memberikan hak jalan pengendara lain, menghormati aturan, berpikir cermat terhadap situasi lalu lintas serta peduli atas efek sebuah aksi saat berkendara. Jika meninggalkan Dr Driving maka kebiasaan lama bisa saja muncul mengemuka kembali, seperti mengemudi terlampau cepat, beresiko, selalu mencari celah dan kesempatan, sampai tindakan yang membuat emosi pengendara lain, penumpang sampai pejalan kaki.

Dr Driving hanyalah sebuah imajinasi dalam pikiran, kesadaran bawah sadar yang memberi kekuatan berubah kepada pemilik raga untuk melakukan modifikasi pada sikap berkendara mereka. Sebagai contoh jika pengemudi dalam keadaan tak beraturan dalam berkendara, tokoh imajinasi Dr Driving mereka akan mengambil alih dan memotivasi agar pengemudi kembali berlaku baik demi keselamatan.

Yah begitulah hasil pencarian saya tentang Dr Leon James dan tokoh nya Dr Driving. Soal statistik yang saya sempat tulis di awal artikel akan saya tulis di subject yang lain.

(Bersambung ... )

Wednesday, February 18, 2009

Lalu Lintas Jakarta di mata Ekspatriat

Pernah coba bertanya ke seorang pengemudi yang kebetulan warga asing (ekspatriat) tentang lalu lintas ibukota ? Pastinya cerminan buruk sampai juga ke mata mereka dimana jalan raya ibukota tidak sekalipun memberikan contoh baik dalam hal berlalu lintas. Ketiadaan etika, pemahaman aturan yang kurang hingga sifat egois para pengguna demi mencari cepatnya waktu untuk pulang dan pergi bekerja. Belum lagi ketidak siapan aparat lalu lintas dalam mengantisipasi membludaknya kendaraan dalam satu titik. Alhasil pemandangan kemacetan sudah boleh dibilang hal biasa di ibukota.

Pada satu dari 3 batch kelas pelatihan Defensive Driving di Weatherford Indonesia sebagian peserta adalah kaum ekspatriat. Bila ditinjau lebih dekat mereka sebenarnya sudah lebih dulu mengenal istilah Defensive Driving, harap maklum karena perolehan surat ijin mengemudi di negara mereka jauh lebih ketat ketimbang di Indonesia, notabene di sini hanya dengan berbekal uang saja sudah mampu mengantungi surat ijin mengemudi. Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) sebagai penyedia pelatihan berkendara lebih menekankan ke pembentukan behavior & habits sikap & kebiasaan berkendara untuk bisa 'survive' bergerak di ibukota.

Menyusul pelatihan-pelatihan kelas International yang telah ratusan kali diadakan oleh JDDC selama ini, maka kelas yang dipandu 3 instruktur berpengalaman dari JDDC banyak menyampaikan ragam tips tentunya dengan menggunakan bahasa Inggris , salah satunya saat peserta bertanya sekaligus heran kenapa sulit sekali pengendara ibukota memberikan jalan kepada kendaraan lain. Kebanyakan lebih memilih tidak memberikan jalan. Pada dasarnya warga negara Indonesia adalah pribadi yang santun. Bagaimana caranya agar kita yang meminta jalan lalu diberikan jalan oleh pengendara lain. Cukup buka kaca mobil dan lambaikan tangan dan lontarkan senyum ke pengemudi lain yang sedang dimintai jalan. Praktis cara tersebut terbilang efektif dan sudah banyak percobaan yang diterapkan berhasil dengan sukses. Cara ini terbilang lebih sopan ketimbang menutup rapat kaca kendaraan yang seolah mengisolasi pengemudi dari lingkungan luar.

Bagaimanapun sopan santun bisa diterapkan dimana saja, termasuk saat kita berkendara baik menggunakan roda empat maupun roda dua. Melalui cara inilah kita menerapkan usaha untuk mengantisipasi bahaya. Bahaya dalam arti mengantisipasi adanya benturan dua kendaraan yang tidak saling memberi jalan. Drive Smart !

Thursday, February 12, 2009

Driving Safety - Defensive Driving in a Dangerous World



Driving Safety - Defensive Driving in a Dangerous World is the most comprehensive general driving safety video currently available. This program was released by Black Mountain Safety & Health, Inc. on June 16th, 2006. If your trainees are tired of watching driving safety footage from the 1980's, and you're looking for a safety training tool with a fresh look then this is the program for you. Course content includes: Basic Vehicle Maintenance, Pre-Trip Preparation, Defensive Driving Tactics, Backing Safely, Hazardous Driving Conditions, and What to do in Emergencies.

Source :
http://www.safety-video-bmsh.com/Driving-Safety--Defensive-Driving-in-a-Dangerous-World_p_222-4404.html

Wednesday, February 11, 2009

Apa itu bahaya ?

Apa itu bahaya ? Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi menimbulkan kerusakan, kerugian dan kecelakaan. Jika disingkat definisinya bisa menjadi sesuatu yang merugikan. Dalam kelas Public Course Jakarta Defensive Driving Consulting hari Senin (9/1), terjabarkan beberapa kelompok gangguan berpotensi bahaya dalam lima bagian. Apa saja itu ?

1. Rute yang Asing. Ini mencakup bawaan pengemudi yang kerap terlihat bingung menyikapi situasi lalu lintas, mata kerap melihat rambu-rambu maupun nama jalan demi menghindari tersesat. Efeknya pengemudi bisa kehilangan konsentrasi pada situasi di depan kendaraannya sendiri.

2. Mental Problem. Bagian ini menyinggung masalah yang kerap dialami pengemudi dalam hal pekerjaan maupun rumah tangga.

3. Pandangan. Keberadaan kendaraan lain, billboard pinggir jalan maupun kecelakaan di sisi jalan kerap mengganggu konsentrasi. Bicara billboard atau papan reklame, seorang pengemudi truk di luar negri memenangi gugatannya terhadap pemilik papan iklan ketika ybs mengalami kecelakaan tunggal akibat melihat papan reklame besar, alhasil truk oleng dan jatuh di selokan jalan. Jaga pandangan aman.

4. Dari dalam kendaraan. Gangguan jenis ini datangnya bisa dari anggota keluarga lain di dalam kendaraan, binatang peliharaan atau situasi ketika obrolan hangat tengah terjadi. Disinilah potensi rusaknya konsentrasi dapat terjadi.

5. Tidak Terbiasa. Gangguan ini berupa situasi jika pengemudi berada di kendaraan berjenis lain di luar kebiasaan yang bisa menimbulkan adanya perbedaan kecepatan, dimensi, jenis transmisi sampai karakter kendaraan.

Pengelompokan gangguan ini belum seberapa besar karena belum menyentuh efek kesehatan pengemudi. Jadi bagaimana menyikapinya ? Atur manajemen resiko saat berkendara dan persiapkan segala sesuatunya ketika kita memutuskan masuk mengambil resiko. Karena resiko adalah konsekuensi saat kita mengambil tindakan. Drive Safely !

Monday, February 9, 2009

Jelasnya, 'setan' itu ada di mobil Anda!

SUMBER BERITA

Otomotif Online
- Setelah amblasnya beberapa ruas tol Cipularang, kini muncul kabar perlunya penutupan sementara penghubung Jakarta dan Bandung itu demi keselamatan dan keamanan pengguna jalan tol (Kompas, 6/12).

Namun terlepas dari kontroversi ditutup atau tidaknya jalan berpemandangan geulis (cantik, red) itu, pengguna jalan sebaiknya memperhatikan kecepatan, salah satu faktor penentu keselamatan melintas di ruas yang dikabarkan angker tersebut. Angker?

MENGALAMI 'HILANG'
Ya, kini beredar kabar berbau mistis. Bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan juga dari e-mail ke e-mail (bayangkan, di zaman internet begini). Di samping ada juga kiriman tips dan trik mengemudi di jalan tersebut.

Contohnya, ada yang menuturkan Om temannya (bukan orang pertama) sontak tak sadarkan diri dan memacu kencang Isuzu Panther di Km 72, empat hari pascalebaran. Setelah membentur trotoar mobil terbalik. Seorang pengemudi di belakang mengaku ia juga mengalami 'hilang' sebentar. Kecelakaan ini tak tercatat dalam di Info Tol PT Jasa Marga (JM).

Lalu ada pula kisah pengemudi yang dibuntuti dan disorot lampu high beam berkali-kali pada malam hari. Setelah minggir dan melongok spion, mobil di belakang masih juga memberi high beam. Hingga saat sang pengemudi melihat kembali ke depan, ternyata sudah ada truk di hadapannya. Sementara mobil pemberi lampu jauh tadi menghilang. Hiiy...

'SETAN' PENDORONG
Di balik kisah tadi, pengemudi mutlak harus menyadari kalau tol 59 kilometer ini berisi banyak tanjakan dan turunan. Diiringi tikungan kiri-kanan di akhir turunan plus jalan bergelombang.

Ingat, saat memasuki turunan, Anda bak masuk alam gaib. Salah satu faktor yakni mobil tiba-tiba mendapat dorongan ekstra yang makin besar sampai ke bawah. Lantas, di mana 'setan' pendorong itu bersembunyi?

Jelasnya, 'setan' itu ada di mobil Anda! Tetapi jangan takut, makhluk halus ini bernama inersia. Biar enggak ngeri kita namakan saja Si Ine. Ine, membesar seiring kecepatan mobil.

Pada mobil yang menurun, selain dari kecepatan, Ine juga mendapat energi potensial dari posisinya yang lebih tinggi dibanding ujung lintasan. Makin tinggi (makin curam jalan) maka energi potensial mobil juga makin besar.

Jika mau dihitung, energi tambahan ini merupakan pengurangan energi potensial gravitasi akibat sudut jalan. Gabungan inersia mobil - pada kecepatan awal - dan energi potensial inilah yang membuat kecepatan meningkat seiring membesarnya Ine.

Sekarang bayangkan, jika mobil Anda meluncur 140 km/jam di turunan menikung. Mengerem dalam kondisi trek bumpy (bergelombang) jelas lebih sulit ketimbang di jalan datar dan mulus. Sayangnya, tanpa dorongan ini, umumnya pengemudi sulit mematuhi kecepatan maksimal yang hanya 80 km/jam. Padahal, Zuhdi Saragih, kahumas JM menyatakan jika pengemudi berhati-hati dan mematuhi rambu-rambu yang ada, kemungkinan kecelakaan bisa dihindari.

GANGGUAN MENTAL
Dalam tinjauan safety driving, menyikapi potensi kecelakaan di tol Cipularang sebenarnya cuma ada satu kata kunci; hati-hati. Apalagi pemicu kecelakaan, sebenarnya bukan faktor nonsense, melainkan nyata. "Indikasinya, harus dirunut dari manusia, lingkungan, kendaraan dan cuaca," jelas Jusri Pulubuhu, presiden Jakarta Defensive Driving School (JDDC).

Faktor manusia perlu disadari sebagai pencipta problem. Jadi kalau enggak mau celaka, mengemudi harus sehat jasmani dan rohani. Kompetensi nyetir juga berdasar latihan. Lalu faktor lingkungan, perlu diperhatikan kondisi permukaan trek, elevasi tikungan, kepadatan lalu lintas, faktor yang berkaitan sama visibility dan keberadaan jalan (di atas gunung).

Penyebab insiden bisa berkaitan dengan pengalaman seseorang yang bisa memicu fatique atau keletihan. Hal ini bukan cuma akibat stamina melemah. Tetapi oleh faktor kejenuhan yang dihadapi pengemudi. Alhasil, begitu lewat trek panjang dan sepi, gampang berhalusinasi.

Kalau mau masuk akal, menuding faktor alam lebih bijak. Seperti diketahui di Cipularang ada beberapa titik yang melalui bukit atau lembah. Hal ini mempengaruhi tekanan angin dari kanan-kiri yang besar. "Akibatnya, mobil serasa bergeser ke samping (seakan mengalami aquaplaning, red)," beber Jusri. Acp, Mashim, Iday

Thursday, February 5, 2009

Beraksi di Ladang Pembantaian

SUMBER BERITA
gambar

Sampai detik ini sebagian besar orang tidak peduli soal safety driving. Kalaupun tahu, mereka tidak mau tahu. Terbukti, kecelakaan lalu lintas berulang terjadi, dan kasusnya nyaris sama. Mobil terbalik, tabrakan, terbakar, ban pecah, tercebur sungai dan sebagainya.
Ulah pengguna jalan juga tak berubah. Sering dijumpai mereka ngebut secara sembrono, berbelok tanpa memberi tanda, menyalip tiba-tiba, mengerem mendadak dan sebagainya. Ini fakta sehari-hari dalam berlalu-lintas dan menjadi hal yang biasa. Padahal dampak yang diakibatkannya bisa merugikan diri sendiri atau orang lain.

Dalam konteks ini, PT Asuransi Astra menggelar acara “Drive Safe Day for Journalist,” pada Sabtu (19/1) di Jakarta. Program ini dibuat untuk memberi pemahaman bagaimana menguasai kendaraan dengan benar dan aman, dalam berbagai situasi yang terkadang membutuhkan respons seketika.

Salah satu sesi yang menarik adalah praktik. Di lapangan kantor pusat PT Asuransi Astra telah dibuat simulasi lintasan, di mana para peserta bisa mempraktikkan teknik mengerem dan cara menghindari tabrakan frontal. Betulkah rem bisa menghentikan laju mobil dan setir yang berfungsi membelokkan arah, bekerja sesuai keinginan kita?

Menurut Jusri Pulubuhu–Training Director dari Jakarta Devensive Driving Consulting (JDDC), dalam situasi panik, pengendara sering melakukan pengereman mendadak sambil membelokkan setir untuk menghindari tabrakan.Tapi yang terjadi justru kebalikannya.

Dalam situasi ini, rem sama sekali tidak berfungsi dan setir yang dibelokkan tidak juga mampu membelokkan arah mobil, sehingga tabrakan frontal tak bisa dihindari. Padahal kecepatan mobil tak lebih dari 60 km/jam. Para peserta di sesi ini dibuat takjub, sebab satu per satu menjajal adegan seru ini.

Mulai dari menginjak rem hingga objek yang akan ditabrak–yang berjarak hanya sekitar 20 meter– ternyata mobil tidak juga stop, bahkan melaju dan akhirnya menabrak “tembok” yang disusun dari balok-balok busa. “Bagaimana bisa, saya sudah mengerem dan membelokkan kemudi ke arah lain, mobil kok tetap nyelonong ya. Untung bukan tembok betulan,” celoteh M Lulut dari Majalah Autocar, menceritakan pengalamannya.

Oleh panitia, mobil tes sengaja tidak difungsikan fitur rem ABS (Antilock Braking System)–ini seperti kondisi sebenarnya--di mana umumnya kendaraan yang berseliweran di jalan raya tanpa disertai fitur tersebut. Hanya mobil dengan merek-merek tertentu atau mewah yang memiliki fitur tersebut.

“Artinya, mobil-mobil yang tidak disertai perangkat itu memang tidak aman sehingga kita harus mengatur jarak aman untuk menghindari tabrakan frontal. Kalau ada ABS pun, bukan jaminan bahwa kita akan aman, sebab faktor manusianya menentukan. Apakah dia cukup cekatan untuk melakukan manuver dalam tempo seper sekian detik secara akurat?” jelas Jusri.

Menurut Jusri, angka kematian yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas mencapai 36.000 orang per tahun di Indonesia. Penyebab utama adalah faktor manusia yang mencapai 90 persen. Celakanya, kesadaran untuk mengendarai secara aman belum menyentuh nurani pengguna jalan raya, khususnya di Indonesia sehingga sering terjadi pelanggaran lalu lintas yang bisa mencelakakan diri sendiri, bahkan orang lain.

Dalam kondisi ekstrem, nyawa pun melayang. Akibatnya, keluarga yang salah satu anggotanya tewas atau cacat seumur hidup karena kecelakaan, sangat mungkin bisa jatuh miskin, karena kehilangan tulang punggung ekonomi keluarganya. “Tinggal dikalikan dengan angka kematian setiap tahun maka bisa dihitung berapa besar pemiskinan yang terjadi. Jadi, slogan ingatlah keluarga menunggu di rumah itu, dibuat untuk dicermati karena maknanya dalam,” ujarnya

Panduan Dasar Defensive Driving

SUMBER BERITA
gambar

- 40.000 ribu jiwa melayang setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia -

Demikian informasi yang BeritaATPM.com catat, saat mengikuti program Smart Driving Clicic (SDC) pada awal April 2007 lalu di kawasan Lido, Bogor. Data lainya yang kami catat melalui program tersebut, yaitu Indonesia berada di peringkat terburuk di Asia dalam hal berlalu lintas dan road safety. Dan menurut data tahun 2006 diinformasikan kerugian negara mencapai Rp. 100 trilyun akibat kecelakaan, seperti yang dikutip dari Jusri Pulubuhu, founder/training director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Di sisi lain, asuransi kecelakaan yang menyebabkan jiwa melayang pun tergolong sangat rendah dibanding negara tetangga. Asuransi kematian di Indonesia yang diambil dari polis pajak kendaraan hanya berkisar Rp. 10 juta/jiwa. Bandingkan dengan Singapura Rp. 3,6 milyar/jiwa dan Malaysia Rp. 2,4 milyar/jiwa. Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan menambah jumlah korban jiwa dengan kerugian yang sangat besar tersebut? Tanpa bermaksud menggurui, kami membawa 'oleh-oleh' dari pelatihan tersebut, yang mungkin bisa sangat membantu Anda untuk mengemudi dengan teknik beresiko rendah.

Mengemudi secara difensif diawali dengan perencanaan dan kemampuan yang matang. Setiap kali mengemudi, kita harus melakukannya seakan-akan jiwa kita tergantung pada cara kita mengemudi. Seorang pengemudi yang difensif harus mampu, secara sadar maupun spontan untuk melakukan tindakan-tindakan preventif dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, orang lain, properti, dan lingkungan terhadap potensi kerusakan/kerugian.

Ada tiga faktor kunci teknik mengemudi difensif. Pertama, pemahaman dan penguasaan bahaya dan resiko. Kedua, pemahaman dan penguasaan dasar-dasar kendaraan bermotor, dan ketiga, pemahaman dan penguasaan teknik mengemudi difensif. Faktor ketiga ini dibagi lagi dalam tiga sub, yaitu pemahaman dan penguasaan mengenai peraturan lalu lintas, pemahaman dan penguasaan teknik kebiasaan melihat, dan pemahaman dan penguasaan keterampilan emergensi.

Kebiasaan Observasi dan Melihat
Ada tiga konsep dalam mengemudi difensif versi JDDC, yaitu pandangan aman, lingkaran aman, dan diikat dengan 'sikap'. Dengan mempunyai pandangan aman, kita dapat mengenali sesuatu lebih awal, menjadi lebih waspada, mempunyai waktu untuk mengambil keputusan, waktu yang cukup untuk menghindari sesuatu tersebut, dan terhindar dari pergerakan tiba-tiba dan pengereman tajam.

Melalui pandangan aman, kita dapat menciptakan lingkaran aman/lingkaran imajinasi. Karena mengemudi kendaraan bermotor merupakan kegiatan yang dinamis, dengan situasi yang selalu berubah, maka kita harus selalu menjaga pandangan dan memelihara ruang aman untuk setiap pergerakan. Usahakan menstimulasi mata ke kanan dan ke kiri setiap dua detik.

Bahaya
Berdasarkan studi JDDC, faktor manusia menempati porsi tertinggi dari suatu kecelakaan kendaraan bermotor. Beberapa faktor tersebut disebabkan diantaranya tidak fokus, kurang terampil, serta lemahnya pengkajian resiko. Kurang terampil meliputi ketidaktahuan pengemudi terhadap fungsi-fungsi alat-alat kontrol, termasuk dalam hal rem dan cara pengoperasiannya.

Bahaya adalah suatu obyek, kondisi fisik atau pengaruh fisik yang mempunyai potensi untuk menyebabkan suatu kehilangan, kerusakan, kehancuran, kerugian, bahkan lebih jauh lagi, kematian. Jalan raya adalah suatu tempat berkumpulnya segala macam bahaya, mulai dari pejalan kaki, pengendara, kendaraan bermotor, kepadatan pemakai jalan, kondisi permukaan jalan, hingga ditambah masalah cuaca.

Adalah tindakan bijaksana bila kita paham akan bahaya dan mengambil suatu sikap dalam merespon bahaya-bahaya tersebut dengan suatu sistem preventif, agar resiko dapat dihindari atau setidaknya diminimalisir.

5 Kategori Gangguan

Pertama, Rute.
- Mencari-cari arah petunjuk jalan,
- Berada di jalan padat dan sempit sambil mencari tanda-tanda petunjuk,
- Memasuki suatu kawasan asing.

Kedua, Mental.
- Sedang marah, atau gangguan pikiran lain,
- Ekonomi, pekerjaan,
- Sedang sangat gembira, sedih.

Ketiga, Pandangan.
- Bisa terjadi terhadap sesuatu yang menarik di pinggir jalan,
- Billboard,
- Mobil yang mewah dan hebat.

Keempat, Dari Kendaraan.
- Bunyi-bunyi yang aneh tiba-tiba dari kendaraan kita, atau
- Sesuatu yang dibicarakan oleh penumpang.

Kelima, Tidak Terbiasa
- Mengemudi kendaraan yang lain,
- Kecepatan tidak terbiasa,
- Kondisi lalu lintas yang berbeda.

Metode Sederhana Pemeriksaan Pra Perjalanan
Mengelilingi kendaraan untuk mengecek bagian luar kendaraan, misalnya bodi kendaraan, bagian kolong kendaraan, kondisi roda, kebersihan kaca, serta plat nomor kendaraan. Selanjutnya memeriksan bagian mesin kendaraan, berikut pengecekan lampu-lampu dan indikator. Lalu diteruskan pengecekan kondisi sabuk pengaman dan alat keselamatan lainnya.

JDDC memberi satu simbol kata untuk hal ini, yaitu BALOK, yang merupakan singkatan dari B (ban, bodi kendaraan), A untuk air (radiator, aki, wiper), L untuk listrik (lampu-lampu, klakson), O untuk olie (mesin, power steering, rem, transmisi otomatik), dan K untuk karet/kabel (fan belt, selang-selang), Kertas (SIM, STNK, KTP, dll).

Pengenalan Kendaraan
Disamping itu, pengenalan dan pemahaman akan kendaraan menjadi bagian penting lainnya, yang mencakup 3 kelompok, yaitu: (1) Indikator kontrol, meliputi indikator air, oli, aki, putaran mesin, temperatur, dan tekanan. Sementara (2) fisik kendaraan, meliputi track base (jarak lebar roda), wheelbase (jarak sumbu roda), radius putar, dan tinggi kendaraan. Sementara (3) karakter kendaraan, diantaranya sudut steer (roda kemudi), rem, dan tenaga. Sudut steer (roda kemudi), dilakukan dengan pergerakan ke kiri dan ke kanan saat kita mulai pergerakan. Lakukan ini di area yang aman dengan kecepatan yang pelan. Dengan demikian kita akan segera tahu kemampuan dan kondisi putar dari kendaraan tersebut.

Pengereman dan Fungsi Rem
Mengenai karakter rem, sebaiknya kita melakukan penginjakan pedal rem, dari halus sampai yang paling dalam sehingga kita mengerti karakter dan sensitivitas dari rem tersebut. Tindakan harus dilakukan di area aman, dengan demikian kita dapat menghindari kepanikan ketika harus melakukan pengereman tiba-tiba.

Umumnya pada sebuah kecelakaan kendaraan bermotor, rem dijadikan alasan utama. Misalnya rem kendaraan tidak bekerja maksimal atau jarak pengereman terlalu panjang. Beberapa pembalap bahkan mengatakan, dari keseluruhan tugas pengemudi yang paling berat adalah pengereman dengan benar. Dan ilmu mengemudi difensif akhirnya bermuara pada bagaimana mengoperasikan rem dengan benar. Pengoperasian rem dengan benar dan sesuai kemampuan akan memperkecil peluang pengemudi terlibat kecelakaan.

Jangan menginjak pedal kopling pada saat melakukan pengereman.

Jarak berhenti kendaraan akan sangat dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:
  • Manusia; kondisi fisik, umur, mental dari pengemudi
  • Kecepatan; semakin cepat laju kendaraan, semakin besar daya kinetik yang terjadi, dan ini akan membuat jarak pengereman menjadi lebih panjang.
  • Kondisi ban; permukaan ban yang baik tidak kurang dari 2mm akan membuat traksi/cengkeraman roda menjadi maksimal ketika pengereman berlangsung.
  • Cuaca; cuaca panas pada permukaan aspal akan membuat cengkeraman roda berkurang saat dilakukan pengereman.
  • Lintasan; lintasan gravel, basah, dan berpasir ikut memberikan jarak berhenti yang panjang dibandingkan permukaan tanah kering/aspal.
  • Bobot kendaraan; semakin berat beban dari sebuah kendaraan akan memberikan daya kinetik/dorong yang besar kepada kendaraan tersebut. Dengan demikian jarak berhenti kendaraan semakin panjang.
Ada dua fase reaksi di sini. Fase pertama, reaksi manusia, yaitu pengemudi memerlukan waktu untuk mengobservasi sebelum memutuskan tindakan dan akhirnya bereaksi. Selama masa observasi, kendaraan tetap bergerak dan pengemudi belum melakukan tindakan apa-apa. Fase kedua, yaitu reaksi mekanikal, di mana roda tidak langsung aktif seketika saat merespon reaksi pengemudi.

Jika kendaraan kita masih menggunakan tromol dan belum dilengkapi ABS, maka ada baiknya kita mempelajari teknik pengereman stab dan squeeze. Kedua teknik ini dibutuhkan saat kondisi darurat. Teknik stab yaitu pompa pedal rem sampai terkunci, kemudian lepas, dan tekan lagi. Sementara teknik squeeze, yaitu pompa pedal rem, tekan, lepas, tekan.

Blind Spot
Perlu disadari bidang pandang di spion tetap lebih terbatas dibanding dengan melihat langsung. Untuk itu kaca spion adalah langkah pertama untuk melihat sisi yang dituju. Langkah berikutnya adalah mengaktifkan lampu sein, menyempatkan menoleh langsung, baru kita beraksi, pindah jalur misalnya.

Kaca spion adalah 'Alat Bantu' Melihat!!

Blind spot adalah suatu bidang pandang yang tidak terlihat akibat terhalang oleh sesuatu obyek. Di Amerika Serikat dikabarkan lebih dari 600.000 kasus pindah jalur mengundang kecelakaan setiap tahunnya. Dan 60 % dari jumlah pengemudi tersebut umumnya mengaku tidak melihat kendaraan lain.
Selalu amati kaca spion Anda (aturan 5 - 8 detik!)

Menikung dan Olah Kemudi
Dalam mengemudi difensif, metoda tangan di arah jarum jam 10 - 2 atau 9 - 3, dengan teknik menggerakkan stir 'tarik dan dorong' (pull & push), sehingga kedua tangan tidak pernah berada di dalam lingkaran setang kemudi, termasuk jempol Anda. Khusus untuk setang kemudi yang telah dilengkapi bantalan udara (airbag), maka posisi tangan sangat dianjurkan pada posisi 9 - 3.

Pada dasarnya ketika kendaraan sedang bergerak, maka kestabilan kendaraan telah berkurang. Ini menyebabkan traksi roda pada permukaan lintasan ikut berkurang. Olehnya saat menikung, pengemudi harus memfokuskan cara mengemudinya pada dua faktor, yaitu kecepatan dan lintasan. Kecepatan yang berlebihan dan sudut radius yang besar akan memperbesar daya sentrifugal dan mengurangi traksi roda ke permukaan jalan. Sementara mengerem, memindahkan transmisi, dan mengubah kecepatan dengan tiba-tiba membuat kestabilan kendaraan akan berkurang dan memperbesar daya sentrifugal.

Pandangan Aman

Zona Melihat
Zona paling jauh di mana kita melihat bahaya dari awal 30 - 120 detik ke depan, tetapi tidak jelas. Kita mempunyai waktu yang cukup untuk bermanuver dengan halus dan aman.

Zona Analisa
Zona antara 12 - 25 detik di hadapan kita. Pada zona ini bahaya baru bisa terlihat jelas. Pada saat inilah kita baru bisa menganalisa dan mengambil keputusan. Coba ambil satu titik target di hadapan Anda yang berjarak 15 detik ke depan, dengan cara ini Anda akan mengemudi dengan lurus. Apabila kurang dari jarak itu, Anda akan mengemudi dengan meliuk-liuk, ke kiri dan ke kanan, dan menyulitkan pengendara di belakang Anda (ini disebabkan karena jarak Anda terlalu dekat).

Zona Beraksi
Zona terdekat dengan Anda 4 - 6 detik ke depan. Pada zona ini, Anda harus dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada obyek di depan, jika tidak maka Anda berada dalam kesulitan.

Tabrakan depan-depan
Tabrakan depan dengan depan (frontal) atau disebut adu kambing adalah tabrakan yang mematikan. Ketika kecepatan kedua kendaraan yang berlawanan beradu kambing, maka hukum energi kinetik berlaku, yaitu ketika dua kecepatan berlawanan beradu, maka terjadi empat kali tenaga daya yang terjadi.

Jika kendaraan yang datang dari depan baru disadari pada zona analisa 12 - 15 detik, maka kurangi kecepatan dengan segera dan arahkan kendaraan ke arah bahu jalan (kiri), jangan menunggu sampai kecelakaan terjadi.

Jika masalah baru muncul pada zona aksi 4 - 6 detik di depan Anda, maka beraksilah segera untuk menghindar. Beri klakson/lampu jika masih punya waktu. Bagi kendaraan yang belum dilengkapi ABS, maka rem dengan keras (tajam), selanjutnya dengan cepat lepas rem (ingat teknik stab/squeeze). Kalau Anda melakukan pengereman yang tajam dengan lama, maka roda-roda akan terkunci dan slip. Hal ini mengakibatkan Anda tidak dapat/sulit mengontrol kendaraan Anda.

Panduan Dasar Defensive Driving ini sangatlah penting untuk dipahami, karena menyangkut keselamatan diri Anda dan orang lain. Wajib selalu diingat, Andalah awal dan penentunya. Have a nice defensive driving!!

sumber: beritaatpm.com

Wednesday, February 4, 2009

Mengendarai Mobil Saat Banjir

SUMBER BERITA

Musim banjir tiba. Perlu perhatian khusus saat Anda mengendarai dan merawat kendaraan bermotor. Salah-salah, kendaraan bisa rusak parah dan jiwa terancam.

Menurut pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, ada tiga risiko utama saat jalan tergenang air, yakni macet, mogok, dan kecelakaan. Untuk menghindari kerugian akibat tiga hal itu, perlu antisipasi dini.

Antisipasi dimulai dari pengenalan medan tempat Anda biasa beraktivitas. Kalau bisa, jauh hari sebelum hujan, kumpulkan informasi mengenai lingkungan Anda, mulai dari rumah, kantor, pusat perbelanjaan, dan akses jalan yang menghubungkan tempat-tempat tersebut.

Identifikasi setiap kondisi yang bisa menimbulkan genangan air dan banjir, seperti sungai, cekungan, pintu air, bendungan, dan tampungan air seperti rawa, empang, tambak, dan sawah. Saat hujan turun, hafalkan akibatnya terhadap jalan, seperti di mana muncul genangan air, kerusakan jalan, dan titik-titik kemacetan.

Setelah itu, buat rencana perjalanan. Monitor kondisi terakhir rute yang akan dilalui melalui radio, televisi, atau internet. Siapkan rute-rute alternatif.

Kenali kendaraan

Kenali betul kendaraan yang Anda digunakan. Banyak mobil dan sepeda motor mogok atau mengalami kecelakaan saat banjir karena pemiliknya tak tahu spesifikasi kendaraan. Kenali tipe kendaraan, jenisnya, tipe mesin, hingga letak dan fungsi bagian-bagian yang rawan terkena air.

"Jenis mobil yang berbeda memiliki antisipasi berbeda pula. Mobil bensin berbeda dengan diesel misalnya," ucap Jusri.

Langkah selanjutnya, persiapkan kendaraan untuk melalui medan basah. Lindungi bagian kelistrikan yang tak boleh kena air, seperti distributor, koil, busi, dan ECU (electronic control unit).

"Periksa kondisi kabel dan sambungannya, jangan sampai ada yang terbuka atau lecet karena bisa korsleting. Semprot bagian-bagian rawan itu dengan insulator anti-air," katanya.

Pastikan ban memiliki alur-alur pembuang air cukup besar dan dalam kondisi bagus. "Alur-alur ban berfungsi membuang air di antara ban dan permukaan jalan sehingga ban masih mencengkeram jalan. Pastikan kedalaman alurnya tak kurang dari dua milimeter," ujar mantan pembalap ini.

Tak kalah penting memeriksa kondisi wiper, AC, dan pemanas kaca belakang (defogger). Ini berkaitan dengan daya pandang pengemudi. Karet wiper sebaiknya ganti setiap dua tahun karena karet yang lelah (fatigue) dan keras tak menghapus air dengan sempurna. AC yang tak beres menimbulkan embun pada kaca. Sementara defogger berfungsi memanaskan kaca belakang agar tak muncul embun.

Jangan memaksakan

Saat bertemu genangan air, perhatikan lintasan di depan sebelum menerjang air. Ukur kedalaman air dan perkirakan kondisi jalan. Dalam kondisi tertutup air, Anda tak tahu apakah kondisi jalan mulus atau berlubang.

"Jika ada mobil di depan, bisa diukur seberapa dalam genangan air. Kalau tak ada kendaraan di depan, lebih baik Anda turun dan lakukan pengecekan langsung," tuturnya.

Jika genangan terlalu dalam, jangan memaksa melewatinya. Putar balik kendaraan atau jika tak mungkin, matikan mesin dan dorong kendaraan pada posisi aman di pinggir jalan, kunci rapat, dan tinggalkan. Nyawa Anda lebih berharga dari mobil semewah apa pun.

"Jangan lupa, usahakan melepas ECU sebelum meninggalkan mobil dan simpan di tempat kering," kata Jusri.

Bila genangan masih mungkin dilewati, kemudikan mobil dengan ekstra hati-hati. Untuk menghindari mogok, jaga putaran mesin konstan. M Taqwa, mekanik bengkel Gardenspeed, mengingatkan mitos yang menyatakan saat menerjang air putaran mesin harus tinggi.

"Padahal makin tinggi putaran bisa terjadi water hammer. Injak gas seperlunya, cukup untuk membuat mobil bergerak," ucapnya.

Masukkan persneling pada gigi paling rendah (gigi 1 pada mobil transmisi manual, posisi L atau S pada transmisi otomatis), matikan sementara semua perangkat yang membebani kerja mesin, seperti AC dan sistem audio, buka kaca jendela, lalu jalan pelan-pelan. Jaga jarak mobil Anda dengan kendaraan di depan.

Bila mesin mati di tengah banjir, jangan mencoba menghidupkan kembali. Segera netralkan persneling, lepas kabel negatif dari aki mobil untuk menghindari korsleting, dan dorong mobil ke pinggir untuk memberi jalan kendaraan di belakang. Setelah itu, dorong mobil ke tempat aman dan kering.

Begitu memungkinkan, periksa dan keringkan seluruh komponen sistem pengapian dan kelistrikan mesin mobil. Periksa juga filter udara, kondisi oli mesin, dan oli transmisi. Jika bagian-bagian tersebut sudah tercampur air, jangan mencoba menghidupkan mesin mobil (oli yang tercampur air berwarna coklat encer seperti kopi susu). Telepon mobil derek untuk menarik mobil Anda ke bengkel terdekat. (DAHONO FITRIANTO)

Tuesday, February 3, 2009

Cara - Cara Mengemudi Dengan Bijak

SUMBER BERITA

MENURUT Jusri Pulubuhu ada beberapa teknik dasar mengemudi supaya konsumsi bahan bakar efisien. Teknik-teknik yang dijelaskan di sini adalah teknik mengemudi mobil, tetapi pada prinsipnya dapat diterapkan pula saat Anda mengendarai sepeda motor.

1. Bagi pengguna mobil bermesin bensin dan bertransmisi manual, pindahlah gigi pada kisaran putaran mesin 2.500-2.800 rpm (rotation per minute). Sementara untuk mesin diesel pada kisaran 2.000 rpm. Lebih dari itu, konsumsi bahan bakar akan bertambah, sementara di bawah itu mesin cenderung akan ngelitik (knocking) karena pembakaran tidak sempurna. Ini artinya bahan bakar terbuang percuma.

Angka-angka itu berlaku untuk mobil empat silinder dengan perbandingan gigi transmisi (gear ratio) tertentu. Untuk mobil enam silinder dan gear ratio yang berbeda, putaran mesin paling efisien bisa berbeda.

2. Kemudikanlah mobil dengan halus, dan usahakan dengan kecepatan konstan. Data teknis yang dimiliki Jusri menunjukkan, saat mobil berjalan dengan kecepatan konstan 50km per jam, daya yang dikeluarkan mesin hanya 5 kilowatt (kW). Sementara pada kecepatan 120 km per jam, daya yang dikeluarkan menjadi 25 kW.

"Hindari memindah persneling dengan tergesa-gesa dan melepas kopling mendadak, karena putaran mesin akan melonjak tiba-tiba dan konsumsi BBM meningkat. Pindahlah gigi dengan smooth," saran Jusri.

3. Saat menghidupkan mesin, matikan semua sistem elektrikal, seperti AC, lampu, dan sistem audio, karena semua ini akan membebani kerja mesin. Usahakan menghidupkan mesin hanya sekali, karena menghidupkan berulang-ulang akan membuang bahan bakar. "Jangan injak gas saat start, injak gas saat mobil sudah mulai bergerak sedikit," tambahnya.

4. Jangan terlalu lama memanaskan mesin pada pagi hari. Tujuan pemanasan mesin adalah menunggu oli bersirkulasi sehingga melumasi bagian mesin secara sempurna, bukan benar-benar untuk membuat mesin jadi panas. "Cukup 2-3 menit oli sudah bersirkulasi dengan baik. Jangan sampai lebih dari 5 menit, karena itu pemborosan BBM," ujar Jusri.

5. Pada saat terjebak macet dan mobil tak bergerak lebih dari satu menit, lebih baik mesin dimatikan. Hindari juga menginjak rem atau gas secara mendadak. "Untuk menghindari rem mendadak, pandangan pengemudi harus jauh ke depan dan siap mengantisipasi kemungkinan bahaya apa pun," lanjut pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) tersebut.

6. Perhatikan aerodinamika mobil. Mobil kotor dan beberapa aksesori mobil seperti rak barang di atap bisa menambah hambatan udara yang berarti menambah kerja mesin dan memboroskan BBM

Peranti Keselamatan yang Bisa Membahayakan

SUMBER BERITA

Satu anak bernama Abdul Rizal (3,5) tewas kehabisan udara, temannya, Jaka Saputra (5), ditemukan dalam keadaan kritis.

Terlepas dari masih misteriusnya bagaimana kedua anak tersebut bisa masuk ke dalam mobil yang terkunci, kejadian itu mengingatkan orang bahwa mobil bukanlah mainan yang bisa diperlakukan sembarangan.

Sayangnya, banyak pemilik dan pengguna mobil di Indonesia yang tidak mengenal mobil dan berbagai perlengkapan di dalamnya. Karena itu, jangankan menggunakan perlengkapan dengan benar, bahkan fungsinya pun masih banyak yang belum diketahui.

”Padahal, saat seseorang tidak tahu bagaimana menggunakan sebuah fitur safety dengan benar, fitur itu justru bisa membahayakan,” kata Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting.

Dalam kaitannya dengan keselamatan berkendara untuk anak-anak, Jusri mengatakan, banyak perangkat keselamatan mobil yang dapat sangat berbahaya bagi anak-anak, bahkan bisa berakibat fatal.

”Jangan dikira mobil hanya berisiko bahaya saat berjalan, dalam kondisi berhenti pun bisa menimbulkan risiko,” tuturnya.

Salah satu perangkat keselamatan yang khusus dibuat untuk melindungi anak kecil dalam mobil adalah kunci anak atau child lock. Pada saat kunci ini diaktifkan, pintu belakang tidak bisa dibuka dari dalam, bahkan dalam keadaan kunci utama tidak terkunci.

Kunci tambahan yang terletak di dinding pintu belakang mobil ini berfungsi mencegah anak kecil membuka pintu saat mobil berjalan. Masalah bisa timbul saat pemilik mobil atau pengemudi lupa menon-aktifkan kunci ini saat meninggalkan mobil.

”Kalau masih ada anak di dalam, dia akan terkunci. Sementara anak mungkin tidak terpikir untuk membuka pintu depan,” lanjut Jusri yang bergerak di bidang konsultan perilaku mengemudi sejak tahun 1984 ini.

Terkuncinya anak dalam mobil yang berhenti bisa membawa serangkaian risiko, bahkan mengakibatkan kematian pada anak. Mobil yang tertutup rapat pintu dan jendelanya dapat dikatakan menjadi ruang tanpa ventilasi udara.

Selain itu, bila mobil diparkir di bawah sinar matahari, suhu di dalam mobil menjadi sangat panas. ”Semua itu membawa dampak fatal pada manusia, terutama anak kecil,” ujarnya.

Bahkan, seandainya mesin dan sistem pendingin udara (AC) dalam kondisi menyala, risiko bahaya tetap ada. Bila terjadi kebocoran pada dinding mobil, gas beracun yang keluar dari knalpot akan masuk ke kabin mobil dan berputar-putar tanpa ventilasi.

”Gas CO dan CO2 dari knalpot sifatnya sangat beracun,” ungkap Jusri sambil menambahkan, pernah terjadi orang keracunan meski mobil dalam kondisi berjalan dengan AC menyala.

Untuk itu, Jusri menyarankan pemakai mobil yang relatif sudah berumur dan menunjukkan mulai ada kebocoran agar membuka kaca jendela sedikit meski AC dinyalakan. ”Bukalah kaca jendela sedikit, selebar satu sentimeter. Ini cukup untuk sirkulasi udara,” katanya.

Selain itu, saat melakukan perjalanan panjang, beristirahatlah secara rutin. Saat mobil berhenti, bukalah pintu dan jendela selebar-lebarnya untuk memberi kesempatan pertukaran udara.

”Disarankan setelah tiga jam pertama perjalanan, harus beristirahat. Selain untuk mengembalikan kondisi pengemudi, juga untuk sirkulasi udara,” papar Jusri.

Namun, di atas segalanya, Jusri menegaskan, aturan dasar mencegah kecelakaan terhadap anak dalam mobil adalah jangan pernah membiarkan anak berada sendirian di dalam mobil.

”Saya tegaskan, jangan pernah meninggalkan anak sendirian tanpa pengawasan orang dewasa di dalam mobil. Meski untuk waktu singkat, misalnya mengambil uang di ATM atau ke mal,” tandasnya.

Sabuk pengaman
Peranti keselamatan lain dalam mobil yang bisa menimbulkan risiko adalah sabuk pengaman atau sabuk keselamatan.

Peranti ini sangat penting dan harus dipakai pengemudi dan penumpang untuk menghindari cedera berat pada saat mobil membentur atau menabrak sesuatu.

Akan tetapi, bila penggunaannya tak benar, alat tersebut dapat membahayakan pemakai, terutama anak-anak. ”Sabuk pengaman mobil didesain untuk orang dewasa dengan postur tubuh tertentu. Secara umum, desain sabuk pengaman standar memang tak cocok untuk anak-anak,” tutur Jusri.

Ketinggian sabuk pengaman tak sesuai dengan postur anak kecil. Bila dipaksakan, sabuk pengaman akan melintang di leher anak. Jika terjadi benturan, sabuk tersebut justru akan mencekik si anak.

”Oleh sebab itu, anak bertinggi badan di bawah 120 sentimeter harus dilengkapi dengan kursi penopang atau booster seat. Dia harus duduk di kursi belakang,” katanya.

Tujuan booster seat , agar posisi duduk anak sama tinggi dengan orang dewasa sehingga sabuk pengaman terpasang pada posisi yang benar dan tak berbahaya. Jusri mengungkapkan aturan 3R saat mengenakan sabuk pengaman, yakni rapat, rata, dan rendah.

”Rapat artinya sabuk terpasang pas di tubuh, jangan terlalu kencang jangan terlalu longgar. Rata maksudnya sabuk jangan dipakai dalam kondisi terlipat-lipat. Sedangkan rendah artinya sabuk harus dipakai di bawah pusar, tepat di pinggul. Kalau sabuk dipakai di atas pusar, dapat membahayakan perut saat terjadi benturan,” paparnya.

Jusri juga mengingatkan agar para ibu tidak mengenakan sabuk pengaman bersama anak yang dipangku. ”Sangat berbahaya mengenakan sabuk pengaman untuk berdua. Si anak yang dipangku bisa terjepit dan tercekik,” lanjutnya.

Dengan segala risiko tersebut, sabuk pengaman adalah peranti keselamatan vital yang wajib dipakai pengendara dan penumpang mobil. ”Bahkan ibu hamil pun harus tetap memakai sabuk pengaman!” ucapnya.

Selalu Baca Buku Manual
Setiap mobil, seperti produk teknologi tinggi lainnya, selalu dilengkapi buku petunjuk pemakaian untuk pemilik.

Di dalam buku owner’s manual—sehingga sering disebut buku manual—ditulis keterangan lengkap mengenai mobil bersangkutan, mulai dari spesifikasi, kelengkapan fitur di dalamnya, hingga cara penggunaan dan perawatan.

Diharapkan dengan membaca buku manual tersebut, pemilik/pengemudi mobil bisa mengenal mobil dan menggunakannya seoptimal mungkin. Sayangnya, sebagian besar pengguna mobil di Indonesia masih menganggap buku itu tak berguna.

”Padahal di dalamnya terdapat semua informasi penting yang diperlukan pemilik mobil, termasuk fitur-fitur keselamatan dan cara penggunaannya. Dengan perkembangan teknologi yang terus maju, selalu ada fitur baru dalam setiap mobil baru,” kata Jusri Pulubuhu dari JDDC.

Salah satu bukti rendahnya kesadaran orang membaca buku manual adalah saat jual beli mobil bekas, biasanya buku manual ini tak disertakan. Akibatnya, banyak orang tidak mengenal berbagai fitur keselamatan dalam mobilnya, bahkan fitur-fitur yang paling sederhana sekalipun.

Beberapa fitur keselamatan yang menjadi perlengkapan standar mobil antara lain:

1. Sandaran kepala atau head restrain (head rest). Banyak yang beranggapan sandaran kepala ini sekadar perlengkapan untuk kenyamanan pengemudi dan penumpang mobil. Padahal, peranti ini berguna untuk meredam gerakan kepala saat terjadi gerakan mendadak, karena tabrakan dari belakang. Selalu pasang head rest dengan ketinggian sejajar dengan posisi telinga dan mata. ”Tanpa head rest atau ketinggiannya di bawah garis mata dan telinga, akan terjadi risiko cedera berat pada tulang leher saat terjadi benturan dari belakang,” ujar Jusri.

2. Kantung udara atau airbag. Peranti ini berfungsi melindungi penumpang dari benturan dengan bagian mobil yang keras dan tajam, seperti dasbor atau dinding logam. Ada mitos kalau ada airbag, pengemudi/penumpang tak perlu mengenakan sabuk pengaman. Mitos ini salah besar, sabuk pengaman harus dikenakan kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun, saat mobil berjalan. ”Tanpa sabuk pengaman, airbag justru bisa melukai,” tutur Jusri.

3. Kunci pintu mobil. Mobil-mobil terbaru terus meningkatkan sistem pengamanannya. Beberapa merek mobil menerapkan sistem kunci otomatis yang bertujuan menjebak pencuri di dalam mobil. Bacalah buku manual untuk petunjuk penggunaannya guna mencegah Anda sendiri yang terjebak di dalam mobil. (DAHONO FITRIANTO)

Kualitas Mengemudi Pemicu Kecelakaan

SUMBER BERITA

Ganesha Aditama
-INILAH.COM, Jakarta - Kasus kecelakaan mobil melompat dari atas gedung parkir hendaknya bisa menjadi renungan para pengemudi. Ingatlah bahwa kejadian ini bisa menimpa siapa pun dengan mobil secanggih apapun.

Sesungguhnya inilah peringatan bagi sebagian orang yang menganggap mengemudi merupakan aktifitas mudah dan tidak memerlukan keseriusan.

Jusri Pulubuhu, Direktur Training, Jakarta Defensif Driving Consulting (JDDC), mengungkapkan 1,4 juta orang di seluruh dunia tewas di jalan akibat kecelakaan kendaraan bermotor.

Jumlah kematian setinggi itu, menurut Jusri, melebihi angka korban perang di jaman modern selama setahun.

Jusri memaparkan sebagian besar korban kecelakaan di dunia melibatkan kelompok pengemudi pemula (early driver).

Pengemudi pemula merupakan pengemudi yang baru memiliki jarak berkendara 117.000 km.

Angka itu setara dengan hanya menempuh 1.500 km per bulan dalam kurun 18 bulan.

Weekend driver atau orang-orang yang hanya mengemudi pada hari libur juga tergolong dalam kelompok pengemudi pemula.

Umumnya, weekend driver adalah orang-orang yang mengemudi ketika supir pribadi sedang tidak bertugas atau libur.

Jusri menerangkan bahwa secara motorik pengemudi pemula belum terbiasa melakukan gerakan manuver cepat dan tepat.

Pengemudi pemula bahkan belum memahami efek dinamika hasil manuver secara reflek yang dilakukannya.

Karena itu, reaksi menghindar dari suatu kondisi di jalan yang dilakukan pengemudi pemula umumnya tidak di dasari analisa.

Para pengemudi pemula bahkan mudah terserang ketegangan saat berhadapan dengan situasi yang mengancam dirinya.

Lantaran ketegangan inilah maka informasi gerakkan yang dikirim sensor otak tak mampu dijalankan dengan baik oleh tangan dan kaki.

Contohnya, tindakan yang seharunya menginjak pedal rem justru dijawab dengan menekan pedal gas lebih dalam.

Hal ini berbeda dengan tindakan yang dilakukan pengemudi mahir.

Para pengemudi mahir mampu menganalisa secara baik hasil yang akan diperoleh ketika dirinya mengambil keputusan secara cepat.

Untuk bisa menjadi pengemudi mahir, Jusri menyarankan agar pengemudi pemula tidak berlatihan di jalan raya.

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP