Showing posts with label ride like a master. Show all posts
Showing posts with label ride like a master. Show all posts

Monday, February 9, 2009

Moge Anda Jatuh? Tegak dengan Move Smart

SUMBER BERITA
foto : ari syahbani

Perlu trik khusus mengangkat si motor gede (moge) ketika si gajah ini tersuruk ke tanah. Soalnya motor besar dengan kapasitas mesin hingga 1000 cc itu mempunyai bobot antara 250 kilogram hingga 400 kilogram.

Jusri Pulubuhu, direktur dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) dan Joel Deksa Mastana, master instruktur Safety Ride & Drive Center, Jakarta, menegaskan untuk tidak mengangkat sendiri dengan cara-cara biasa. “Otot akan cedera hingga tulang punggung,” kata mereka kompak.

Teknik menegakkan motor besar itu dikenal dengan istilah Move Smart (Manual, Handling, Stepping and Lifting). Intinya, kekuatan pada saat mengangkat diperoleh dari otot triceps yang ada pada kedua paha dan memanipulasi bobot kendaraan agar dapat bertumpu pada kendaraan itu sendiri. “Seorang biker dengan bobot 60 kilogram pun dapat dengan mudah mendirikan moge yang berbobot 400 kilogram,” kata Jusri.

Berikut cara menegakkan motor besar seperti yang diajarkan Jusri dan Joel.

Motor Rebah Kanan
  1. Jangan panik.
  2. Ubah arah roda depan ke arah permukaan tanah.
  3. Gerakan stang / handle bar melekat ke tangki atau sampai mentok stopper, agar ketika mengangkat ada weight shifting.
  4. Pasang standar / tegakan standar untuk penyangga.
  5. Berbalik arah dengan punggung bawah menempel sadel, ingat posisi biker harus dari sisi kanan.
  6. Balikan kedua telapak tangan, dengan telapak kiri diletakan di handle grip, telapak kanan diletakan di jok atau bagian yang dapat digunakan untuk mengangkat. (Cari yang tidak mudah goyang, bergeser, atau permukaan pegangan harus kuat).
  7. Pastikan kedua tangan berada di green zone (area yang tidak jauh dari kedua pinggul kita) semakin jauh maka tenaga lift akan kurang.
  8. Periksa segala kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi.
  9. Pastikan punggung bagian bawah telah menempel sadel.
  10. Kedua kaki tidak terlalu melebar dan menjongkok dalam posisi proporsional.
  11. Mulai mengangkat, pastikan punggung pada posisi tegak lurus tidak bending /membongkok sebagai tindakan pencegahan cedera punggung.
  12. Ketika mengangkat gunakan power ditangan dan punggung secara maksimal.

Motor Rebah Kiri

Langkah sama persis diatas kecuali butir 3 dan dan 4.
Untuk mencegah motor jatuh kesisi kanan, maka ketika motor sudah mulai tegak sekitar 80 derajat segera berbalik dan pasang kuda-kuda dengan salah satu kaki biker harus maju dibanding posisi kaki satunya.

Tuesday, February 3, 2009

Perlu skill khusus tunggangi moge

SUMBER BERITA

Kecelakaan tidak hanya terjadi pada pengguna kendaraan roda dua biasa. Penunggang kuda besi besar alias motor gede (moge) pun banyak yang mengalami. Hal ini marak terjadi karena berkendara lebih didasarkan pada pengalaman, tanpa penguasaan skill yang cukup.

Tidak seperti kecelakaan motor yang jumlahnya dicatat hingga jutaan setahun, accident para pengguna moge tidak banyak diketahui publik, padahal kejadiannya juga tidak sedikit.

Hal ini terjadi karena komunitas pengguna motor besar ini berlatar belakang orang mapan dan punya jabatan. Kecelakaan yang merugikan diri sendiri ataupun korban orang lain, bagi kelompok ini tak pantas diekspos ke publik.

Jusri Pulubuhu, Direktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menyatakan negara ini tidak memiliki rekaman data yang valid terkait dengan jumlah kecelakaan yang melibatkan moge, tapi dia meyakini jumlahnya cukup besar.

Jika dirunut ke belakang, lanjutnya, tingginya angka kecelakaan di negara ini bermula pada praktik "abuse off policy." Ketentuan seseorang harus mengikuti sekolah mengemudi sebelum mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) tak pernah dipatuhi.

"Mengendarai moge itu tidak sama dengan motor biasa. Butuh skill dan trik untuk mengendalikannya," kata Jusri saat memberi arahan pada Riding Dynamic Course) bertajuk Ride Like A Master bagi komunitas Indonesian Bikers Society (IBS) 888, belum lama ini.

Berkendara tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi juga lingkungan di sekeliling. Sebuah kecelakaan terjadi tidak hanya akibat kelalaian pengendara, tapi justru bisa terjadi karena pihak lain melakukan kesalahan.

Tiga Faktor

Jusri menyebutkan tiga faktor yang harus dikuasai benar penunggang moge saat melintas di jalan raya, yaitu lintasan, kecepatan (speed), dan postur tubuh saat di atas motor.

"Ketiganya harus dijaga seproporsional mungkin. Butuh skill khusus untuk mengetahui kapan harus menambah kecepatan dengan memerhatikan lintasan yang sempit."

Riding position harus disesuaikan dengan posisi kendaraan dan gerak yang akan dilakukan dengan moge. Jika ini dilakukan, berkendara akan terasa lebih aman dan nyaman, termasuk saat menerapkan teknik belok, mengerem, ataupun saat mengangkat kendaraan yang terjatuh.

"Satu orang pun cukup menegakkan moge yang roboh," katanya seraya memberi contoh teknik yang memanfaatkan berat motor Honda Goldwing untuk menekan tenaga yang harus dikeluarkan.

Mengendarai motor berbobot 200 kg-300 kg ini memang akan memberi kesan gagah dan nyaman. Akan tetapi di balik itu bukan tidak mungkin justru bisa membahayakan diri atau bahkan orang lain, jika tak dibekali pengetahuan.

Belum lagi, akan menjadi sasaran sumpah serapah pengguna jalan akibat praktik berkendara yang ugal-ugalan dan arogan.

Jika hanya sekadar mengendarai, mungkin bukan persoalan yang terlalu sulit. Karena itu, tak ada salahnya pemilik moge membekali diri dengan skill khusus sehingga berkendara atau touring yang dilakukan tidak setiap hari ini bisa lebih aman dan nyaman. Baik buat diri sendiri maupun lingkungan. (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id)

Ride Like a Master

SUMBER BERITA

Jum'at, 24 Oktober 2008

TEMPO Interaktif, Jakarta: Roda boleh sama dua, tetapi perlakuan harus beda. Itu karena jenis motor secara kasat mata memang berlainan. Yang satu bermesin kecil dengan berat puluhan kilogram, yang lain berbobot ratusan kilogram dengan kapasitas mesin jumbo dan tenaga gajah.

Tak heran bila tidak semua orang bisa mengendalikan motor besar bertenaga badak itu. Ini yang dialami Adi Nugroho, presenter televisi swasta, penggemar motor besar. Dia mengaku baru tahu cara memegang setang secara benar setelah mendapat penjelasan dari instruktur terlatih. "Tidak semudah itu ternyata," ucap pemilik Harley Davidson Electra Glide Police itu.

Tak hanya Adi, para pengguna motor besar yang tergabung dalam komunitas Indonesian Bikers Society (IBS) 888 pun mendapat pengetahuan tambahan cara berkendara motor besar secara benar dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Bertajuk Ride Like A Master, anggota IBS mendapat bekal teori dan praktek selama dua hari, Sabtu dan Minggu, pekan lalu. Dengan antusias tinggi mereka pun datang dengan membawa tunggangan masing-masing, dari Harley Davidson hingga Honda Goldwing.

Selain menggunakan motor pribadi, para peserta juga disediakan sebuah Harley Davidson Dyna Street Bob. Motor buatan 2007 itu digunakan untuk praktik lapangan.

Menariknya, acara itu dihadiri dua pakar safety riding bersertifikat international: Jusri Pulubuhu, pendiri dan instruktur JDDC, serta Joel Deksa Mastana, master instruktur dan direktur Safety Ride & Drive Center, Jakarta. "Kesempatan langka mendapat ilmu dari dua orang pakar safety riding skala international," ucap Arif Syahbani, salah satu peserta undangan dari komunitas sepeda motor.

Menurut Jusri Pulubuhu, direktur dan instruktur JDDC, kursus singkat semacam itu penting mengingat para pengendaranya bukan pengguna motor harian. "Mereka weekend biker, sehingga jam terbangnya kurang," katanya melalui surat elektronik, Selasa lalu.

Pelatihan yang melibatkan instruktur bersertifikat, lanjut Jusri, akan mengurangi kecelakaan sebelum, sedang, dan sesudah berkendara.

Joel Mastana menambahkan, kesalahan yang paling sering dilakukan para pengendara motor besar adalah kurangnya pemahaman dalam berlalulintas dan kurang akrab dengan motor yang digunakan. "Kemampuan berkendara, karakter motor, serta penggunaan perlengkapan kendaraan juga kurang," kata Joel.

Dijelaskan Jusri, seorang pengendara motor besar harus dapat mengoperasikan motor dengan terampil. Misal, terkait dengan whell base (jarak sumbu roda) yang panjang, ketika menikung, bila tak disikapi dengan benar, maka akan melebar. "Ini tentu menyulitkan si pengendara dan mengganggu pemakai jalan lainnya," papar Jusri. "Kecelakaan pada situasi itu mudah terjadi."

Oleh sebab itulah, baik Jusri maupun Joel, mewanti-wanti kepada para pengendara motor besar agar berlatih lebih dahulu secara benar sebelum turun ke jalan.

Motor besar berkapasitas mesin hingga lebih dari 1.000 cc dan mempunyai bobot 250 kilogram hingga 400 kilogram, itu, memang membutuhkan kemampuan khusus untuk dapat mengendalikannya.

Tentu agar weekend turing berlangsung aman dan nyaman. Bruuummm.....

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP