Showing posts with label behaviour. Show all posts
Showing posts with label behaviour. Show all posts

Wednesday, February 18, 2009

Lalu Lintas Jakarta di mata Ekspatriat

Pernah coba bertanya ke seorang pengemudi yang kebetulan warga asing (ekspatriat) tentang lalu lintas ibukota ? Pastinya cerminan buruk sampai juga ke mata mereka dimana jalan raya ibukota tidak sekalipun memberikan contoh baik dalam hal berlalu lintas. Ketiadaan etika, pemahaman aturan yang kurang hingga sifat egois para pengguna demi mencari cepatnya waktu untuk pulang dan pergi bekerja. Belum lagi ketidak siapan aparat lalu lintas dalam mengantisipasi membludaknya kendaraan dalam satu titik. Alhasil pemandangan kemacetan sudah boleh dibilang hal biasa di ibukota.

Pada satu dari 3 batch kelas pelatihan Defensive Driving di Weatherford Indonesia sebagian peserta adalah kaum ekspatriat. Bila ditinjau lebih dekat mereka sebenarnya sudah lebih dulu mengenal istilah Defensive Driving, harap maklum karena perolehan surat ijin mengemudi di negara mereka jauh lebih ketat ketimbang di Indonesia, notabene di sini hanya dengan berbekal uang saja sudah mampu mengantungi surat ijin mengemudi. Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) sebagai penyedia pelatihan berkendara lebih menekankan ke pembentukan behavior & habits sikap & kebiasaan berkendara untuk bisa 'survive' bergerak di ibukota.

Menyusul pelatihan-pelatihan kelas International yang telah ratusan kali diadakan oleh JDDC selama ini, maka kelas yang dipandu 3 instruktur berpengalaman dari JDDC banyak menyampaikan ragam tips tentunya dengan menggunakan bahasa Inggris , salah satunya saat peserta bertanya sekaligus heran kenapa sulit sekali pengendara ibukota memberikan jalan kepada kendaraan lain. Kebanyakan lebih memilih tidak memberikan jalan. Pada dasarnya warga negara Indonesia adalah pribadi yang santun. Bagaimana caranya agar kita yang meminta jalan lalu diberikan jalan oleh pengendara lain. Cukup buka kaca mobil dan lambaikan tangan dan lontarkan senyum ke pengemudi lain yang sedang dimintai jalan. Praktis cara tersebut terbilang efektif dan sudah banyak percobaan yang diterapkan berhasil dengan sukses. Cara ini terbilang lebih sopan ketimbang menutup rapat kaca kendaraan yang seolah mengisolasi pengemudi dari lingkungan luar.

Bagaimanapun sopan santun bisa diterapkan dimana saja, termasuk saat kita berkendara baik menggunakan roda empat maupun roda dua. Melalui cara inilah kita menerapkan usaha untuk mengantisipasi bahaya. Bahaya dalam arti mengantisipasi adanya benturan dua kendaraan yang tidak saling memberi jalan. Drive Smart !

Wednesday, February 11, 2009

Apa itu bahaya ?

Apa itu bahaya ? Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi menimbulkan kerusakan, kerugian dan kecelakaan. Jika disingkat definisinya bisa menjadi sesuatu yang merugikan. Dalam kelas Public Course Jakarta Defensive Driving Consulting hari Senin (9/1), terjabarkan beberapa kelompok gangguan berpotensi bahaya dalam lima bagian. Apa saja itu ?

1. Rute yang Asing. Ini mencakup bawaan pengemudi yang kerap terlihat bingung menyikapi situasi lalu lintas, mata kerap melihat rambu-rambu maupun nama jalan demi menghindari tersesat. Efeknya pengemudi bisa kehilangan konsentrasi pada situasi di depan kendaraannya sendiri.

2. Mental Problem. Bagian ini menyinggung masalah yang kerap dialami pengemudi dalam hal pekerjaan maupun rumah tangga.

3. Pandangan. Keberadaan kendaraan lain, billboard pinggir jalan maupun kecelakaan di sisi jalan kerap mengganggu konsentrasi. Bicara billboard atau papan reklame, seorang pengemudi truk di luar negri memenangi gugatannya terhadap pemilik papan iklan ketika ybs mengalami kecelakaan tunggal akibat melihat papan reklame besar, alhasil truk oleng dan jatuh di selokan jalan. Jaga pandangan aman.

4. Dari dalam kendaraan. Gangguan jenis ini datangnya bisa dari anggota keluarga lain di dalam kendaraan, binatang peliharaan atau situasi ketika obrolan hangat tengah terjadi. Disinilah potensi rusaknya konsentrasi dapat terjadi.

5. Tidak Terbiasa. Gangguan ini berupa situasi jika pengemudi berada di kendaraan berjenis lain di luar kebiasaan yang bisa menimbulkan adanya perbedaan kecepatan, dimensi, jenis transmisi sampai karakter kendaraan.

Pengelompokan gangguan ini belum seberapa besar karena belum menyentuh efek kesehatan pengemudi. Jadi bagaimana menyikapinya ? Atur manajemen resiko saat berkendara dan persiapkan segala sesuatunya ketika kita memutuskan masuk mengambil resiko. Karena resiko adalah konsekuensi saat kita mengambil tindakan. Drive Safely !

Tuesday, February 10, 2009

Mabuk Kendaraan

ADAKAH diantara kamu yang merasakan mual saat berkendaraan? Biasanya saat naik kapal laut, atau pada saat naik kereta api, juga bus. Kenapa koq kamu selalu ingin muntah saat berkendaraan, tapi pernahkah kamu merasakan hal seperti itu saat naik sepeda motor, atau bahkan saat jalan kaki? Dan bagaimana cara mengatasi supaya kamu tidak merasa mual, apalagi ingin muntah?

Situasi ini disebut “mabuk kendaraan”, orang kadang menyebutnya mabuk laut, mabuk udara, sea sickness, travel sickness, airsickness , tapi kesemuanya adalah terjadi pada saat kamu berada di “dalam” kendaraan.

Kamu sudah pernah baca tentang organ “keseimbangan” tubuh kan? (baca disini ). Telinga memiliki bagian yang terus memantau gerakan tubuh sehingga selalu “stabil”. Nah pada saat kamu berkendaraan (apalagi jika ruangannya tertutup) maka gerakan yang timbul saat kendaraan ini bergerak akan “direkam” oleh cairan pada organ di telinga ini yang selanjutnya memberi tahu tubuh bahwa kamu sedang “bergerak”.

Namun, mata kamu tidak “merekam” pergerakan tersebut (karena kamu sedang membaca, atau memang tidak ada “jendela” yang menunjukkan bahwa kendaraan yang kamu naiki sedang bergerak). Akibatnya terjadi “perbedaan” informasi yang diterima oleh tubuh kamu,yang satu berasal dari organ telinga kamu yang bilang bahwa kamu bergerak, sementara informasi dari mata kamu mengatakan sebaliknya : tidak ada pergerakan.

Pesan yang tidak “sinkron” ini kemudian direspon oleh otak dengan “membanjiri” tubuh kamu dengan “hormon stress” yang mengakibatkan kamu menjadi gelisah, keluar keringat dingin, dan perut mual. Singkat kata, kamu sedang menderita “mabuk kendaraan”

Nah apa yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi “mabuk kendaraan” ini? Yang bisa kamu lakukan adalah :
  • Selama di dalam kendaraan (bis, mobil, atau kapal laut) cobalah sebisa mungkin melihat keluar jendela, amati bagaimana jalan, pepohonan, tiang listrik, semuanya melaju, menandakan kamu memang sedang “bergerak” sehingga informsai dari organ telinga kamu akan sama dengan informasi dari mata kamu.
  • Jangan biarkan perut kamu kosong pada saat bepergian, karena akan mempercepat kamu menjadi mual (apalagi dalam jangak waktu lama), tapi jangan pula terlalu kenyang, guncangan dalam berkendaraan justru akan memancing isi perut kamu yang penuh itu untuk keluar.
  • Minum obat anti mual sebenarnya hanya membuat kamu tertidur (kamu boleh memilih untuk tidur sepanjang perjalanan, atau menikmati perjalanan kamu)
  • Duduklah di depan , samping supir, atau jika kamu naik kapal laut, berjalan-jalan lah ke geladak kapal supaya kamu bisa melihat- kapal kamu sedang melaju
  • Gunakan gelang anti mabuk disebut juga sea-sickness band, yang berupa gelang untuk menekan sebuah "titik" pada pergelangan tangan kamu yang dipercaya bisa mengurangi mual.
Oh ya semakin sering kamu melakukan perjalanan, biasanya tubuh kamu akan “terbiasa”, dan biasanya mabuk kendaraan kamu akan berkurang. Jangan salah, para astronot yang berada di pesawat luar angkasa pun masih kerap merasakan mabuk perjalanan ini.

Tapi bagi kamu yang memang “doyan” mabuk kendaraan, sebaiknya bekali diri kamu dengan kantong plastik deh, supaya muntah kamu tidak berceceran kan? Hiyyy.***

(dari berbagai sumber)

Monday, February 9, 2009

Mengapa Peraturan Begitu Sulit Untuk Dipatuhi

SUMBER BERITA

Dari hari ke hari pelanggaran rambu-rambu lalu lintas semakin memprihatinkan. Selain bisa kita amati sendiri perkembangannya setiap hari, kecenderungan berkurangnya ketertiban pengguna jalan bisa kita lacak dari maraknya surat-surat pembaca di media massa yang isinya mengeluhkan keadaan ini.

Peraturan pada dasarnya dibuat dengan tujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Coba kita bayangkan bila di jalanan tidak ada peraturan, tidak ada rambu-rambu lalu lintas, dapat dipastikan setiap pengguna jalan akan berbuat seenaknya sendiri tanpa mau mengindahkan kepentingan orang lain.

Setelah peraturan dibuat ternyata tidak ada jaminan bahwa peraturan tersebut akan dipatuhi. Coba kita lihat kondisi di Indonesia. Rambu-rambu lalu lintas seakan hanya menjadi hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Praktis hanya lampu lalu lintas saja yang di patuhi, itupun pada ruas jalan tertentu saja. Perilaku yang tidak tertib ini diperparah dengan pertambahan jumlah kendaraan yang sulit dibendung sementara jumlah pertambahan ruas jalan tidak mampu mengimbanginya.
Jika memang peraturan dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia pertanyaan besar yang muncul adalah: "Mengapa peraturan tersebut sering dilanggar?".

Lingkungan, Perilaku dan Konsekuensi

Manusia memang individu yang kompleks sehingga perilakunya juga tidak sederhana. Perilaku manusia tidak sekedar memperhitungkan untung dan rugi saja. Bisa jadi perilaku yang tampak merugikan dimata seseorang akan dianggap menguntungkan bagi orang lain. Bagaimana seseorang berperilaku, secara garis besar bisa dijelaskan melalui penguatan kontigensi (contigency of reinforcement) .

Perilaku manusia melibatkan tiga komponen utama yaitu kondisi lingkungan tempat terjadinya perilaku tersebut, perilaku itu sendiri dan konsekuensi dari perilaku tersebut. Berulang atau tidak berulangnya suatu perilaku dipengaruhi oleh keadaan tiga komponen tersebut. Penjabarannya dalam perilaku berkendaraan di jalan raya cukup sederhana. Misalkan seorang pengendara berada di persimpangan jalan yang sepi (kondisi lingkungan) kemudian ia memutuskan untuk melanggar lampu lalu lintas (perilaku). Konsekuensi dari perilaku ini adalah perjalanan yang lebih cepat. Selain itu pengendara tersebut juga tidak ditangkap petugas karena memang tidak ada petugas di persimpangan jalan tersebut. Perilaku pelanggaran seperti ini akan cenderung diulangi karena mendapat penguatan positif atau hadiah yaitu proses perjalanan yang lebih cepat dan tidak tertangkap oleh petugas.

Skenario yang muncul akan berbeda bila situasinya berbeda pula. Pada situasi persimpangan jalan yang dijaga oleh petugas (kondisi lingkungan) seorang pengendara berkeputusan untuk melanggar lampu lalu lintas. Konsekuensinya ia akan ditangkap oleh petugas dan mendapatkan surat tilang. Perilaku pelanggaran seperti ini akan cenderung tidak diulangi karena mendapatkan penguatan negatif (hukuman) yaitu berupa surat tilang yang tentu saja bermuara pada denda yang harus dibayar.

Peraturan

Peran peraturan pada penguatan kontigensi adalah mendeskripsikan baik secara lisan, tulisan ataupun simbol, hubungan antara ketiga komponen penguatan kontigensi tersebut. Secara garis besar peraturan menjelaskan hubungan sebab akibat dari dilakukan atau tidak dilakukannya suatu perilaku. Rambu dilarang parkir apabila di jabarkan dalam tiga komponen penguatan kontigensi akan berbunyi seperti ini: dilarang parkir disini (kondisi lingkungan), bila Anda melanggar (perilaku) maka Anda akan di beri surat tilang (konsekuensi) .

Bagi semua pengguna kendaraan bermotor pasti sudah paham betul arti dari rambu-rambu lalu lintas yang ada dijalanan. Walaupun demikian ternyata pemahaman ini belum cukup untuk mendorong pengguna jalan mematuhi rambu-rambu tersebut. Ada berbagai hal yang menyebabkan pengendara gagal untuk mematuhi rambu-rambu tersebut.

Dilihat dari konsekuensi yang mungkin timbul, kegagalannya terletak pada probabilitas kemunculan konsekuensi negatif yang kecil. Walaupun pengendara tahu bahwa tidak menggunakan helm sangat berbahaya namun mereka tetap berkeras untuk tidak memakai helm. Pengendara tersebut menganggap bahwa kemungkinan dirinya untuk terjatuh ataupun ditangkap petugas sangat kecil sehingga walaupun tidak menggunakan helm ia tetap selamat. Mungkin suatu ketika pengendara tersebut tertangkap petugas namun alih-alih mendapat surat tilang, ia justru bisa melenggang dengan memakai uang "pelicin". Uang "pelicin" tersebut bukan merupakan konsekuensi negatif melainkan justru menjadi konsekuensi positif bagi pengendara karena ada semacam rasa bangga bahwa dirinya bisa mengelabui petugas dengan beberapa lembar rupiah. Kenyataan bahwa perilaku tidak memakai helm ini mendapatkan konsekuensi positif membuat pengendara tersebut cenderung untuk mengulangi perilaku tersebut.

Penyebab kegagalan kepatuhan terhadap peraturan dari segi kondisi lingkungan bisa di jabarkan dalam skenario berikut ini. Suatu ketika pengendara tersebut mencoba menggunakan helm, namun keadaan yang ia hadapi adalah bahwa banyak pengendara lain yang ternyata tidak menggunakan helm tidak mendapat sanksi apa-apa, selain itu ia juga merasa tidak nyaman ketika memakai helm karena terasa gerah. Keadaan ini menggambarkan adanya konsekuensi negatif ketika pengendara tersebut berusaha mematuhi peraturan dengan menggunakan helm. Konsekuensi negatif tersebut berasal dari rasa tidak nyaman dan umpan balik sosial yang memperlihatkan bahwa tidak menjadi masalah bila pengendara tidak menggunakan helm.

Dua skenario diatas menunjukkan bahwa terjadi suatu fenomena yang bertentangan dengan hukum-hukum belajar perilaku yaitu bahwa perilaku yang buruk harus mendapatkan hukuman (konsekuensi negatif) sementara perilaku yang baik harus mendapatkan hadiah (konsekuensi positif). Kenyataan yang terjadi adalah bahwa perilaku buruk akan mendapatkan konsekuensi positif sementara perilaku yang baik akan mendapat konsekuensi negatif.

Tidak adanya konsistensi antara lingkungan, perilaku dan konsekuensi inilah yang menjadikan perilaku pengguna jalan semakin lama semakin memburuk. Dan hal ini sama sekali tidak berhubungan dengan sikap mental dari pengguna jalan tersebut.

Bukan masalah sikap mental

Selama ini kita sering mendengar dari petugas ataupun tokoh masyarakat bahwa sangat sulit untuk mengubah sikap mental pengendara kendaraan bermotor menjadi pengguna jalan yang tertib dan perlu waktu bertahun-tahun untuk mengubah sikap mental tersebut. Berdasarkan hasil penelitian masalah perilaku, sebenarnya kita tidak perlu mengubah sikap mental pengguna kendaraan bermotor. Alasannya adalah pertama karena sikap mental mereka sebenarnya sudah pada taraf yang positif, namun justru kondisi lingkungan dan konsekuensi dari perilaku di jalanan yang "memaksa" mereka untuk melanggar peraturan. Coba saja tanyakan pada pengendara yang tidak memakai helm, penting atau tidak kah menggunakan helm di jalan raya. Pasti mereka semua sepakat bahwa menggunakan helm tersebut sangat penting untuk keselamatan. Namun kenyataannya mereka tetap tidak menggunakan helm.

Alasan yang kedua yaitu sebenarnya tidak relevan usaha untuk mengubah perilaku dimulai dari usaha untuk mengubah sikap. Perubahan sikap mempunyai korelasi yang kecil dengan perubahan perilaku (Cooper, 1999). Walaupun kita melancarkan kegiatan semacam kampanye tertib lalu lintas (untuk mengubah sikap mental) dengan gencar namun jika kondisi lingkungan dan konsekuensi dari perilaku tersebut belum konsisten maka kegiatan semacam ini akan selalu menemui dinding tebal yang tidak bisa ditembus.

Konsekuensi yang konsisten

Solusi dari masalah perilaku pengguna jalan yang tidak kooperatif dengan peraturan ini sebenarnya sudah terdapat dalam uraian diatas. Yang pertama tentu saja mengkondisikan agar konsekuensi dari semua perilaku di jalanan selalu konsisten. Perilaku yang taat aturan akan selalu mendapatkan hadiah dan perilaku yang melanggar aturan akan selalu mendapatkan hukuman. Bagaimana keadaan ini dicapai? Apakah dengan menempatkan petugas pada setiap persimpangan jalan? Bisa jadi ini jawabannya, tapi tentu saja solusi semacam ini akan terbentur masalah sumber daya manusia (jumlah petugas yang terbatas). Namun yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana memastikan semua pelanggar peraturan lalu lintas selalu mendapat konsekuensi negatif. Konsekuensi negatif bisa berupa pemberian surat tilang ataupun dari feedback dari pengguna jalan lainnya. Dan harus dipastikan bahwa petugas ini tidak akan terpeleset dengan uang "pelicin". Keadaan ini sangat penting untuk mengembalikan fenomena di jalanan menjadi seiiring dengan hukum-hukum belajar perilaku.

Bila konsekuensi perilaku di jalanan telah konsisten maka perlahan kondisi lingkungan di jalan raya akan kondusif. Pengendara yang taat peraturan akan merasa mendapatkan reward dari lingkungannya yaitu adanya suasana tertib di jalan raya dan melihat bahwa banyak rekan pengendara yang taat peraturan. Selain itu pengendara yang taat akan melihat bahwa pengendara yang melanggar memang akan selalu mendapatkan hukuman. Dengan langkah ini perilaku pelanggaran akan berangsur berkurang karena selalu mendapat hukuman sementara perilaku taat akan semakin terbentuk karena selalu mendapat penguatan yang positif.

Benarkah solusi dari masalah diatas sedemikian sederhana? Solusi tersebut memang terlihat sederhana namun demikian dibalik itu terdapat "PR" yang besar bagi penegak hukum di Indonesia. Kepolisian harus menyiapkan jajaran yang bersih terlebih dahulu sebagai landasan keberhasilan metode ini. Hal ini harus dimulai dari proses rekruitmen yang bersih sehingga jajaran petugas yang terbentuk juga terdiri dari insan-insan yang betul-betul berfalsafah melindungi dan melayani masyarakat. Proses ini bisa berjalan simultan dengan usaha penerapan konsekuensi perilaku yang konsisten seperti disebutkan diatas

Perempuan dan Lalu Lintas

SUMBER BERITA

Sering keberadaan pengendara cewek mengganggu pengguna jalan lain. Mereka seperti kurang paham aturan lalu lintas atau acuh pada aturan. Seperti berpindah jalur tanpa sein, bahkan kerap berhenti mendadak tanpa minggir dulu.

Paling fatal, banyak kaum ibu ngeboncengin anak tanpa perlengkapan safety seperti helm. Bahkan bisa boncengan lebih dari satu orang dan tanpa helm. "Kalau jemput kakaknya ke sekolah adiknya pasti pingin ikut juga. Kadang teman anak saya sekalian numpang kalai kebetulan ibunya gak bisa jemput. Ya sudah bonceng bertiga. Toh jaraknya dari rumah ke sekolah cuma 3 km. aku Ida, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Cibubur.

Faktanya motor yang memang ditujukan buat pangsa pasar wanita, kini lalu lintas kota seperti Jakarta, makin ramai dengan lady biker. "Mereka punya hak yang sama dengan biker lain. Malah umumnya lady biker ini jalannya pelan. " aku Andy Maulana, Humas Honda Vario Club (HVC).

Menurut Jusri Pulubuhu, training director Jakarta Devensive Driving Consulting (JDDC), pengendara wanita memang memiliki kecenderungan lamban. Misalnya gerakan perpindahan dari area ke area lain bertahap (gradually). Sehingga pada saat manuver yang seharusnya dilakukan dengan segera, lady biker melakukan dengan lambat. Sedangkan pada saat mereka harus melakukan segera. Malah dilakukan dengan gradually stop.

Pengaruh mind set lady biker yang tidak mudah curiga. Mereka cenderung tidak memiliki kemampuan self assessment. Yaitu kemampuan analisis terhadap sesuatu yang tidak diharapkan. Ini sangat diperlukan saat mereka berada di killing field (jalan raya) yang tinggi dibanding biker laki-laki. Manuver yang dilakukan pun sering ragu-ragu. Ini membuat para pemakai jalan lain bingung. Dan bisa berakibat fatal.

Seorang biker harus SMART yaitu Secure, Measured, Accurate, Reasonable, dan Timely. "Persyaratan untuk memberikan output SMART semua bikers harus memiliki referensi yang kuat. Dan itu tidak cukup diperoleh dari pengalaman, "tutup Jusri.

Sumber MOTORPlus No. 436/VIII

Melibas Polisi Tidur

SUMBER BERITA

M+ Online - Salah satu handicap bikers di jalan raya yakni polisi tidur. Kecelakaan mulai dari yang ringan sampai serius terjadi karena tidak melihat atau sadar ada polisi tidur. Padahal siang bolong, lho!

Biar terhindar dari kecelakaan, Jusri Pulubuhu, Director Training Jakarta Defensive Driving Consulting kasih tips. Menurutnya, orang yang terlibat kecelakaan sering mengatakan. “Saya tidak melihat benda, orang, mobil, lubang.”

Untuk mengantisipasi kelemahan ini, pengendara harus menerapkan kebiasaan melihat sejauh mata memandang (aim high), sambil melakukan scaning terhadap objek bahaya di depannya.

Jangan melaju dengan kecepatan konstan atau melakukan perlambatan ekstrem saat melintasi handicap. “Hal ini membuat buritan melenting ke atas ketika roda belakang membentur polisi tidur,” jelas pria berambut pendek ini.

Banyak pengendara jatuh gara–gara ngerem pas di atas handicap. Karenanya, pengereman dilakukan sebelum melintasi.

Bagaimana dengan posisi berkendara? Untuk menjaga keseimbangan, saat roda depan menyentuh polisi tidur, posisi badan cenderung ke depan dengan kedua tangan menekuk melebar. Sebaliknya, setelah roda depan telah melewati polisi tidur, posisi badan ke arah belakang dengan kedua tangan mendorong handle bar ke depan.

Thursday, February 5, 2009

Do & Don’t Berkendara Motor Saat Hujan

SUMBER BERITA

Bagi pengendara roda dua, musim hujan bisa jadi kendala kegiatan. Tak heran, meskipun hujan lebat, enggak sedikit pemilik motor yang memaksa menerjang biar cepat sampai tujuan.

Wah, bahaya tuh kalau dilakukan setiap hari. Enggak cuma sakit flu maupun batuk pilek, bahayanya kalau sampai kecelakaan dan nyawa taruhannya. Nah, biar semua itu enggak terjadi, lebih baik berteduh atau tidak meneruskan perjalanan.

“Demi keamanan dan keselamatan lebih baik berteduh. Tapi di tempat yang aman, jangan di bawah pohon maupun neon box yang sewaktu-waktu bisa roboh akibat hujan sekaligus angin kencang,” urai Jusri Pulubuhu, training director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Kalau memang tidak bisa ditunda dan harus cepat sampai tujuan, nyalakan lampu depan maupun belakang besutan untuk memberikan indikator pada pengendara lain. “Ini juga sebagai alat komunikasi dan demi keselamatan bersama,” tambah Jusri.

Selain itu berjalanlah dengan kecepatan rendah dan konstan, serta jaga jarak dengan kendaraan lain. “Misal butuh rem mendadak meski jalan agak licin, motor masih tetap bisa terkontrol dan tidak menabrak kendaraan di depannya,” ujar pria ramah ini.

Selain itu jangan lupa gunakan jas hujan model pisahan (celana dan baju pisah). “Jangan memakai jas hujan model terusan (ponco, red), karena rawan kecelakaan. Bisa nyangkut di gir roda belakang,” tambah Inuk Blazer, ketua Inuk Blazer Ladies Bikers Club (IBLBC) Jakarta.

Lanjutnya, bila ketebalan ban tidak memungkinkan atau terlalu tipis, jangan paksakan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Pasalnya, ban tipis sangat licin dan rawan kecelakaan’.

Perlengkapan Safety Foxy Lady

SUMBER BERITA

Dihitung jumlah memang nggak ada data pasti. Namun yang pasti, di jalanan pengendara cewek terlihat makin banyak. Ada banyak alasan foxy lady naik motor. Lebih efisien soal waktu dan biaya. Namun, ada juga alasan khusus. Seperti ingin menghindari pelecehan seksual di sarana transportasi.

"Perlengkapan kendaraan seperti helm, jaket, sarung tangan dan sepatu tetap wajib bagi pengendara termasuk wanita. Namun, tetap mempertimbangkan aspek gaya," jelas Joel D. Mastana, instruktur safety riding di U Mild U Bikers.

Soal keamanan, tidak ada perbedaan khusus helm cewek atau cowok. Semua harus mengikuti kaidah berkendara, seperti memenuhi SNI atau tingkatan yang lebih tinggi seperrti SNELL.

Namun demikian karena ada sedikit perbedaan fisik, perlu kekhususan tersendiri buat foxy lady. "Umumnya, ukuran kepala cewek lebih kecil. Di pasaran banyak pilihan warna ngejreng. Pink dan motif lucu, seperti bunga. Pilihlah itu," jelas Dewi, pengendara motor dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut Anggono Iriawan, prinsip penggunaan helm, selain memenuhi unsur aman juga nyaman bagi kepala. "Kebesaran tidak bagus begitu juga sebaliknya ," jelas Kepala Instruktur Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM) itu.

Pertimbangkan juga penggunaan anting bagi kaum perempuan. Anting yang panjang bisa nyangkut dan pastinya menyulitkan ketika pakai helm full-face. Ini mengakibatkan konsen mbak atau neng bisa terganggu saat berkendara.

Perlengkapan lain, sarung tangan. Di pasaran tersedia aneka sarung tangan. Mulai bahan kulit atau kombinasi kulit dan kain. Bentuknya ada yang setengah atau tertutup.

"Pilih sarung tangan yang tidak licin saat memegang grip atau setang. Bahan kulit sangat disarankan. Juga pilih sarung tangan tertutup," tambah Joel D. Mastana lagi.

Sebagian foxy ladyjuga tetap mengedepankan unsur gaya. Jaket harus bisa membantu keamanan pengendara wanita. Melindungi dari terik matahari dan melindungi dada dari angin. Menurut Jusri Pulubuhu, jaket melindungi bagian tubuh ketika jatuh. "Membantu mengurangi gesekan kulit dengan aspal," jelas Direktur Training, Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Tak kalah penting, penggunaan sepatu. Cewek masih sering terlihat memakai tumit tinggi. "Ini mengurangi kemampuan kaki untuk menginjak rem atau oper gigi. Sebaiknya memakai sepatu yang hak-nya tidak lebih 2 cm. Soal gaya itu terserah masing-masing. Yang jelas harus aman dulu. Safety first," tutup Anggono.

TIPS PRAKTIS:
  1. Pas riding dianjurkan pakai sun-block dan baru berdandan saat tidak naik motor.
  2. Lindungi mata dengan helm full face, goggle atau kacamata yang baik. Menurut dr. Deden W. Sorna, senior Tiger Association Bandung (TAB), debu dan partikel mudah menyerang dan menyebabkan inflamasi (peradangan) dan pinquekula (perlemahan).
  3. Sering melakukan perawatan tubuh. Mulai creambath, hair masker dan hair spa. Menurut Anna Listiana, pemilik Anna Salon, di Jakarta Barat, perawatan ini untuk melancarkan peredaran darah dan syaraf agar tetap fresh dan cantik.

Konyol di Lampu Merah

SUMBER BERITA

Perilaku konyol kadang ditunjukkan bikers saat berhenti di perempatan lampu merah. Yang jelas bukan semata menyebalkan pengguna jalan lain. Tapi juga membahayakan. Lihat apa aja sih prilaku buruk yang memang tidak perlu ditiru. Wuuuu...

MEMOTONG JALUR

Tabrakan dari arah samping bisa dihindari jika pengendara tidak memotong jalur pengguna jalan lain. Maklum, motor mudah terobos sana-sini. Jadi, asal ada ruang bisa ngambil jalur lain. "Risiko seperti ini harus dihindari. Karenanya jangan ambil jalur orang lain," jelas Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting.

'KORUPSI' LAJUR KIRI

Risiko disenggol dari belakang bisa terjadi karena lajur kiri dipakai untuk berhenti. Korupsi jalur yang sebenarnya untuk satu motor diisi sampai tiga motor. Akibatnya, pengendara di belakang jadi tidak bisa jalan.
"Melanggar garis batas sangat berbahaya buat pengendara. Posisi ini bisa jadi rebutan antara sesama pengendara. Parahnya, kalau disenggol dari belakang," jelas Hamisuseno, dari klub Hornet (Honda on Internet)

TIDAK SABAR

Sering melihat, pengendara yang tidak sabar menunggu lampu ganti warna dari merah ke hijau. Tancap gas! Sebaiknya, pengendara bersikap aman. Waktu sedetik tidak banyak pengaruhnya kok. Makanya, jangan langsung tancap gas start apalagi sampai jump start. Emangnya mau balap?

"Ini mengurangi kecelakaan kalau pengendara dari arah lain juga tidak sabar, lampu merah diterobos. Perilaku menerobos lampu merah dan melewati marka jalan juga membahayakan diri," jelas AKP Harry Setiyadi, Kasie Idik Lantas Polda Metro Jaya.

Wednesday, February 4, 2009

Dibonceng Bukan Pasangan

SUMBER BERITA

Entah karena canggung, boncenger cewek enggan duduk rapat sama pengendara. Umumnya, mereka jaga jarak. Maklum, si pengendara bukan yayang atau suami tercinta. Makanya jadi atur jarak gitu. Wah, macam Metromini aja! Sebenarnya duduk duduk berjarak bikin pengendalian jadi nggak karuan. Pengendara jadi terasa berat. Belum lagi kalau saat melakukan manuver. Jusri Pulubuhu menyatakan dalam berkendara tidak ada hubungan atau tidak. Lebih diutamakan posisi duduk yang benar. Ini untuk keselamatan pengendara juga boncenger, jelas Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) itu.

Duduk rapat dengan pengendara untuk menjaga keseimbangan dan motor tidak bergeser. Dengan menempel ke pengendara, maka titik keseimbangan antara motor dengan pengendara dapat dijaga. Posisi duduk jangan sampai melawan arah pengendara. Ikuti gerak arah pengendara, tambah pria berkantor di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu lagi.

Kedua lutut juga harus merapat atau menggapit pinggul pengendara. Agar pengendara bisa menjaga irama kendaraan dengan boncenger, bilang Anggono Irawan, Kepala Instruktur Safety Riding, PT Astra Honda Motor (AHM).

Boncenger ngak usah sungkan saat tangan merapat atau merangkul pinggang yang membinceng. Dengan begitu, jika ada gerak mendadak yang dilakukan pengendara bisa diikuti boncenger. Kalau sungkan berpegangan atau memeluk pengendara, minimal paha mengapit ke pinggul pengendara, wanti Jusri lagi.

Tapi ini kurang mendukung ketika terjadi gerakan ke depan atau ke belakang yang mendadak, kemungkinan jepitan gampang lepas, karena tidak didukung pegangan erat dan pengendara mudah kehilangan kestabilan.

Jadi, ngak perlu sungkan. * Tining

Sumber : Motor Plus, edisi 365, Sabtu 25 Februari 2006
Disesuaikan oleh : Adi/SSFC-056

Tuesday, February 3, 2009

Peranti Keselamatan yang Bisa Membahayakan

SUMBER BERITA

Satu anak bernama Abdul Rizal (3,5) tewas kehabisan udara, temannya, Jaka Saputra (5), ditemukan dalam keadaan kritis.

Terlepas dari masih misteriusnya bagaimana kedua anak tersebut bisa masuk ke dalam mobil yang terkunci, kejadian itu mengingatkan orang bahwa mobil bukanlah mainan yang bisa diperlakukan sembarangan.

Sayangnya, banyak pemilik dan pengguna mobil di Indonesia yang tidak mengenal mobil dan berbagai perlengkapan di dalamnya. Karena itu, jangankan menggunakan perlengkapan dengan benar, bahkan fungsinya pun masih banyak yang belum diketahui.

”Padahal, saat seseorang tidak tahu bagaimana menggunakan sebuah fitur safety dengan benar, fitur itu justru bisa membahayakan,” kata Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting.

Dalam kaitannya dengan keselamatan berkendara untuk anak-anak, Jusri mengatakan, banyak perangkat keselamatan mobil yang dapat sangat berbahaya bagi anak-anak, bahkan bisa berakibat fatal.

”Jangan dikira mobil hanya berisiko bahaya saat berjalan, dalam kondisi berhenti pun bisa menimbulkan risiko,” tuturnya.

Salah satu perangkat keselamatan yang khusus dibuat untuk melindungi anak kecil dalam mobil adalah kunci anak atau child lock. Pada saat kunci ini diaktifkan, pintu belakang tidak bisa dibuka dari dalam, bahkan dalam keadaan kunci utama tidak terkunci.

Kunci tambahan yang terletak di dinding pintu belakang mobil ini berfungsi mencegah anak kecil membuka pintu saat mobil berjalan. Masalah bisa timbul saat pemilik mobil atau pengemudi lupa menon-aktifkan kunci ini saat meninggalkan mobil.

”Kalau masih ada anak di dalam, dia akan terkunci. Sementara anak mungkin tidak terpikir untuk membuka pintu depan,” lanjut Jusri yang bergerak di bidang konsultan perilaku mengemudi sejak tahun 1984 ini.

Terkuncinya anak dalam mobil yang berhenti bisa membawa serangkaian risiko, bahkan mengakibatkan kematian pada anak. Mobil yang tertutup rapat pintu dan jendelanya dapat dikatakan menjadi ruang tanpa ventilasi udara.

Selain itu, bila mobil diparkir di bawah sinar matahari, suhu di dalam mobil menjadi sangat panas. ”Semua itu membawa dampak fatal pada manusia, terutama anak kecil,” ujarnya.

Bahkan, seandainya mesin dan sistem pendingin udara (AC) dalam kondisi menyala, risiko bahaya tetap ada. Bila terjadi kebocoran pada dinding mobil, gas beracun yang keluar dari knalpot akan masuk ke kabin mobil dan berputar-putar tanpa ventilasi.

”Gas CO dan CO2 dari knalpot sifatnya sangat beracun,” ungkap Jusri sambil menambahkan, pernah terjadi orang keracunan meski mobil dalam kondisi berjalan dengan AC menyala.

Untuk itu, Jusri menyarankan pemakai mobil yang relatif sudah berumur dan menunjukkan mulai ada kebocoran agar membuka kaca jendela sedikit meski AC dinyalakan. ”Bukalah kaca jendela sedikit, selebar satu sentimeter. Ini cukup untuk sirkulasi udara,” katanya.

Selain itu, saat melakukan perjalanan panjang, beristirahatlah secara rutin. Saat mobil berhenti, bukalah pintu dan jendela selebar-lebarnya untuk memberi kesempatan pertukaran udara.

”Disarankan setelah tiga jam pertama perjalanan, harus beristirahat. Selain untuk mengembalikan kondisi pengemudi, juga untuk sirkulasi udara,” papar Jusri.

Namun, di atas segalanya, Jusri menegaskan, aturan dasar mencegah kecelakaan terhadap anak dalam mobil adalah jangan pernah membiarkan anak berada sendirian di dalam mobil.

”Saya tegaskan, jangan pernah meninggalkan anak sendirian tanpa pengawasan orang dewasa di dalam mobil. Meski untuk waktu singkat, misalnya mengambil uang di ATM atau ke mal,” tandasnya.

Sabuk pengaman
Peranti keselamatan lain dalam mobil yang bisa menimbulkan risiko adalah sabuk pengaman atau sabuk keselamatan.

Peranti ini sangat penting dan harus dipakai pengemudi dan penumpang untuk menghindari cedera berat pada saat mobil membentur atau menabrak sesuatu.

Akan tetapi, bila penggunaannya tak benar, alat tersebut dapat membahayakan pemakai, terutama anak-anak. ”Sabuk pengaman mobil didesain untuk orang dewasa dengan postur tubuh tertentu. Secara umum, desain sabuk pengaman standar memang tak cocok untuk anak-anak,” tutur Jusri.

Ketinggian sabuk pengaman tak sesuai dengan postur anak kecil. Bila dipaksakan, sabuk pengaman akan melintang di leher anak. Jika terjadi benturan, sabuk tersebut justru akan mencekik si anak.

”Oleh sebab itu, anak bertinggi badan di bawah 120 sentimeter harus dilengkapi dengan kursi penopang atau booster seat. Dia harus duduk di kursi belakang,” katanya.

Tujuan booster seat , agar posisi duduk anak sama tinggi dengan orang dewasa sehingga sabuk pengaman terpasang pada posisi yang benar dan tak berbahaya. Jusri mengungkapkan aturan 3R saat mengenakan sabuk pengaman, yakni rapat, rata, dan rendah.

”Rapat artinya sabuk terpasang pas di tubuh, jangan terlalu kencang jangan terlalu longgar. Rata maksudnya sabuk jangan dipakai dalam kondisi terlipat-lipat. Sedangkan rendah artinya sabuk harus dipakai di bawah pusar, tepat di pinggul. Kalau sabuk dipakai di atas pusar, dapat membahayakan perut saat terjadi benturan,” paparnya.

Jusri juga mengingatkan agar para ibu tidak mengenakan sabuk pengaman bersama anak yang dipangku. ”Sangat berbahaya mengenakan sabuk pengaman untuk berdua. Si anak yang dipangku bisa terjepit dan tercekik,” lanjutnya.

Dengan segala risiko tersebut, sabuk pengaman adalah peranti keselamatan vital yang wajib dipakai pengendara dan penumpang mobil. ”Bahkan ibu hamil pun harus tetap memakai sabuk pengaman!” ucapnya.

Selalu Baca Buku Manual
Setiap mobil, seperti produk teknologi tinggi lainnya, selalu dilengkapi buku petunjuk pemakaian untuk pemilik.

Di dalam buku owner’s manual—sehingga sering disebut buku manual—ditulis keterangan lengkap mengenai mobil bersangkutan, mulai dari spesifikasi, kelengkapan fitur di dalamnya, hingga cara penggunaan dan perawatan.

Diharapkan dengan membaca buku manual tersebut, pemilik/pengemudi mobil bisa mengenal mobil dan menggunakannya seoptimal mungkin. Sayangnya, sebagian besar pengguna mobil di Indonesia masih menganggap buku itu tak berguna.

”Padahal di dalamnya terdapat semua informasi penting yang diperlukan pemilik mobil, termasuk fitur-fitur keselamatan dan cara penggunaannya. Dengan perkembangan teknologi yang terus maju, selalu ada fitur baru dalam setiap mobil baru,” kata Jusri Pulubuhu dari JDDC.

Salah satu bukti rendahnya kesadaran orang membaca buku manual adalah saat jual beli mobil bekas, biasanya buku manual ini tak disertakan. Akibatnya, banyak orang tidak mengenal berbagai fitur keselamatan dalam mobilnya, bahkan fitur-fitur yang paling sederhana sekalipun.

Beberapa fitur keselamatan yang menjadi perlengkapan standar mobil antara lain:

1. Sandaran kepala atau head restrain (head rest). Banyak yang beranggapan sandaran kepala ini sekadar perlengkapan untuk kenyamanan pengemudi dan penumpang mobil. Padahal, peranti ini berguna untuk meredam gerakan kepala saat terjadi gerakan mendadak, karena tabrakan dari belakang. Selalu pasang head rest dengan ketinggian sejajar dengan posisi telinga dan mata. ”Tanpa head rest atau ketinggiannya di bawah garis mata dan telinga, akan terjadi risiko cedera berat pada tulang leher saat terjadi benturan dari belakang,” ujar Jusri.

2. Kantung udara atau airbag. Peranti ini berfungsi melindungi penumpang dari benturan dengan bagian mobil yang keras dan tajam, seperti dasbor atau dinding logam. Ada mitos kalau ada airbag, pengemudi/penumpang tak perlu mengenakan sabuk pengaman. Mitos ini salah besar, sabuk pengaman harus dikenakan kapan pun, di mana pun, dalam kondisi apa pun, saat mobil berjalan. ”Tanpa sabuk pengaman, airbag justru bisa melukai,” tutur Jusri.

3. Kunci pintu mobil. Mobil-mobil terbaru terus meningkatkan sistem pengamanannya. Beberapa merek mobil menerapkan sistem kunci otomatis yang bertujuan menjebak pencuri di dalam mobil. Bacalah buku manual untuk petunjuk penggunaannya guna mencegah Anda sendiri yang terjebak di dalam mobil. (DAHONO FITRIANTO)

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP