Showing posts with label defensive riding. Show all posts
Showing posts with label defensive riding. Show all posts

Monday, February 9, 2009

Soal Helm

OTOMOTIFNET - Seperti juga makanan dalam kemasan, helm, baik itu produk branded maupun nonbranded sebetulnya punya masa pakai (expired date) alias masa kadaluarsa. Beberapa pabrikan helm mancanegara mewajibkan produk-produknya untuk tak dipakai lagi (harus direplace) dalam waktu tertentu.

Namun begitu, masing-masing merek berbeda-beda dalam menentukan expired date. Misal Arai menyarankan mengganti selama pemakaian 5 tahun. "Umumnya waktu kadaluarsa pemakaian helm ini (KBC, red) selama 5 tahun sejak pertama kali diproduksi," ujar Verdi Marcel. Agus Hermawan yang juga penjualan helm-helm impor pun mengakui masa pakai helm rata-rata 5-6 tahun sesuai pemakaian. Tapi jika helm sudah terjatuh atau mengalami kecelakaan sebaiknya masa pakai diperpendek. "Ketika helm jatuh di satu bagian maka terjadi perubahan struktur material helm. Takutnya, ketika dipakai lagi dan jatuh di sisi yang sama," terang Agus.

Jusri Pulubuhu, training director JDDC (Jakarta Defensive Driving Consulting) menyarankan wajib ganti helm jika sudah terjadi kecelakaan. "Kalau sudah mengalami benturan pada kecepatan 40 km/jam harus ganti. Karena bisa mengakibatkan cedera kepala atau gegar otak," jelasnya. Secara kasat mata batok memang masih bagus namun secara material sudah mulai berubah jika terjadi benturan keras. "Busa bagian dalam sudah mulai menggumpal. Ada yang mengeras seperti biji kapuk atau jatuh layaknya rempah makanan," jelas Eka Satrya.

Disamping itu, ketahanan sterofoam untuk meredam benturan di balik shell (batok luar) juga mulai menurun. Cara deteksi, "Tekan pakai tenaga cukup kuat beberapa kali di bagian sterofoamnya pakai ibu jari. Kalau terdapat bekas tekanan dan tak kembali normal dengan cepat, lebih baik beli helm baru yang belum kadaluarsa," saran Verdi lagi. Bagaimana cek expirednya? Umumnya pabrikan menempelkan label waktu produksinya. Persisnya, angkat inner padding bagian atas. Posisinya menempel di permukaan sterofoam sebelah kiri atau kanan atas tergantung tiap merek helm.

Disitu tertera tanggal, bulan dan tahun produksi. "Tinggal tambahkan angka 5 pada tahun pembuatannya. Jika tahun pembuatannya 2006 maka masa expirednya di 2011, dengan tanggal dan bulan yang sama dengan yang tertera di label," jelas Verdi. Jangan sampai kelewat ya!

foto : www.advrider.com

Keseimbangan Kurang dari Sejengkal

SUMBER BERITA : Motorplus Online

Percaya tidak, keseimbangan motor itu kurang dari sejengkal tangan anak kecil? Itu sebabnya, seringkali aktivitas bermotor alami celaka. Entah disebabkan pengaruh lingkungan, motor atau pengendara itu sendiri.

Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting menggambarkan, "Motor itu balans tapi tidak stabil."

Maksudnya, motor itu sebuah alat berkendara yang seimbang tapi tidak stabil. Beda dengan mobil yang memiliki ciri balans dan stabil. Tak heran, banyak pengendara nyusruk karena hal kecil yang ada di jalanan. Misalnya, oli tercecer atau genangan air.

"Kestabilan motor itu ada pada kecepatan. Makin cepat makin stabil. Namun, ingat! Makin kencang maka faktor risiko kecelakaan makin besar pula," tambah Joel Deksa Mastana, instruktur Safety Riding di ajang U Mild U Bikers.

Jadi, motor yang tegak di atas dua roda itu yang menopang bobot motor termasuk berat pengendara. Anggap beban yang dipikul motor sekitar 170 kg. Ini penjumlahan berat motor yang sekitar 105 kg dan berat sampeyan yang kira-kira, 65 kg.

Coba saja tegakkan motor tanpa standar dengan kecepatan nihil alias 0 km/jam. Yakinlah, motor itu bakal gedubrak. Atau kenapa motor bisa tergelincir saat menikung.

Motor tergelincir di jalan ketika nikung karena ban yang menyentuh ke aspal lebih kecil. "Juga diakibatkan gaya inersia yakni gaya tegak lurus yang bekerja pada sebuah kendaraan tidak searah dengan arah roda depan," tambah Joel.

MOTOR Plus sempat merasakan tergelincir akibat gaya ini ketika mengadakan tes pengereman ekstrem dengan roda depan. Saat roda depan terkunci, arah roda dan setang tidak lurus dan searah gaya inersia, akibatnya motor kehilangan traksi dan jatuh.

Nah, mari kita lihat seberapa napak ban ke aspal. Ambil sebuah kertas putih. Standar tengah motor. Angkat roda belakang. Kemudian, letakkan kertas putih tadi di bawah ban. Turunkan ban tadi. Angkat kembali ban dan ambil kertas putih yang sudah terjejak tapak ban.

Dari beberapa motor yang disurvei MOTOR Plus, ban motor bebek dengan profil 2,75-17 dan motor sport dengan berprofil 3,00-18 relatif tidak jauh beda. Panjang jejak sekitar 8-9 cm sedang lebar jejak sekitar 2-3 cm.

Untuk skubek dengan ring 14 inci berkisar panjang 6 cm dan lebar 3 cm. Sedikit sekali kan menapak. Tidak lebih besar dari jengkal anak kecil. Karena itu hati-hati, sebab nyawa (baca: keselamatan) anda cuma sebesar itu.

Perempuan dan Lalu Lintas

SUMBER BERITA

Sering keberadaan pengendara cewek mengganggu pengguna jalan lain. Mereka seperti kurang paham aturan lalu lintas atau acuh pada aturan. Seperti berpindah jalur tanpa sein, bahkan kerap berhenti mendadak tanpa minggir dulu.

Paling fatal, banyak kaum ibu ngeboncengin anak tanpa perlengkapan safety seperti helm. Bahkan bisa boncengan lebih dari satu orang dan tanpa helm. "Kalau jemput kakaknya ke sekolah adiknya pasti pingin ikut juga. Kadang teman anak saya sekalian numpang kalai kebetulan ibunya gak bisa jemput. Ya sudah bonceng bertiga. Toh jaraknya dari rumah ke sekolah cuma 3 km. aku Ida, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Cibubur.

Faktanya motor yang memang ditujukan buat pangsa pasar wanita, kini lalu lintas kota seperti Jakarta, makin ramai dengan lady biker. "Mereka punya hak yang sama dengan biker lain. Malah umumnya lady biker ini jalannya pelan. " aku Andy Maulana, Humas Honda Vario Club (HVC).

Menurut Jusri Pulubuhu, training director Jakarta Devensive Driving Consulting (JDDC), pengendara wanita memang memiliki kecenderungan lamban. Misalnya gerakan perpindahan dari area ke area lain bertahap (gradually). Sehingga pada saat manuver yang seharusnya dilakukan dengan segera, lady biker melakukan dengan lambat. Sedangkan pada saat mereka harus melakukan segera. Malah dilakukan dengan gradually stop.

Pengaruh mind set lady biker yang tidak mudah curiga. Mereka cenderung tidak memiliki kemampuan self assessment. Yaitu kemampuan analisis terhadap sesuatu yang tidak diharapkan. Ini sangat diperlukan saat mereka berada di killing field (jalan raya) yang tinggi dibanding biker laki-laki. Manuver yang dilakukan pun sering ragu-ragu. Ini membuat para pemakai jalan lain bingung. Dan bisa berakibat fatal.

Seorang biker harus SMART yaitu Secure, Measured, Accurate, Reasonable, dan Timely. "Persyaratan untuk memberikan output SMART semua bikers harus memiliki referensi yang kuat. Dan itu tidak cukup diperoleh dari pengalaman, "tutup Jusri.

Sumber MOTORPlus No. 436/VIII

Melibas Polisi Tidur

SUMBER BERITA

M+ Online - Salah satu handicap bikers di jalan raya yakni polisi tidur. Kecelakaan mulai dari yang ringan sampai serius terjadi karena tidak melihat atau sadar ada polisi tidur. Padahal siang bolong, lho!

Biar terhindar dari kecelakaan, Jusri Pulubuhu, Director Training Jakarta Defensive Driving Consulting kasih tips. Menurutnya, orang yang terlibat kecelakaan sering mengatakan. “Saya tidak melihat benda, orang, mobil, lubang.”

Untuk mengantisipasi kelemahan ini, pengendara harus menerapkan kebiasaan melihat sejauh mata memandang (aim high), sambil melakukan scaning terhadap objek bahaya di depannya.

Jangan melaju dengan kecepatan konstan atau melakukan perlambatan ekstrem saat melintasi handicap. “Hal ini membuat buritan melenting ke atas ketika roda belakang membentur polisi tidur,” jelas pria berambut pendek ini.

Banyak pengendara jatuh gara–gara ngerem pas di atas handicap. Karenanya, pengereman dilakukan sebelum melintasi.

Bagaimana dengan posisi berkendara? Untuk menjaga keseimbangan, saat roda depan menyentuh polisi tidur, posisi badan cenderung ke depan dengan kedua tangan menekuk melebar. Sebaliknya, setelah roda depan telah melewati polisi tidur, posisi badan ke arah belakang dengan kedua tangan mendorong handle bar ke depan.

Thursday, February 5, 2009

Do & Don’t Berkendara Motor Saat Hujan

SUMBER BERITA

Bagi pengendara roda dua, musim hujan bisa jadi kendala kegiatan. Tak heran, meskipun hujan lebat, enggak sedikit pemilik motor yang memaksa menerjang biar cepat sampai tujuan.

Wah, bahaya tuh kalau dilakukan setiap hari. Enggak cuma sakit flu maupun batuk pilek, bahayanya kalau sampai kecelakaan dan nyawa taruhannya. Nah, biar semua itu enggak terjadi, lebih baik berteduh atau tidak meneruskan perjalanan.

“Demi keamanan dan keselamatan lebih baik berteduh. Tapi di tempat yang aman, jangan di bawah pohon maupun neon box yang sewaktu-waktu bisa roboh akibat hujan sekaligus angin kencang,” urai Jusri Pulubuhu, training director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Kalau memang tidak bisa ditunda dan harus cepat sampai tujuan, nyalakan lampu depan maupun belakang besutan untuk memberikan indikator pada pengendara lain. “Ini juga sebagai alat komunikasi dan demi keselamatan bersama,” tambah Jusri.

Selain itu berjalanlah dengan kecepatan rendah dan konstan, serta jaga jarak dengan kendaraan lain. “Misal butuh rem mendadak meski jalan agak licin, motor masih tetap bisa terkontrol dan tidak menabrak kendaraan di depannya,” ujar pria ramah ini.

Selain itu jangan lupa gunakan jas hujan model pisahan (celana dan baju pisah). “Jangan memakai jas hujan model terusan (ponco, red), karena rawan kecelakaan. Bisa nyangkut di gir roda belakang,” tambah Inuk Blazer, ketua Inuk Blazer Ladies Bikers Club (IBLBC) Jakarta.

Lanjutnya, bila ketebalan ban tidak memungkinkan atau terlalu tipis, jangan paksakan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Pasalnya, ban tipis sangat licin dan rawan kecelakaan’.

Disiplin Berkendara

SUMBER BERITA

Tuesday, 07 October 2008
Sekarang ini banyak yang menuding kalau motor biang kerok kematian di jalan raya. Kata lainnya, motor nggak cuma alat transportasi tapi juga mesin pembunuh nomor satu. Di waktu lalu, MOTOR Plus mengulas masalah ini. Mendalaminya, kami ajak rembug Prof. Dr. Danang Parikesit, Senior Researcher Transport Planning And Financing Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Beliau setuju jika motor sangat berbahaya dengan data-data. “Sebanyak 30 ribu orang tewas per tahun karena kecelakaan bermotor dan 70 persen atau sekitar 21 ribu orang karena motor,” ulasnya. Dari penelitiannya, Danang menyimpulkan, sebab utama kecelakaan karena perilaku berkendara yang salah. “Di samping kelaikan motornya sendiri,” tegas pria yang menukangi Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM ini.

Pak Prof memberikan kuncian dua hal yakni perilaku mengendara dan kelaikan motor. Jadi bukan semata motor sendiri yang jadi pembunuh! Prof. Dr. Rahardi Ramelan, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya mengungkapkan dalam makalahnya Ada Apa Di Jalan Raya Kita, yangf isi mengenai keganjilan yang terjadi di jalan raya. Ia menekankan aspek disiplin berlalu lintas yang lemah dari pengendara.

“Perilaku dari kebanyakan pengendara dan pengawas lalu lintas jauh dari harapan. Etika yang jadi pegangan jauh ditinggalkan,” tegasnya. Sebagai tambahan yang nggak kalah penting, environment dalam aktivitas bermotorpun perlu diperbaiki. Pemerintah sebagai penyelenggara negara menjadi titik penting ikhwal masalah ini.

“Masalahnya motor adalah benda terkecil di jalan raya. Saat terjadi kecelakaan, otomotis kemungkinan kematian atau cedera fatal ya motor,” gambar Joel Deksa Mastana, Chief Instructor, Motorider Safety. Jusri Pulubuhu Director Training Jakarta Defensive driving Consulting (JDDC) ambil peran. “Ada 4 faktor penting yang membuat motor bahaya dan nggak bisa dilihat sepotong-sepotong! Kebijakan, penegakan hukum, infrastruktur dan pendidikan,” seriusnya.

Dari gambaran tadi, ‘Pembunuhan’ yang melibatkan motor tadi disebabkan faktor internal dan eksternal. Di sisi internal, pendidikan keselamatan berkendara dan kesadaran pemakai jalan memang masih rendah. Diakui, pengguna motor sering berperilaku tak ideal di jalan. Dari pengamatan sehari-hari, MOTOR Plus mencatat beberapa perilaku tak safety seperti zig-zag (bergerak tak konstan kanan-kiri tak beraturan, unskillful (skill rendah dalam berkendara), kamikaze (terlalu berani ngadu seperti ingin bunuh diri) dan banyak lagi.

Jenis riders seperti ini banyak di jalanan. Ironisnya, saat terjadi benturan di jalanan, merekalah yang paling fatal akibatnya. Sisi ekstern ‘pembunuhan’ yang dilakoni motor tentunya pada ‘lawan’ di jalanan khususnya mobil. Pengguna jalanan ini sama tak patutnya di jalanan.

Lihat mobilis angkot yang berhenti sembarangan, supir bus dan truk di luar kota terutama Pantura yang ‘mengintimidasi’ pengendara dan menganggap mereka hanyalah penganggu perjalanan. Padahal mereka seharusnya tahu kesamaan hak di jalanan karena sama-sama membayar pajak.

MEKANISME PENERBITAN SIM HARUS DITERAPKAN SERIUS

Coba perhatikan brosur mekanisme penerbitan SIM dari markas besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Direktorat Lalu Lintas. Di situ tertera syarat memiliki SIM yakni KTP/Passpor, Kesehatan dan Ijazah/Sertifikat Sekolah Mengemudi.

Nah, yang terakhir ini hampir mirip dengan sertifikat safety riding. Makin sip, ada hukum yang melindungi hal ini. Simak peraturan pasal 230 PP No. 44/93. Di situ dijelaskan bahwa SIM tak berlaku jika perolehannya dengan cara tidak sah alias tidak dilengkapi syarat di atas. Dengan kata lain, polisi berhak menganggap SIM tak sah jika pemilik tidak memiliki ijazah-sertifikat mengemudi.

Pada kesempatan lain, Direktur Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia, Brigjen Yudi Sushariyanto pernah mengatakan, pihaknya belum akan menerapkan sertifikat safety riding dalam pengambilan SIM.

Iwan Fals pernah ngomong ke Em-Plus kalau kekacauan jalan bisa diatasi dengan cara memperbaiki sitem atau proses pembuatan SIM. Terserah mau itu SIM A (mobil) atau SIM C (motor). “Itu benar berjalan, lalu lintas pasti nyaman,” kata bang Iwan yang rambut putihnya sudah mulai banyak itu.


Written by Otomotifnet.com
http://otomotifnet.com/otoweb/index.php?

Perlengkapan Safety Foxy Lady

SUMBER BERITA

Dihitung jumlah memang nggak ada data pasti. Namun yang pasti, di jalanan pengendara cewek terlihat makin banyak. Ada banyak alasan foxy lady naik motor. Lebih efisien soal waktu dan biaya. Namun, ada juga alasan khusus. Seperti ingin menghindari pelecehan seksual di sarana transportasi.

"Perlengkapan kendaraan seperti helm, jaket, sarung tangan dan sepatu tetap wajib bagi pengendara termasuk wanita. Namun, tetap mempertimbangkan aspek gaya," jelas Joel D. Mastana, instruktur safety riding di U Mild U Bikers.

Soal keamanan, tidak ada perbedaan khusus helm cewek atau cowok. Semua harus mengikuti kaidah berkendara, seperti memenuhi SNI atau tingkatan yang lebih tinggi seperrti SNELL.

Namun demikian karena ada sedikit perbedaan fisik, perlu kekhususan tersendiri buat foxy lady. "Umumnya, ukuran kepala cewek lebih kecil. Di pasaran banyak pilihan warna ngejreng. Pink dan motif lucu, seperti bunga. Pilihlah itu," jelas Dewi, pengendara motor dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut Anggono Iriawan, prinsip penggunaan helm, selain memenuhi unsur aman juga nyaman bagi kepala. "Kebesaran tidak bagus begitu juga sebaliknya ," jelas Kepala Instruktur Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM) itu.

Pertimbangkan juga penggunaan anting bagi kaum perempuan. Anting yang panjang bisa nyangkut dan pastinya menyulitkan ketika pakai helm full-face. Ini mengakibatkan konsen mbak atau neng bisa terganggu saat berkendara.

Perlengkapan lain, sarung tangan. Di pasaran tersedia aneka sarung tangan. Mulai bahan kulit atau kombinasi kulit dan kain. Bentuknya ada yang setengah atau tertutup.

"Pilih sarung tangan yang tidak licin saat memegang grip atau setang. Bahan kulit sangat disarankan. Juga pilih sarung tangan tertutup," tambah Joel D. Mastana lagi.

Sebagian foxy ladyjuga tetap mengedepankan unsur gaya. Jaket harus bisa membantu keamanan pengendara wanita. Melindungi dari terik matahari dan melindungi dada dari angin. Menurut Jusri Pulubuhu, jaket melindungi bagian tubuh ketika jatuh. "Membantu mengurangi gesekan kulit dengan aspal," jelas Direktur Training, Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Tak kalah penting, penggunaan sepatu. Cewek masih sering terlihat memakai tumit tinggi. "Ini mengurangi kemampuan kaki untuk menginjak rem atau oper gigi. Sebaiknya memakai sepatu yang hak-nya tidak lebih 2 cm. Soal gaya itu terserah masing-masing. Yang jelas harus aman dulu. Safety first," tutup Anggono.

TIPS PRAKTIS:
  1. Pas riding dianjurkan pakai sun-block dan baru berdandan saat tidak naik motor.
  2. Lindungi mata dengan helm full face, goggle atau kacamata yang baik. Menurut dr. Deden W. Sorna, senior Tiger Association Bandung (TAB), debu dan partikel mudah menyerang dan menyebabkan inflamasi (peradangan) dan pinquekula (perlemahan).
  3. Sering melakukan perawatan tubuh. Mulai creambath, hair masker dan hair spa. Menurut Anna Listiana, pemilik Anna Salon, di Jakarta Barat, perawatan ini untuk melancarkan peredaran darah dan syaraf agar tetap fresh dan cantik.

Konyol di Lampu Merah

SUMBER BERITA

Perilaku konyol kadang ditunjukkan bikers saat berhenti di perempatan lampu merah. Yang jelas bukan semata menyebalkan pengguna jalan lain. Tapi juga membahayakan. Lihat apa aja sih prilaku buruk yang memang tidak perlu ditiru. Wuuuu...

MEMOTONG JALUR

Tabrakan dari arah samping bisa dihindari jika pengendara tidak memotong jalur pengguna jalan lain. Maklum, motor mudah terobos sana-sini. Jadi, asal ada ruang bisa ngambil jalur lain. "Risiko seperti ini harus dihindari. Karenanya jangan ambil jalur orang lain," jelas Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting.

'KORUPSI' LAJUR KIRI

Risiko disenggol dari belakang bisa terjadi karena lajur kiri dipakai untuk berhenti. Korupsi jalur yang sebenarnya untuk satu motor diisi sampai tiga motor. Akibatnya, pengendara di belakang jadi tidak bisa jalan.
"Melanggar garis batas sangat berbahaya buat pengendara. Posisi ini bisa jadi rebutan antara sesama pengendara. Parahnya, kalau disenggol dari belakang," jelas Hamisuseno, dari klub Hornet (Honda on Internet)

TIDAK SABAR

Sering melihat, pengendara yang tidak sabar menunggu lampu ganti warna dari merah ke hijau. Tancap gas! Sebaiknya, pengendara bersikap aman. Waktu sedetik tidak banyak pengaruhnya kok. Makanya, jangan langsung tancap gas start apalagi sampai jump start. Emangnya mau balap?

"Ini mengurangi kecelakaan kalau pengendara dari arah lain juga tidak sabar, lampu merah diterobos. Perilaku menerobos lampu merah dan melewati marka jalan juga membahayakan diri," jelas AKP Harry Setiyadi, Kasie Idik Lantas Polda Metro Jaya.

Wednesday, February 4, 2009

Dibonceng Bukan Pasangan

SUMBER BERITA

Entah karena canggung, boncenger cewek enggan duduk rapat sama pengendara. Umumnya, mereka jaga jarak. Maklum, si pengendara bukan yayang atau suami tercinta. Makanya jadi atur jarak gitu. Wah, macam Metromini aja! Sebenarnya duduk duduk berjarak bikin pengendalian jadi nggak karuan. Pengendara jadi terasa berat. Belum lagi kalau saat melakukan manuver. Jusri Pulubuhu menyatakan dalam berkendara tidak ada hubungan atau tidak. Lebih diutamakan posisi duduk yang benar. Ini untuk keselamatan pengendara juga boncenger, jelas Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) itu.

Duduk rapat dengan pengendara untuk menjaga keseimbangan dan motor tidak bergeser. Dengan menempel ke pengendara, maka titik keseimbangan antara motor dengan pengendara dapat dijaga. Posisi duduk jangan sampai melawan arah pengendara. Ikuti gerak arah pengendara, tambah pria berkantor di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu lagi.

Kedua lutut juga harus merapat atau menggapit pinggul pengendara. Agar pengendara bisa menjaga irama kendaraan dengan boncenger, bilang Anggono Irawan, Kepala Instruktur Safety Riding, PT Astra Honda Motor (AHM).

Boncenger ngak usah sungkan saat tangan merapat atau merangkul pinggang yang membinceng. Dengan begitu, jika ada gerak mendadak yang dilakukan pengendara bisa diikuti boncenger. Kalau sungkan berpegangan atau memeluk pengendara, minimal paha mengapit ke pinggul pengendara, wanti Jusri lagi.

Tapi ini kurang mendukung ketika terjadi gerakan ke depan atau ke belakang yang mendadak, kemungkinan jepitan gampang lepas, karena tidak didukung pegangan erat dan pengendara mudah kehilangan kestabilan.

Jadi, ngak perlu sungkan. * Tining

Sumber : Motor Plus, edisi 365, Sabtu 25 Februari 2006
Disesuaikan oleh : Adi/SSFC-056

TVS Adakan Safety Riding Course

SUMBER BERITA

Kepedulian TVS ternyata tidak hanya memasarkan produk Apache dan NEO, tapi juga kepada para pengendara motor. Tingginya angka kecelakaan sepeda motor di jalan raya membuat produsen motor yang baru berkiprah di Tanah Air awal tahun ini cukup concern ikut bertanggung jawab terhadap keselamatan pengendara motor. Ini dibuktikan dengan digelarnya kursus singkat keselamatan berkendara bagi para pengendara motor Ibukota bertempat di Putt-putt Golf Café, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/5) lalu.

Kursus yang dipandu oleh Jusri Pulubuhu, instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) tersebut mengajarkan bagaimana cara aman mengendarai motor di jalan raya. Kursus diikuti oleh ratusan anggota club motor yang tersebar di seluruh Jakarta. Menurut Jusri, banyaknya jumlah kecelakaan motor di jalan raya disebabkan kurang penguasaan pengendara terhadap motor yang dikendarainya. Pengendara hanya sekedar bisa menjalankan motor tapi tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang teknis berkendara. Dalam slide yang dipresentasilkan dihadapan peserta kursus, Hengki memaparkan beberapa contoh kecelakaan yang disebabkan keteledoran pengendara. Dan ia pun memberi tahu beberapa trik agar bisa menghindari kecelakaan tersebut.

Presentasi Jusri dilanjutnya dengan praktik test ride menggunakan Apache di area parkir Pintu Satu Senayan. Peserta kursus diberi kesempatan secara langsung mempraktekan teori yang telah diperoleh dengan kondisi rintangan di lapangan. Mereka harus melalui jalan berkelok serta halangan tembok besar yang dibuat dari susunan batu beton. Skill mereka makin diuji saat harus melewati sederetan lubang dan jalan yang menyempit. Puncaknya, peserta diwajibkan melewati jalanan berpasir dan tanjakan yang cukup tajam. Umumnya, rintangan yang gagal dilalui dengan mulus saat melewati jalan berpasir. Banyak peserta terjatuh karena tidak bisa mengendalikan motornya.

Menurut Mr. Kulkarni P.V, Head of Engineering TVS Motor Company Indonesia, tujuan utama kursus ini adalah untuk membekali para pengendara motor dengan edukasi yang cukup sehingga mampu menghindari kecelakaan di jalan raya. “Pengetahuan berkendara sangat penting untuk dikuasai. Diharapkan dari kursus ini dapat mengedukasi pengendara sehingga memiliki penguasaan teknis berkendara yang lebih baik agar mereka terhindar dari kecelakaan,” ujar Kulkarni.

Dari data Polda Metro Jaya, selama 2007 telah terjadi kecelakaan sepeda motor sebanyak 3900 kali dan lebih dari 700 orang meninggal dari kecelakaan tersebut. Dan diperkirakan dengan makin banyaknya sepeda motor yang beroperasi di Jakarta, angka kecelakaan pun akan semakin meningkat. Untuk itu, kursus seperti yang diadakan TVS Motor bisa menjadi salah satu langkah preventif untuk menekan angka kecelakaan. Dan TVS mempunyai komitmen untuk membantu mengurangi angka kecelakaan itu yakni selain membuat produk berkualitas dengan tingkat keamanan tinggi, juga melakukan berbagai edukasi kepada para pelanggannya khususnya yang tergabung dalam TVS Motor Community (TMC) yang baru saja didirikan.

Kursus singkat tersebut ditutup dengan iringan pawai peserta kursus di sekitar jalan Sudirman – Thamrin serta pemberian sertifikat kepada para peserta.

Tuesday, February 3, 2009

Bukan Sekadar Alat Penerang

SUMBER BERITA

DAHONO FITRIANTO
- Lampu pada dasarnya diciptakan sebagai alat penerang untuk membantu penglihatan pada saat keadaan di sekitar kita gelap gulita. Namun, lampu-lampu yang terpasang pada kendaraan punya fungsi lebih dari sekadar alat penerang di saat gelap.

Sebuah fakta mengejutkan diceritakan seorang teman. Saat berkendara di jalan tol, suaminya yang memegang kemudi berulang kali membunyikan klakson untuk meminta jalan saat hendak menyalip. Waktu diingatkan untuk menggunakan isyarat lampu dim daripada klakson, suaminya menjawab, "Lampu dim? Apa itu?"

Seorang teman lain suatu malam hampir ditabrak sepeda motor dari belakang gara-gara sewaktu membelok tak memberi isyarat lampu sein. Waktu ditanya mengapa tak menyalakan lampu sein, ia menjawab, "Kan lampu lainnya sudah nyala, kalau ditambahi lampu sein, akinya bisa habis."

Itulah fakta yang ada di tengah masyarakat. Meski hampir setiap saat mengemudikan kendaraan bermotor, sebagian orang masih tak paham tentang fungsi mendasar pada mobil atau sepeda motornya. Salah satunya adalah fungsi lampu kendaraan yang sangat vital.

Secara umum, orang akan berpendapat lampu hanya berfungsi sebagai alat penerang. Pendapat itu benar, tetapi hanya untuk fungsi lampu utama (headlights) di bagian depan kendaraan. Sementara lampu yang dipasang di mobil atau motor tidak hanya lampu utama.

"Lampu bukan sekadar alat penerang. Lampu adalah alat komunikasi antarsesama pemakai jalan," tutur Jusri Pulubuhu, Direktur Pelatihan Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Sebenarnya, sebagian besar lampu yang dipasang di mobil atau motor lebih banyak berfungsi sebagai alat komunikasi daripada untuk penerang.

Kenali lampu

Bagian depan dan belakang kendaraan bermotor wajib dilengkapi dengan beberapa jenis lampu. Pada bagian depan, terdapat tiga set lampu yang wajib dipasang dan berfungsi dengan baik, yakni lampu utama (berwarna putih), lampu senja atau lampu kota (putih), dan lampu sein (kuning).

Lampu-lampu ini sudah menjadi perlengkapan standar saat mobil/motor keluar dari pabrik. Pada beberapa mobil keluaran terbaru, lampu kabut (foglamp) juga menjadi perlengkapan standar yang dipasang di bagian depan mobil.

Sementara di bagian belakang mobil terdapat lima set lampu yang menjadi perlengkapan standar wajib. Yakni, lampu penanda belakang (taillights, warna merah), lampu rem (merah), lampu sein (kuning), lampu mundur (putih), dan lampu penerang pelat nomor (putih). Semua lampu tersebut—kecuali lampu rem— dapat diaktifkan dari tuas dan tombol yang terletak di dekat roda atau setang kemudi. Posisi dan penggunaan tuas-tuas ini dapat dibaca pada buku petunjuk pemakaian (buku manual) kendaraan masing-masing.

Secara umum, tuas pengaktif lampu utama pada mobil-mobil buatan Jepang terletak di sebelah kiri roda kemudi. Bentuknya tuas putar yang terdiri atas dua tingkat putaran. Sementara tuas pengaktif lampu sein dan lampu dim (pass lights) terletak di sebelah kanan roda kemudi.

Saat tuas pengaktif lampu utama diputar sekali, lampu-lampu yang akan aktif adalah lampu senja (lampu kota), lampu penanda belakang, dan lampu penerang pelat nomor. Aktifkan lampu-lampu ini saat cahaya matahari mulai meredup, biasanya pada senja atau menjelang matahari terbit.

Pada waktu-waktu itu, kondisi di sekitar kita masih dapat terlihat, tetapi tak jelas atau remang-remang. Dalam kondisi demikian, orang perlu menyalakan lampu sekadar menjadi penanda agar kendaraannya terlihat pengguna jalan lain.

"Fungsi lampu tidak hanya agar kita bisa melihat orang lain, tetapi juga agar orang lain bisa melihat kita. Meski berkendara di tengah kota yang terang-benderang, tetap nyalakan lampu agar orang tahu keberadaan kita," ujar Jusri.

Sesuai fungsinya

Apabila tuas lampu diputar sekali lagi, lampu utama akan menyala. Aktifkan lampu utama hanya pada saat hari sudah benar-benar gelap dan orang tak bisa melihat kondisi jalan di depan.

Lampu utama terdiri atas dua jenis, yakni lampu dekat (low beam) dan lampu jauh (high beam). Saat lampu jauh diaktifkan, terdapat indikator high beam berwarna biru yang menyala di panel indikator dashboard.

Kedua jenis lampu dibuat dengan fungsi masing-masing. Pada saat kondisi normal dan jalan ramai, cukup nyalakan lampu dekat.

Namun, saat menempuh jalan luar kota yang gelap dan sepi, nyalakan lampu jauh yang memiliki sudut lebih tinggi hingga daya jangkauan sinar lampu lebih jauh ke depan. Konsekuensinya, orang yang datang dari arah berlawanan akan silau terkena sorot lampu tersebut.

Menggunakan lampu jauh tidak pada tempatnya, selain melanggar etika dan sopan santun berkendara, juga dapat membahayakan pengguna jalan lain.

"Saat pengendara dari arah berlawanan silau, dia tidak bisa melihat kondisi jalan di depannya. Itu bisa sangat berbahaya," tutur Jusri.

Lampu jauh ini juga menyala saat tuas lampu dim (pass light) diaktifkan, yakni dengan menarik tuasnya ke arah pengemudi. Fungsi lampu dim untuk memberi isyarat peringatan kepada pengguna jalan lain. Gunakan isyarat lampu ini saat hendak menyalip.

Lampu dim juga dipakai untuk memberi peringatan kepada kendaraan dari arah berlawanan yang masuk ke jalur yang sedang dilalui. Kedipan lampu dim satu atau dua kali sudah cukup untuk meminta perhatian pengguna jalan lain.

"Jangan gunakan lampu dim terlalu sering karena lampu dim dan klakson melambangkan sikap orang yang berteriak atau melotot. Kita bisa dianggap tidak sopan dan membuat marah pengendara lain," ujar Jusri

Perlu skill khusus tunggangi moge

SUMBER BERITA

Kecelakaan tidak hanya terjadi pada pengguna kendaraan roda dua biasa. Penunggang kuda besi besar alias motor gede (moge) pun banyak yang mengalami. Hal ini marak terjadi karena berkendara lebih didasarkan pada pengalaman, tanpa penguasaan skill yang cukup.

Tidak seperti kecelakaan motor yang jumlahnya dicatat hingga jutaan setahun, accident para pengguna moge tidak banyak diketahui publik, padahal kejadiannya juga tidak sedikit.

Hal ini terjadi karena komunitas pengguna motor besar ini berlatar belakang orang mapan dan punya jabatan. Kecelakaan yang merugikan diri sendiri ataupun korban orang lain, bagi kelompok ini tak pantas diekspos ke publik.

Jusri Pulubuhu, Direktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menyatakan negara ini tidak memiliki rekaman data yang valid terkait dengan jumlah kecelakaan yang melibatkan moge, tapi dia meyakini jumlahnya cukup besar.

Jika dirunut ke belakang, lanjutnya, tingginya angka kecelakaan di negara ini bermula pada praktik "abuse off policy." Ketentuan seseorang harus mengikuti sekolah mengemudi sebelum mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) tak pernah dipatuhi.

"Mengendarai moge itu tidak sama dengan motor biasa. Butuh skill dan trik untuk mengendalikannya," kata Jusri saat memberi arahan pada Riding Dynamic Course) bertajuk Ride Like A Master bagi komunitas Indonesian Bikers Society (IBS) 888, belum lama ini.

Berkendara tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga lingkungan di sekeliling. Sebuah kecelakaan terjadi tidak hanya akibat kelalaian pengendara, tapi justru bisa terjadi karena pihak lain melakukan kesalahan.

Tiga Faktor

Jusri menyebutkan tiga faktor yang harus dikuasai benar penunggang moge saat melintas di jalan raya, yaitu lintasan, kecepatan (speed), dan postur tubuh saat di atas motor.

"Ketiganya harus dijaga seproporsional mungkin. Butuh skill khusus untuk mengetahui kapan harus menambah kecepatan dengan memerhatikan lintasan yang sempit."

Riding position harus disesuaikan dengan posisi kendaraan dan gerak yang akan dilakukan dengan moge. Jika ini dilakukan, berkendara akan terasa lebih aman dan nyaman, termasuk saat menerapkan teknik belok, mengerem, ataupun saat mengangkat kendaraan yang terjatuh.

"Satu orang pun cukup menegakkan moge yang roboh," katanya seraya memberi contoh teknik yang memanfaatkan berat motor Honda Goldwing untuk menekan tenaga yang harus dikeluarkan.

Mengendarai motor berbobot 200 kg-300 kg ini memang akan memberi kesan gagah dan nyaman. Akan tetapi di balik itu bukan tidak mungkin justru bisa membahayakan diri atau bahkan orang lain, jika tak dibekali pengetahuan.

Belum lagi, akan menjadi sasaran sumpah serapah pengguna jalan akibat praktik berkendara yang ugal-ugalan dan arogan.

Jika hanya sekadar mengendarai, mungkin bukan persoalan yang terlalu sulit. Karena itu, tak ada salahnya pemilik moge membekali diri dengan skill khusus sehingga berkendara atau touring yang dilakukan tidak setiap hari ini bisa lebih aman dan nyaman. Baik buat diri sendiri maupun lingkungan. (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id)

Ride Like a Master

SUMBER BERITA

Jum'at, 24 Oktober 2008

TEMPO Interaktif, Jakarta: Roda boleh sama dua, tetapi perlakuan harus beda. Itu karena jenis motor secara kasat mata memang berlainan. Yang satu bermesin kecil dengan berat puluhan kilogram, yang lain berbobot ratusan kilogram dengan kapasitas mesin jumbo dan tenaga gajah.

Tak heran bila tidak semua orang bisa mengendalikan motor besar bertenaga badak itu. Ini yang dialami Adi Nugroho, presenter televisi swasta, penggemar motor besar. Dia mengaku baru tahu cara memegang setang secara benar setelah mendapat penjelasan dari instruktur terlatih. "Tidak semudah itu ternyata," ucap pemilik Harley Davidson Electra Glide Police itu.

Tak hanya Adi, para pengguna motor besar yang tergabung dalam komunitas Indonesian Bikers Society (IBS) 888 pun mendapat pengetahuan tambahan cara berkendara motor besar secara benar dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Bertajuk Ride Like A Master, anggota IBS mendapat bekal teori dan praktek selama dua hari, Sabtu dan Minggu, pekan lalu. Dengan antusias tinggi mereka pun datang dengan membawa tunggangan masing-masing, dari Harley Davidson hingga Honda Goldwing.

Selain menggunakan motor pribadi, para peserta juga disediakan sebuah Harley Davidson Dyna Street Bob. Motor buatan 2007 itu digunakan untuk praktik lapangan.

Menariknya, acara itu dihadiri dua pakar safety riding bersertifikat international: Jusri Pulubuhu, pendiri dan instruktur JDDC, serta Joel Deksa Mastana, master instruktur dan direktur Safety Ride & Drive Center, Jakarta. "Kesempatan langka mendapat ilmu dari dua orang pakar safety riding skala international," ucap Arif Syahbani, salah satu peserta undangan dari komunitas sepeda motor.

Menurut Jusri Pulubuhu, direktur dan instruktur JDDC, kursus singkat semacam itu penting mengingat para pengendaranya bukan pengguna motor harian. "Mereka weekend biker, sehingga jam terbangnya kurang," katanya melalui surat elektronik, Selasa lalu.

Pelatihan yang melibatkan instruktur bersertifikat, lanjut Jusri, akan mengurangi kecelakaan sebelum, sedang, dan sesudah berkendara.

Joel Mastana menambahkan, kesalahan yang paling sering dilakukan para pengendara motor besar adalah kurangnya pemahaman dalam berlalulintas dan kurang akrab dengan motor yang digunakan. "Kemampuan berkendara, karakter motor, serta penggunaan perlengkapan kendaraan juga kurang," kata Joel.

Dijelaskan Jusri, seorang pengendara motor besar harus dapat mengoperasikan motor dengan terampil. Misal, terkait dengan whell base (jarak sumbu roda) yang panjang, ketika menikung, bila tak disikapi dengan benar, maka akan melebar. "Ini tentu menyulitkan si pengendara dan mengganggu pemakai jalan lainnya," papar Jusri. "Kecelakaan pada situasi itu mudah terjadi."

Oleh sebab itulah, baik Jusri maupun Joel, mewanti-wanti kepada para pengendara motor besar agar berlatih lebih dahulu secara benar sebelum turun ke jalan.

Motor besar berkapasitas mesin hingga lebih dari 1.000 cc dan mempunyai bobot 250 kilogram hingga 400 kilogram, itu, memang membutuhkan kemampuan khusus untuk dapat mengendalikannya.

Tentu agar weekend turing berlangsung aman dan nyaman. Bruuummm.....

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP