Friday, February 27, 2009

Defensive Driving for Ladies : Astra Credit Company

Apa yang terlintas di benak anda saat melihat seorang pengemudi wanita ? Meremehkan kemampuannya ? Menunggu waktu untuk menghindar atas potensi kecerobohannya ? Atau justru mengagumi kemampuan yang mungkin terlihat di atas rata-rata. Sayangnya apa yang terlihat di jalan seringkali para kaum hawa ini berani melakukan multitasking saat mengemudi. Entah memegang ponsel, menata rias wajah atau bahkan saling bercengkerama dengan penumpang di sebelahnya. Angka kecelakaan yang melibatkan unsur fatal memang banyak diisi oleh pengemudi pria, pengemudi wanita justru mengemuka pada kasus-kasus yang sebenarnya terhitung remeh yang berefek kecerobohan. Tak heran klaim asuransi memunculkan data lebih dari 50 % berisi klaim-klaim yang datang dari pengemudi wanita.

Sabtu (14/2) bertempat di gedung Astra Credit Company (ACC) di bilangan TB Simatupang Jakarta Selatan, pihak ACC menggelar satu hari training "Safety Driving for Ladies". Di bawah arahan Jusri Pulubuhu, trainer dan foounder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), para peserta wanita yang hadir terlihat serius bahkan mengkritisi juga membenarkan setiap isi materi yang diberikan. Pada isi materi trainer membeberkan data yang diambil dari penelitian seorang pemerhati 'Road Safety' Dr Leon James asal Hawaii USA, dalam tabel yang dibuat terlihat masing-masing pengemudi pria maupun wanita memiliki sumbangsih masing-masing terhadap fakta kecelakaan. Kecelakaan fatal lebih banyak di dominasi cara berkendara kaum adam sementara insiden-insiden kecil justru dominan datang dari kaum hawa.

Training satu hari ini berisi setengah hari kelas teori yang menekankan terhadap "Road Hazard Awareness", lalu jeda makan siang peserta melakukan praktek sederhana atas pengendalian mobil, salah satunya adalah parkir paralel. Di kelas praktek itu pula peserta diberikan materi cek kendaraan sebelum memulai berkendara atau yang lebih dikenal dengan pengecekan ala P.O.W.E.R yaitu Petrol - Oil - Water - Electricity dan Rubber. Di samping itu juga diperagakan posisi memegang kendali setir yang benar hingga penggunaan seatbelt dan kursi bayi dalam mobil. Peserta tak kurang dari 15 orang ini terbagi atas dua mobil yang telah disiapkan. Di akhir sesi peserta tampak cukup puas mencoba ragam transmisi kendaraan beserta pengetahuan di dalamnya. Hendaknya ini bisa jadi sebuah pegangan karena sebuah proses training berkendara adalah investasi bagi peserta.

Wednesday, February 25, 2009

Antara Helm Motocross dan Helm Balap Jalanan

Helm pada dasarnya adalah sebuah perangkat keselamatan bagi pengendara, fungsinya lebih untuk mengurangi tingkat cedera yang mampir di kepala. Pada perkembangannya helm menjadi salah satu unsur fashion demi mendongkrak penampilan. Helm juga menjadi pembeda satu cabang olahraga terhadap olahraga yang lain. Bicara balap, bentuk helm yang berbeda justru ditampilkan cabang motocross dan balap jalanan. Bentuk helm motokros lebih dikenal sebagai helm cakil dengan bentuk 'pet' lebih mancung ke depan serta proteksi dagu yang juga lebih menjorok ke depan, sementara helm balap jalanan (street helmet) berbentuk lebih bulat dan lebih menekan kepala dengan kaca helm tanpa 'pet'.

Mengapa bentuknya bisa berbeda ? Karena secara fungsi adalah sama dan juga sama-sama berkutat dalam dunia balap. Ternyata bentuk helm ini memiliki karakterisitk dan fungsi yang berbeda. Apa saja ?

Motocross Helmet, dengan desain dagu yang lebih terbuka membuat pengendara lebih bebas mengatur nafas karena balapan motocross cenderung berisi lintasan-lintasan ketat dan menguras tenaga. Jika saja memakai 'Street Helmet' upaya mengambil nafas akan terus-terusan membuat kabut di kaca helm. Pada situasi tertentu seperti di lintasan berlumpur dan berpasir 'pet' helm juga berfungsi menghalau partikel debu untuk masuk lebih dalam ke kaca, tak heran pengendara lebih nyaman mengenakan 'Goggle' yang lebih mudah dibersihkan ketimbang memakai kaca pada helm. Di saat panas 'pet' juga dapat menghalau sinar matahari. Jika helm jenis ini dipakai di lintasan balap jalanan tentunya mengganggu sisi aerodinamika dimana helm rentan tertarik ke belakang karena desainnya yang lebih besar.

Street Helmet, dengan desain membulat mengikuti kepala helm jenis ini membuat sisi aerodinamika lebih terjaga dalam usahanya menambah kecepatan saat balapan. Pada balapan yang menggunakan jenis helm ini memang lebih menekankan pada kecepatan dan saling mendahului dalam tempo yang lebih kencang ketimbang balapan motocross. Ini yang membuat dari sisi desain antara 'Motocross Helmet' dan 'Street Helmet' menjadi berbeda.

Bagaimana jika helm-helm ini diaplikasikan ke penggunaan sehari-hari ? Tidak ada larangan dalam bentuk apapun dalam memilih helm sejauh helm memberikan proteksi lebih terhadap kepala dan memberikan kenyamanan pada penggunanya. Pastikan saja kita sudah memilih helm dengan benar.

Friday, February 20, 2009

Dr Leon James and Dr Driving

Membaca dan mempelajari data statistik kadar agresifitas antara pengemudi pria dan wanita melalui internet mengantarkan saya ke satu sosok pria yang belum pernah saya tau eksistensinya. Namanya Dr Leon James, seorang profesor psikologi asal Hawaii USA. Kelahiran (cek nanti). Apa yang membuat profil beliau menjadi lebih menarik ? Tidak lain kepeduliannya tentang area psikologi berkendara. Tentunya ini lebih dekat ke arah pengamatan ke si pengemudi kendaraan itu sendiri. Pernah dengar istilah "Dr Driving" ? Jika belum maka sosok Dr Leon James inilah yang berada di belakang layar tokoh Dr Driving.

Satu cerita menarik tentang Dr Leon James (Leon) sebelum beliau menekuni profesi seputar psikologi berkendara. Di hari minggu pagi yang indah di tahun 1982, selesai mengantar nenek dari istrinya (Dr Diane Nahl) tak diduga justru muncul keluhan atas perilaku buruk dirinya saat berkendara. "Leon is not a very good driver", begitu ucap sang nenek. Sontak Leon kaget dan mendesak kenapa sebutan itu bisa muncul. Jawaban yang diterima adalah mengenai buruknya Leon saat menikung. Sang nenek yang saat itu berusia 92 tahun tidak terima cara Leon menikung yang membuat terhempas ke pintu. Sang nenek mengeluhkan itu semua ke istri Leon. Leon sendiri menyebutnya bahwa itu adalah keluhan yang keterlaluan. "Pegangi saja pegangan pintu itu !", jawab Leon. Ternyata istrinya sendiri pun mengeluhkan soal yang sama soal perilaku berkendara Leon. Berubah lajur tanpa menengok, malas menyalakan sein saat hendak bermanuver selalu dilakukan Leon secara simulta, ini yang membuat sang istri, Diane juga merasa keselamatannya terancam.

Atas dasar keluhan-keluhan tersebutlah Dr Leon James sadar diri. Lalu Leon menemukan apa yang disebutnya "Partnership Driving". Di sisi lain Leon juga menemukan bentuk lain keberadaan teman di dalam dirinya sendiri. Muncul nama Dr Driving di benaknya. Inilah yang menyelamatkan pernikahan Leon, juga hidupnya, juga semangatnya. Ternyata sebelum mau berubah, Leon adalah seorang pengemudi yang individualis. Bergerak secara agresif, merasa selalu kompetitif dan oportunis termasuk perilaku 'mendekati' pejalan kaki saat mereka berjalan pelan, dan hal-hal lain yang mengancam keselamatan, baik diri sendiri dan orang lain. Leon merasa sudah cakap berkendara sampai-sampai teguran Diane tidak digubrisnya. Keteguhan hati Diane akhirnya memaksa Leon berbenah diri. Jadilah Leon saksi atas agresifitas cara berkendaranya sendiri. Leon lalu mulai menatapnya dari sisi psikologis, terlebih dia adalah seorang profesor psikologi. Modifikasi secara sistematis mulai dilakukannya, mulai dari merubah kepribadian, satu per satu, membangun sebuah identitas baru yang lebih modern, kompeten, bahagia serta lebih tenang.

Dr Driving semakin menunjukkan kepribadiannya di otak Leon, seolah seperti berbisik ketika Leon berkendara dan terus mengawasi pergerakannya. Lalu pelan-pelan Dr Driving mewujudkan beberapa efek sikap positif terhadap Leon saat berkendara seperti mengambil lebih sedikit resiko, memberikan hak jalan pengendara lain, menghormati aturan, berpikir cermat terhadap situasi lalu lintas serta peduli atas efek sebuah aksi saat berkendara. Jika meninggalkan Dr Driving maka kebiasaan lama bisa saja muncul mengemuka kembali, seperti mengemudi terlampau cepat, beresiko, selalu mencari celah dan kesempatan, sampai tindakan yang membuat emosi pengendara lain, penumpang sampai pejalan kaki.

Dr Driving hanyalah sebuah imajinasi dalam pikiran, kesadaran bawah sadar yang memberi kekuatan berubah kepada pemilik raga untuk melakukan modifikasi pada sikap berkendara mereka. Sebagai contoh jika pengemudi dalam keadaan tak beraturan dalam berkendara, tokoh imajinasi Dr Driving mereka akan mengambil alih dan memotivasi agar pengemudi kembali berlaku baik demi keselamatan.

Yah begitulah hasil pencarian saya tentang Dr Leon James dan tokoh nya Dr Driving. Soal statistik yang saya sempat tulis di awal artikel akan saya tulis di subject yang lain.

(Bersambung ... )

Wednesday, February 18, 2009

Lalu Lintas Jakarta di mata Ekspatriat

Pernah coba bertanya ke seorang pengemudi yang kebetulan warga asing (ekspatriat) tentang lalu lintas ibukota ? Pastinya cerminan buruk sampai juga ke mata mereka dimana jalan raya ibukota tidak sekalipun memberikan contoh baik dalam hal berlalu lintas. Ketiadaan etika, pemahaman aturan yang kurang hingga sifat egois para pengguna demi mencari cepatnya waktu untuk pulang dan pergi bekerja. Belum lagi ketidak siapan aparat lalu lintas dalam mengantisipasi membludaknya kendaraan dalam satu titik. Alhasil pemandangan kemacetan sudah boleh dibilang hal biasa di ibukota.

Pada satu dari 3 batch kelas pelatihan Defensive Driving di Weatherford Indonesia sebagian peserta adalah kaum ekspatriat. Bila ditinjau lebih dekat mereka sebenarnya sudah lebih dulu mengenal istilah Defensive Driving, harap maklum karena perolehan surat ijin mengemudi di negara mereka jauh lebih ketat ketimbang di Indonesia, notabene di sini hanya dengan berbekal uang saja sudah mampu mengantungi surat ijin mengemudi. Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) sebagai penyedia pelatihan berkendara lebih menekankan ke pembentukan behavior & habits sikap & kebiasaan berkendara untuk bisa 'survive' bergerak di ibukota.

Menyusul pelatihan-pelatihan kelas International yang telah ratusan kali diadakan oleh JDDC selama ini, maka kelas yang dipandu 3 instruktur berpengalaman dari JDDC banyak menyampaikan ragam tips tentunya dengan menggunakan bahasa Inggris , salah satunya saat peserta bertanya sekaligus heran kenapa sulit sekali pengendara ibukota memberikan jalan kepada kendaraan lain. Kebanyakan lebih memilih tidak memberikan jalan. Pada dasarnya warga negara Indonesia adalah pribadi yang santun. Bagaimana caranya agar kita yang meminta jalan lalu diberikan jalan oleh pengendara lain. Cukup buka kaca mobil dan lambaikan tangan dan lontarkan senyum ke pengemudi lain yang sedang dimintai jalan. Praktis cara tersebut terbilang efektif dan sudah banyak percobaan yang diterapkan berhasil dengan sukses. Cara ini terbilang lebih sopan ketimbang menutup rapat kaca kendaraan yang seolah mengisolasi pengemudi dari lingkungan luar.

Bagaimanapun sopan santun bisa diterapkan dimana saja, termasuk saat kita berkendara baik menggunakan roda empat maupun roda dua. Melalui cara inilah kita menerapkan usaha untuk mengantisipasi bahaya. Bahaya dalam arti mengantisipasi adanya benturan dua kendaraan yang tidak saling memberi jalan. Drive Smart !

Thursday, February 12, 2009

Driving Safety - Defensive Driving in a Dangerous World



Driving Safety - Defensive Driving in a Dangerous World is the most comprehensive general driving safety video currently available. This program was released by Black Mountain Safety & Health, Inc. on June 16th, 2006. If your trainees are tired of watching driving safety footage from the 1980's, and you're looking for a safety training tool with a fresh look then this is the program for you. Course content includes: Basic Vehicle Maintenance, Pre-Trip Preparation, Defensive Driving Tactics, Backing Safely, Hazardous Driving Conditions, and What to do in Emergencies.

Source :
http://www.safety-video-bmsh.com/Driving-Safety--Defensive-Driving-in-a-Dangerous-World_p_222-4404.html

Wednesday, February 11, 2009

Apa itu bahaya ?

Apa itu bahaya ? Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi menimbulkan kerusakan, kerugian dan kecelakaan. Jika disingkat definisinya bisa menjadi sesuatu yang merugikan. Dalam kelas Public Course Jakarta Defensive Driving Consulting hari Senin (9/1), terjabarkan beberapa kelompok gangguan berpotensi bahaya dalam lima bagian. Apa saja itu ?

1. Rute yang Asing. Ini mencakup bawaan pengemudi yang kerap terlihat bingung menyikapi situasi lalu lintas, mata kerap melihat rambu-rambu maupun nama jalan demi menghindari tersesat. Efeknya pengemudi bisa kehilangan konsentrasi pada situasi di depan kendaraannya sendiri.

2. Mental Problem. Bagian ini menyinggung masalah yang kerap dialami pengemudi dalam hal pekerjaan maupun rumah tangga.

3. Pandangan. Keberadaan kendaraan lain, billboard pinggir jalan maupun kecelakaan di sisi jalan kerap mengganggu konsentrasi. Bicara billboard atau papan reklame, seorang pengemudi truk di luar negri memenangi gugatannya terhadap pemilik papan iklan ketika ybs mengalami kecelakaan tunggal akibat melihat papan reklame besar, alhasil truk oleng dan jatuh di selokan jalan. Jaga pandangan aman.

4. Dari dalam kendaraan. Gangguan jenis ini datangnya bisa dari anggota keluarga lain di dalam kendaraan, binatang peliharaan atau situasi ketika obrolan hangat tengah terjadi. Disinilah potensi rusaknya konsentrasi dapat terjadi.

5. Tidak Terbiasa. Gangguan ini berupa situasi jika pengemudi berada di kendaraan berjenis lain di luar kebiasaan yang bisa menimbulkan adanya perbedaan kecepatan, dimensi, jenis transmisi sampai karakter kendaraan.

Pengelompokan gangguan ini belum seberapa besar karena belum menyentuh efek kesehatan pengemudi. Jadi bagaimana menyikapinya ? Atur manajemen resiko saat berkendara dan persiapkan segala sesuatunya ketika kita memutuskan masuk mengambil resiko. Karena resiko adalah konsekuensi saat kita mengambil tindakan. Drive Safely !

Tuesday, February 10, 2009

Mabuk Kendaraan

ADAKAH diantara kamu yang merasakan mual saat berkendaraan? Biasanya saat naik kapal laut, atau pada saat naik kereta api, juga bus. Kenapa koq kamu selalu ingin muntah saat berkendaraan, tapi pernahkah kamu merasakan hal seperti itu saat naik sepeda motor, atau bahkan saat jalan kaki? Dan bagaimana cara mengatasi supaya kamu tidak merasa mual, apalagi ingin muntah?

Situasi ini disebut “mabuk kendaraan”, orang kadang menyebutnya mabuk laut, mabuk udara, sea sickness, travel sickness, airsickness , tapi kesemuanya adalah terjadi pada saat kamu berada di “dalam” kendaraan.

Kamu sudah pernah baca tentang organ “keseimbangan” tubuh kan? (baca disini ). Telinga memiliki bagian yang terus memantau gerakan tubuh sehingga selalu “stabil”. Nah pada saat kamu berkendaraan (apalagi jika ruangannya tertutup) maka gerakan yang timbul saat kendaraan ini bergerak akan “direkam” oleh cairan pada organ di telinga ini yang selanjutnya memberi tahu tubuh bahwa kamu sedang “bergerak”.

Namun, mata kamu tidak “merekam” pergerakan tersebut (karena kamu sedang membaca, atau memang tidak ada “jendela” yang menunjukkan bahwa kendaraan yang kamu naiki sedang bergerak). Akibatnya terjadi “perbedaan” informasi yang diterima oleh tubuh kamu,yang satu berasal dari organ telinga kamu yang bilang bahwa kamu bergerak, sementara informasi dari mata kamu mengatakan sebaliknya : tidak ada pergerakan.

Pesan yang tidak “sinkron” ini kemudian direspon oleh otak dengan “membanjiri” tubuh kamu dengan “hormon stress” yang mengakibatkan kamu menjadi gelisah, keluar keringat dingin, dan perut mual. Singkat kata, kamu sedang menderita “mabuk kendaraan”

Nah apa yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi “mabuk kendaraan” ini? Yang bisa kamu lakukan adalah :
  • Selama di dalam kendaraan (bis, mobil, atau kapal laut) cobalah sebisa mungkin melihat keluar jendela, amati bagaimana jalan, pepohonan, tiang listrik, semuanya melaju, menandakan kamu memang sedang “bergerak” sehingga informsai dari organ telinga kamu akan sama dengan informasi dari mata kamu.
  • Jangan biarkan perut kamu kosong pada saat bepergian, karena akan mempercepat kamu menjadi mual (apalagi dalam jangak waktu lama), tapi jangan pula terlalu kenyang, guncangan dalam berkendaraan justru akan memancing isi perut kamu yang penuh itu untuk keluar.
  • Minum obat anti mual sebenarnya hanya membuat kamu tertidur (kamu boleh memilih untuk tidur sepanjang perjalanan, atau menikmati perjalanan kamu)
  • Duduklah di depan , samping supir, atau jika kamu naik kapal laut, berjalan-jalan lah ke geladak kapal supaya kamu bisa melihat- kapal kamu sedang melaju
  • Gunakan gelang anti mabuk disebut juga sea-sickness band, yang berupa gelang untuk menekan sebuah "titik" pada pergelangan tangan kamu yang dipercaya bisa mengurangi mual.
Oh ya semakin sering kamu melakukan perjalanan, biasanya tubuh kamu akan “terbiasa”, dan biasanya mabuk kendaraan kamu akan berkurang. Jangan salah, para astronot yang berada di pesawat luar angkasa pun masih kerap merasakan mabuk perjalanan ini.

Tapi bagi kamu yang memang “doyan” mabuk kendaraan, sebaiknya bekali diri kamu dengan kantong plastik deh, supaya muntah kamu tidak berceceran kan? Hiyyy.***

(dari berbagai sumber)

Monday, February 9, 2009

Mengapa Peraturan Begitu Sulit Untuk Dipatuhi

SUMBER BERITA

Dari hari ke hari pelanggaran rambu-rambu lalu lintas semakin memprihatinkan. Selain bisa kita amati sendiri perkembangannya setiap hari, kecenderungan berkurangnya ketertiban pengguna jalan bisa kita lacak dari maraknya surat-surat pembaca di media massa yang isinya mengeluhkan keadaan ini.

Peraturan pada dasarnya dibuat dengan tujuan untuk mempermudah kehidupan manusia. Coba kita bayangkan bila di jalanan tidak ada peraturan, tidak ada rambu-rambu lalu lintas, dapat dipastikan setiap pengguna jalan akan berbuat seenaknya sendiri tanpa mau mengindahkan kepentingan orang lain.

Setelah peraturan dibuat ternyata tidak ada jaminan bahwa peraturan tersebut akan dipatuhi. Coba kita lihat kondisi di Indonesia. Rambu-rambu lalu lintas seakan hanya menjadi hiasan yang tidak memiliki makna apa-apa. Praktis hanya lampu lalu lintas saja yang di patuhi, itupun pada ruas jalan tertentu saja. Perilaku yang tidak tertib ini diperparah dengan pertambahan jumlah kendaraan yang sulit dibendung sementara jumlah pertambahan ruas jalan tidak mampu mengimbanginya.
Jika memang peraturan dibuat untuk mempermudah kehidupan manusia pertanyaan besar yang muncul adalah: "Mengapa peraturan tersebut sering dilanggar?".

Lingkungan, Perilaku dan Konsekuensi

Manusia memang individu yang kompleks sehingga perilakunya juga tidak sederhana. Perilaku manusia tidak sekedar memperhitungkan untung dan rugi saja. Bisa jadi perilaku yang tampak merugikan dimata seseorang akan dianggap menguntungkan bagi orang lain. Bagaimana seseorang berperilaku, secara garis besar bisa dijelaskan melalui penguatan kontigensi (contigency of reinforcement) .

Perilaku manusia melibatkan tiga komponen utama yaitu kondisi lingkungan tempat terjadinya perilaku tersebut, perilaku itu sendiri dan konsekuensi dari perilaku tersebut. Berulang atau tidak berulangnya suatu perilaku dipengaruhi oleh keadaan tiga komponen tersebut. Penjabarannya dalam perilaku berkendaraan di jalan raya cukup sederhana. Misalkan seorang pengendara berada di persimpangan jalan yang sepi (kondisi lingkungan) kemudian ia memutuskan untuk melanggar lampu lalu lintas (perilaku). Konsekuensi dari perilaku ini adalah perjalanan yang lebih cepat. Selain itu pengendara tersebut juga tidak ditangkap petugas karena memang tidak ada petugas di persimpangan jalan tersebut. Perilaku pelanggaran seperti ini akan cenderung diulangi karena mendapat penguatan positif atau hadiah yaitu proses perjalanan yang lebih cepat dan tidak tertangkap oleh petugas.

Skenario yang muncul akan berbeda bila situasinya berbeda pula. Pada situasi persimpangan jalan yang dijaga oleh petugas (kondisi lingkungan) seorang pengendara berkeputusan untuk melanggar lampu lalu lintas. Konsekuensinya ia akan ditangkap oleh petugas dan mendapatkan surat tilang. Perilaku pelanggaran seperti ini akan cenderung tidak diulangi karena mendapatkan penguatan negatif (hukuman) yaitu berupa surat tilang yang tentu saja bermuara pada denda yang harus dibayar.

Peraturan

Peran peraturan pada penguatan kontigensi adalah mendeskripsikan baik secara lisan, tulisan ataupun simbol, hubungan antara ketiga komponen penguatan kontigensi tersebut. Secara garis besar peraturan menjelaskan hubungan sebab akibat dari dilakukan atau tidak dilakukannya suatu perilaku. Rambu dilarang parkir apabila di jabarkan dalam tiga komponen penguatan kontigensi akan berbunyi seperti ini: dilarang parkir disini (kondisi lingkungan), bila Anda melanggar (perilaku) maka Anda akan di beri surat tilang (konsekuensi) .

Bagi semua pengguna kendaraan bermotor pasti sudah paham betul arti dari rambu-rambu lalu lintas yang ada dijalanan. Walaupun demikian ternyata pemahaman ini belum cukup untuk mendorong pengguna jalan mematuhi rambu-rambu tersebut. Ada berbagai hal yang menyebabkan pengendara gagal untuk mematuhi rambu-rambu tersebut.

Dilihat dari konsekuensi yang mungkin timbul, kegagalannya terletak pada probabilitas kemunculan konsekuensi negatif yang kecil. Walaupun pengendara tahu bahwa tidak menggunakan helm sangat berbahaya namun mereka tetap berkeras untuk tidak memakai helm. Pengendara tersebut menganggap bahwa kemungkinan dirinya untuk terjatuh ataupun ditangkap petugas sangat kecil sehingga walaupun tidak menggunakan helm ia tetap selamat. Mungkin suatu ketika pengendara tersebut tertangkap petugas namun alih-alih mendapat surat tilang, ia justru bisa melenggang dengan memakai uang "pelicin". Uang "pelicin" tersebut bukan merupakan konsekuensi negatif melainkan justru menjadi konsekuensi positif bagi pengendara karena ada semacam rasa bangga bahwa dirinya bisa mengelabui petugas dengan beberapa lembar rupiah. Kenyataan bahwa perilaku tidak memakai helm ini mendapatkan konsekuensi positif membuat pengendara tersebut cenderung untuk mengulangi perilaku tersebut.

Penyebab kegagalan kepatuhan terhadap peraturan dari segi kondisi lingkungan bisa di jabarkan dalam skenario berikut ini. Suatu ketika pengendara tersebut mencoba menggunakan helm, namun keadaan yang ia hadapi adalah bahwa banyak pengendara lain yang ternyata tidak menggunakan helm tidak mendapat sanksi apa-apa, selain itu ia juga merasa tidak nyaman ketika memakai helm karena terasa gerah. Keadaan ini menggambarkan adanya konsekuensi negatif ketika pengendara tersebut berusaha mematuhi peraturan dengan menggunakan helm. Konsekuensi negatif tersebut berasal dari rasa tidak nyaman dan umpan balik sosial yang memperlihatkan bahwa tidak menjadi masalah bila pengendara tidak menggunakan helm.

Dua skenario diatas menunjukkan bahwa terjadi suatu fenomena yang bertentangan dengan hukum-hukum belajar perilaku yaitu bahwa perilaku yang buruk harus mendapatkan hukuman (konsekuensi negatif) sementara perilaku yang baik harus mendapatkan hadiah (konsekuensi positif). Kenyataan yang terjadi adalah bahwa perilaku buruk akan mendapatkan konsekuensi positif sementara perilaku yang baik akan mendapat konsekuensi negatif.

Tidak adanya konsistensi antara lingkungan, perilaku dan konsekuensi inilah yang menjadikan perilaku pengguna jalan semakin lama semakin memburuk. Dan hal ini sama sekali tidak berhubungan dengan sikap mental dari pengguna jalan tersebut.

Bukan masalah sikap mental

Selama ini kita sering mendengar dari petugas ataupun tokoh masyarakat bahwa sangat sulit untuk mengubah sikap mental pengendara kendaraan bermotor menjadi pengguna jalan yang tertib dan perlu waktu bertahun-tahun untuk mengubah sikap mental tersebut. Berdasarkan hasil penelitian masalah perilaku, sebenarnya kita tidak perlu mengubah sikap mental pengguna kendaraan bermotor. Alasannya adalah pertama karena sikap mental mereka sebenarnya sudah pada taraf yang positif, namun justru kondisi lingkungan dan konsekuensi dari perilaku di jalanan yang "memaksa" mereka untuk melanggar peraturan. Coba saja tanyakan pada pengendara yang tidak memakai helm, penting atau tidak kah menggunakan helm di jalan raya. Pasti mereka semua sepakat bahwa menggunakan helm tersebut sangat penting untuk keselamatan. Namun kenyataannya mereka tetap tidak menggunakan helm.

Alasan yang kedua yaitu sebenarnya tidak relevan usaha untuk mengubah perilaku dimulai dari usaha untuk mengubah sikap. Perubahan sikap mempunyai korelasi yang kecil dengan perubahan perilaku (Cooper, 1999). Walaupun kita melancarkan kegiatan semacam kampanye tertib lalu lintas (untuk mengubah sikap mental) dengan gencar namun jika kondisi lingkungan dan konsekuensi dari perilaku tersebut belum konsisten maka kegiatan semacam ini akan selalu menemui dinding tebal yang tidak bisa ditembus.

Konsekuensi yang konsisten

Solusi dari masalah perilaku pengguna jalan yang tidak kooperatif dengan peraturan ini sebenarnya sudah terdapat dalam uraian diatas. Yang pertama tentu saja mengkondisikan agar konsekuensi dari semua perilaku di jalanan selalu konsisten. Perilaku yang taat aturan akan selalu mendapatkan hadiah dan perilaku yang melanggar aturan akan selalu mendapatkan hukuman. Bagaimana keadaan ini dicapai? Apakah dengan menempatkan petugas pada setiap persimpangan jalan? Bisa jadi ini jawabannya, tapi tentu saja solusi semacam ini akan terbentur masalah sumber daya manusia (jumlah petugas yang terbatas). Namun yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana memastikan semua pelanggar peraturan lalu lintas selalu mendapat konsekuensi negatif. Konsekuensi negatif bisa berupa pemberian surat tilang ataupun dari feedback dari pengguna jalan lainnya. Dan harus dipastikan bahwa petugas ini tidak akan terpeleset dengan uang "pelicin". Keadaan ini sangat penting untuk mengembalikan fenomena di jalanan menjadi seiiring dengan hukum-hukum belajar perilaku.

Bila konsekuensi perilaku di jalanan telah konsisten maka perlahan kondisi lingkungan di jalan raya akan kondusif. Pengendara yang taat peraturan akan merasa mendapatkan reward dari lingkungannya yaitu adanya suasana tertib di jalan raya dan melihat bahwa banyak rekan pengendara yang taat peraturan. Selain itu pengendara yang taat akan melihat bahwa pengendara yang melanggar memang akan selalu mendapatkan hukuman. Dengan langkah ini perilaku pelanggaran akan berangsur berkurang karena selalu mendapat hukuman sementara perilaku taat akan semakin terbentuk karena selalu mendapat penguatan yang positif.

Benarkah solusi dari masalah diatas sedemikian sederhana? Solusi tersebut memang terlihat sederhana namun demikian dibalik itu terdapat "PR" yang besar bagi penegak hukum di Indonesia. Kepolisian harus menyiapkan jajaran yang bersih terlebih dahulu sebagai landasan keberhasilan metode ini. Hal ini harus dimulai dari proses rekruitmen yang bersih sehingga jajaran petugas yang terbentuk juga terdiri dari insan-insan yang betul-betul berfalsafah melindungi dan melayani masyarakat. Proses ini bisa berjalan simultan dengan usaha penerapan konsekuensi perilaku yang konsisten seperti disebutkan diatas

Soal Helm

OTOMOTIFNET - Seperti juga makanan dalam kemasan, helm, baik itu produk branded maupun nonbranded sebetulnya punya masa pakai (expired date) alias masa kadaluarsa. Beberapa pabrikan helm mancanegara mewajibkan produk-produknya untuk tak dipakai lagi (harus direplace) dalam waktu tertentu.

Namun begitu, masing-masing merek berbeda-beda dalam menentukan expired date. Misal Arai menyarankan mengganti selama pemakaian 5 tahun. "Umumnya waktu kadaluarsa pemakaian helm ini (KBC, red) selama 5 tahun sejak pertama kali diproduksi," ujar Verdi Marcel. Agus Hermawan yang juga penjualan helm-helm impor pun mengakui masa pakai helm rata-rata 5-6 tahun sesuai pemakaian. Tapi jika helm sudah terjatuh atau mengalami kecelakaan sebaiknya masa pakai diperpendek. "Ketika helm jatuh di satu bagian maka terjadi perubahan struktur material helm. Takutnya, ketika dipakai lagi dan jatuh di sisi yang sama," terang Agus.

Jusri Pulubuhu, training director JDDC (Jakarta Defensive Driving Consulting) menyarankan wajib ganti helm jika sudah terjadi kecelakaan. "Kalau sudah mengalami benturan pada kecepatan 40 km/jam harus ganti. Karena bisa mengakibatkan cedera kepala atau gegar otak," jelasnya. Secara kasat mata batok memang masih bagus namun secara material sudah mulai berubah jika terjadi benturan keras. "Busa bagian dalam sudah mulai menggumpal. Ada yang mengeras seperti biji kapuk atau jatuh layaknya rempah makanan," jelas Eka Satrya.

Disamping itu, ketahanan sterofoam untuk meredam benturan di balik shell (batok luar) juga mulai menurun. Cara deteksi, "Tekan pakai tenaga cukup kuat beberapa kali di bagian sterofoamnya pakai ibu jari. Kalau terdapat bekas tekanan dan tak kembali normal dengan cepat, lebih baik beli helm baru yang belum kadaluarsa," saran Verdi lagi. Bagaimana cek expirednya? Umumnya pabrikan menempelkan label waktu produksinya. Persisnya, angkat inner padding bagian atas. Posisinya menempel di permukaan sterofoam sebelah kiri atau kanan atas tergantung tiap merek helm.

Disitu tertera tanggal, bulan dan tahun produksi. "Tinggal tambahkan angka 5 pada tahun pembuatannya. Jika tahun pembuatannya 2006 maka masa expirednya di 2011, dengan tanggal dan bulan yang sama dengan yang tertera di label," jelas Verdi. Jangan sampai kelewat ya!

foto : www.advrider.com

Seting Ergonomi Tubuh Lebih Nyaman

SUMBER BERITA

Enggak mungkin berharap lebih dari lalu lintas Jakarta sekarang ini. Gimana nggak? Pengendara motor yang katanya bisa jadi solusi hadapai kemacetan aja, kadang ikut terjebak antre nyelip di antara barisan roda empat!

Mending cari solusi lain. Yaitu, bikin motor nyaman diajak menerobos kemacetan. “Ubah ergonomi bisa dilakukan secara individual,” ujar Jusri Pulubuhu dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Soalnya, ada juga pengendara yang punya postur tubuh diluar rata-rata. Terlalu tinggi atau terlalu pendek untuk ukuran sebuah motor. “Mengubah sesuatu, perlu pertimbangan matang,” timpal Paulus Suwandi, pria yang sebelumnya menjabat Intruktur Training R2 PT Indomobil Niaga International (IMNI).

Yuk, kita bedah!

TUAS REM DAN KOPLING
Enggak sedikit pemilik motor, terutama tipe sport atau kopling manual mengubah posisi handel.
Sudut tuas rem atau kopling lebih dibuat ke atas. Padahal, posisi ini bikin enggak nyaman.

Posisi demikian membuat otot trisep bekerja. Seharusnya pada keadaaan normal justru otot bisep yang bekerja. “Efeknya, selain kekuatan tangan berkurang juga bisa bikin cepat lelah dan konsentrasi berkurang,” sebut Jusri.

SETANG
Ganti setang model jepit perlu dipertimbangkan lagi. Terlebih jika dilakukan sekedar kejar tampilan atau gaya. Bukan untuk mendukung kenyamanan. Jelas ini berpengaruh pada ergonomi.

Semakin tegak dan sejajar setang, makin nyaman buat berkendara. Setang model ini, cocok buat city turing yang mempunyai banyak handycap atau rintangan. Misal, berkelok di tengah kemacetan.

“Terasa sekali bedanya ketika pakai setang model jepit ketimbang biasa,” ungkap Budi Widianto, bikers penyemplak Kawasaki Ninja 150 yang berkantor di Kawasan Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

POSISI RIDING
usri bilang, sebisa mungkin bobot tubuh ditopang alias bertumpu pada otot yang paling besar di tubuh. Yaitu, pada tangan dan kaki. Gitu juga ketika berkendara. Enggak ada salahnya mengembalikan posisi sok depan pada ketinggian standar. Selain lebih sejajar, badan pun nggak gampang lelah. Karena berat tubuh nggak lagi ditopang tangan, terlebih ketika mengerem. Porsi yang diterima kudu seimbang.

GIR
Sepertinya, menaikan gir belakang sekitar dua mata bisa jadi pertimbangan proses Stop and Go tidak membuat motor jadi ngeden dan boros bensin. Konsekuensinya, top-speed jadi berkurang di trek lurus.

“Tapi sebelum mengubah gir, pertimbangkan juga soal power to weigth ratio. Jangan sampai salah ubah gir,” wanti Paulus yang sekarang menangani divisi Motor Bekas Bergaransi (MBB) dari Suzuki.

Sumber : Tabloid Motor Plus
Reporter : Eka Budhiansyah
foto : www.advrider.com

Moge Anda Jatuh? Tegak dengan Move Smart

SUMBER BERITA
foto : ari syahbani

Perlu trik khusus mengangkat si motor gede (moge) ketika si gajah ini tersuruk ke tanah. Soalnya motor besar dengan kapasitas mesin hingga 1000 cc itu mempunyai bobot antara 250 kilogram hingga 400 kilogram.

Jusri Pulubuhu, direktur dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) dan Joel Deksa Mastana, master instruktur Safety Ride & Drive Center, Jakarta, menegaskan untuk tidak mengangkat sendiri dengan cara-cara biasa. “Otot akan cedera hingga tulang punggung,” kata mereka kompak.

Teknik menegakkan motor besar itu dikenal dengan istilah Move Smart (Manual, Handling, Stepping and Lifting). Intinya, kekuatan pada saat mengangkat diperoleh dari otot triceps yang ada pada kedua paha dan memanipulasi bobot kendaraan agar dapat bertumpu pada kendaraan itu sendiri. “Seorang biker dengan bobot 60 kilogram pun dapat dengan mudah mendirikan moge yang berbobot 400 kilogram,” kata Jusri.

Berikut cara menegakkan motor besar seperti yang diajarkan Jusri dan Joel.

Motor Rebah Kanan
  1. Jangan panik.
  2. Ubah arah roda depan ke arah permukaan tanah.
  3. Gerakan stang / handle bar melekat ke tangki atau sampai mentok stopper, agar ketika mengangkat ada weight shifting.
  4. Pasang standar / tegakan standar untuk penyangga.
  5. Berbalik arah dengan punggung bawah menempel sadel, ingat posisi biker harus dari sisi kanan.
  6. Balikan kedua telapak tangan, dengan telapak kiri diletakan di handle grip, telapak kanan diletakan di jok atau bagian yang dapat digunakan untuk mengangkat. (Cari yang tidak mudah goyang, bergeser, atau permukaan pegangan harus kuat).
  7. Pastikan kedua tangan berada di green zone (area yang tidak jauh dari kedua pinggul kita) semakin jauh maka tenaga lift akan kurang.
  8. Periksa segala kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi.
  9. Pastikan punggung bagian bawah telah menempel sadel.
  10. Kedua kaki tidak terlalu melebar dan menjongkok dalam posisi proporsional.
  11. Mulai mengangkat, pastikan punggung pada posisi tegak lurus tidak bending /membongkok sebagai tindakan pencegahan cedera punggung.
  12. Ketika mengangkat gunakan power ditangan dan punggung secara maksimal.

Motor Rebah Kiri

Langkah sama persis diatas kecuali butir 3 dan dan 4.
Untuk mencegah motor jatuh kesisi kanan, maka ketika motor sudah mulai tegak sekitar 80 derajat segera berbalik dan pasang kuda-kuda dengan salah satu kaki biker harus maju dibanding posisi kaki satunya.

Keseimbangan Kurang dari Sejengkal

SUMBER BERITA : Motorplus Online

Percaya tidak, keseimbangan motor itu kurang dari sejengkal tangan anak kecil? Itu sebabnya, seringkali aktivitas bermotor alami celaka. Entah disebabkan pengaruh lingkungan, motor atau pengendara itu sendiri.

Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting menggambarkan, "Motor itu balans tapi tidak stabil."

Maksudnya, motor itu sebuah alat berkendara yang seimbang tapi tidak stabil. Beda dengan mobil yang memiliki ciri balans dan stabil. Tak heran, banyak pengendara nyusruk karena hal kecil yang ada di jalanan. Misalnya, oli tercecer atau genangan air.

"Kestabilan motor itu ada pada kecepatan. Makin cepat makin stabil. Namun, ingat! Makin kencang maka faktor risiko kecelakaan makin besar pula," tambah Joel Deksa Mastana, instruktur Safety Riding di ajang U Mild U Bikers.

Jadi, motor yang tegak di atas dua roda itu yang menopang bobot motor termasuk berat pengendara. Anggap beban yang dipikul motor sekitar 170 kg. Ini penjumlahan berat motor yang sekitar 105 kg dan berat sampeyan yang kira-kira, 65 kg.

Coba saja tegakkan motor tanpa standar dengan kecepatan nihil alias 0 km/jam. Yakinlah, motor itu bakal gedubrak. Atau kenapa motor bisa tergelincir saat menikung.

Motor tergelincir di jalan ketika nikung karena ban yang menyentuh ke aspal lebih kecil. "Juga diakibatkan gaya inersia yakni gaya tegak lurus yang bekerja pada sebuah kendaraan tidak searah dengan arah roda depan," tambah Joel.

MOTOR Plus sempat merasakan tergelincir akibat gaya ini ketika mengadakan tes pengereman ekstrem dengan roda depan. Saat roda depan terkunci, arah roda dan setang tidak lurus dan searah gaya inersia, akibatnya motor kehilangan traksi dan jatuh.

Nah, mari kita lihat seberapa napak ban ke aspal. Ambil sebuah kertas putih. Standar tengah motor. Angkat roda belakang. Kemudian, letakkan kertas putih tadi di bawah ban. Turunkan ban tadi. Angkat kembali ban dan ambil kertas putih yang sudah terjejak tapak ban.

Dari beberapa motor yang disurvei MOTOR Plus, ban motor bebek dengan profil 2,75-17 dan motor sport dengan berprofil 3,00-18 relatif tidak jauh beda. Panjang jejak sekitar 8-9 cm sedang lebar jejak sekitar 2-3 cm.

Untuk skubek dengan ring 14 inci berkisar panjang 6 cm dan lebar 3 cm. Sedikit sekali kan menapak. Tidak lebih besar dari jengkal anak kecil. Karena itu hati-hati, sebab nyawa (baca: keselamatan) anda cuma sebesar itu.

Perempuan dan Lalu Lintas

SUMBER BERITA

Sering keberadaan pengendara cewek mengganggu pengguna jalan lain. Mereka seperti kurang paham aturan lalu lintas atau acuh pada aturan. Seperti berpindah jalur tanpa sein, bahkan kerap berhenti mendadak tanpa minggir dulu.

Paling fatal, banyak kaum ibu ngeboncengin anak tanpa perlengkapan safety seperti helm. Bahkan bisa boncengan lebih dari satu orang dan tanpa helm. "Kalau jemput kakaknya ke sekolah adiknya pasti pingin ikut juga. Kadang teman anak saya sekalian numpang kalai kebetulan ibunya gak bisa jemput. Ya sudah bonceng bertiga. Toh jaraknya dari rumah ke sekolah cuma 3 km. aku Ida, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Cibubur.

Faktanya motor yang memang ditujukan buat pangsa pasar wanita, kini lalu lintas kota seperti Jakarta, makin ramai dengan lady biker. "Mereka punya hak yang sama dengan biker lain. Malah umumnya lady biker ini jalannya pelan. " aku Andy Maulana, Humas Honda Vario Club (HVC).

Menurut Jusri Pulubuhu, training director Jakarta Devensive Driving Consulting (JDDC), pengendara wanita memang memiliki kecenderungan lamban. Misalnya gerakan perpindahan dari area ke area lain bertahap (gradually). Sehingga pada saat manuver yang seharusnya dilakukan dengan segera, lady biker melakukan dengan lambat. Sedangkan pada saat mereka harus melakukan segera. Malah dilakukan dengan gradually stop.

Pengaruh mind set lady biker yang tidak mudah curiga. Mereka cenderung tidak memiliki kemampuan self assessment. Yaitu kemampuan analisis terhadap sesuatu yang tidak diharapkan. Ini sangat diperlukan saat mereka berada di killing field (jalan raya) yang tinggi dibanding biker laki-laki. Manuver yang dilakukan pun sering ragu-ragu. Ini membuat para pemakai jalan lain bingung. Dan bisa berakibat fatal.

Seorang biker harus SMART yaitu Secure, Measured, Accurate, Reasonable, dan Timely. "Persyaratan untuk memberikan output SMART semua bikers harus memiliki referensi yang kuat. Dan itu tidak cukup diperoleh dari pengalaman, "tutup Jusri.

Sumber MOTORPlus No. 436/VIII

Melibas Polisi Tidur

SUMBER BERITA

M+ Online - Salah satu handicap bikers di jalan raya yakni polisi tidur. Kecelakaan mulai dari yang ringan sampai serius terjadi karena tidak melihat atau sadar ada polisi tidur. Padahal siang bolong, lho!

Biar terhindar dari kecelakaan, Jusri Pulubuhu, Director Training Jakarta Defensive Driving Consulting kasih tips. Menurutnya, orang yang terlibat kecelakaan sering mengatakan. “Saya tidak melihat benda, orang, mobil, lubang.”

Untuk mengantisipasi kelemahan ini, pengendara harus menerapkan kebiasaan melihat sejauh mata memandang (aim high), sambil melakukan scaning terhadap objek bahaya di depannya.

Jangan melaju dengan kecepatan konstan atau melakukan perlambatan ekstrem saat melintasi handicap. “Hal ini membuat buritan melenting ke atas ketika roda belakang membentur polisi tidur,” jelas pria berambut pendek ini.

Banyak pengendara jatuh gara–gara ngerem pas di atas handicap. Karenanya, pengereman dilakukan sebelum melintasi.

Bagaimana dengan posisi berkendara? Untuk menjaga keseimbangan, saat roda depan menyentuh polisi tidur, posisi badan cenderung ke depan dengan kedua tangan menekuk melebar. Sebaliknya, setelah roda depan telah melewati polisi tidur, posisi badan ke arah belakang dengan kedua tangan mendorong handle bar ke depan.

Jelasnya, 'setan' itu ada di mobil Anda!

SUMBER BERITA

Otomotif Online
- Setelah amblasnya beberapa ruas tol Cipularang, kini muncul kabar perlunya penutupan sementara penghubung Jakarta dan Bandung itu demi keselamatan dan keamanan pengguna jalan tol (Kompas, 6/12).

Namun terlepas dari kontroversi ditutup atau tidaknya jalan berpemandangan geulis (cantik, red) itu, pengguna jalan sebaiknya memperhatikan kecepatan, salah satu faktor penentu keselamatan melintas di ruas yang dikabarkan angker tersebut. Angker?

MENGALAMI 'HILANG'
Ya, kini beredar kabar berbau mistis. Bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan juga dari e-mail ke e-mail (bayangkan, di zaman internet begini). Di samping ada juga kiriman tips dan trik mengemudi di jalan tersebut.

Contohnya, ada yang menuturkan Om temannya (bukan orang pertama) sontak tak sadarkan diri dan memacu kencang Isuzu Panther di Km 72, empat hari pascalebaran. Setelah membentur trotoar mobil terbalik. Seorang pengemudi di belakang mengaku ia juga mengalami 'hilang' sebentar. Kecelakaan ini tak tercatat dalam di Info Tol PT Jasa Marga (JM).

Lalu ada pula kisah pengemudi yang dibuntuti dan disorot lampu high beam berkali-kali pada malam hari. Setelah minggir dan melongok spion, mobil di belakang masih juga memberi high beam. Hingga saat sang pengemudi melihat kembali ke depan, ternyata sudah ada truk di hadapannya. Sementara mobil pemberi lampu jauh tadi menghilang. Hiiy...

'SETAN' PENDORONG
Di balik kisah tadi, pengemudi mutlak harus menyadari kalau tol 59 kilometer ini berisi banyak tanjakan dan turunan. Diiringi tikungan kiri-kanan di akhir turunan plus jalan bergelombang.

Ingat, saat memasuki turunan, Anda bak masuk alam gaib. Salah satu faktor yakni mobil tiba-tiba mendapat dorongan ekstra yang makin besar sampai ke bawah. Lantas, di mana 'setan' pendorong itu bersembunyi?

Jelasnya, 'setan' itu ada di mobil Anda! Tetapi jangan takut, makhluk halus ini bernama inersia. Biar enggak ngeri kita namakan saja Si Ine. Ine, membesar seiring kecepatan mobil.

Pada mobil yang menurun, selain dari kecepatan, Ine juga mendapat energi potensial dari posisinya yang lebih tinggi dibanding ujung lintasan. Makin tinggi (makin curam jalan) maka energi potensial mobil juga makin besar.

Jika mau dihitung, energi tambahan ini merupakan pengurangan energi potensial gravitasi akibat sudut jalan. Gabungan inersia mobil - pada kecepatan awal - dan energi potensial inilah yang membuat kecepatan meningkat seiring membesarnya Ine.

Sekarang bayangkan, jika mobil Anda meluncur 140 km/jam di turunan menikung. Mengerem dalam kondisi trek bumpy (bergelombang) jelas lebih sulit ketimbang di jalan datar dan mulus. Sayangnya, tanpa dorongan ini, umumnya pengemudi sulit mematuhi kecepatan maksimal yang hanya 80 km/jam. Padahal, Zuhdi Saragih, kahumas JM menyatakan jika pengemudi berhati-hati dan mematuhi rambu-rambu yang ada, kemungkinan kecelakaan bisa dihindari.

GANGGUAN MENTAL
Dalam tinjauan safety driving, menyikapi potensi kecelakaan di tol Cipularang sebenarnya cuma ada satu kata kunci; hati-hati. Apalagi pemicu kecelakaan, sebenarnya bukan faktor nonsense, melainkan nyata. "Indikasinya, harus dirunut dari manusia, lingkungan, kendaraan dan cuaca," jelas Jusri Pulubuhu, presiden Jakarta Defensive Driving School (JDDC).

Faktor manusia perlu disadari sebagai pencipta problem. Jadi kalau enggak mau celaka, mengemudi harus sehat jasmani dan rohani. Kompetensi nyetir juga berdasar latihan. Lalu faktor lingkungan, perlu diperhatikan kondisi permukaan trek, elevasi tikungan, kepadatan lalu lintas, faktor yang berkaitan sama visibility dan keberadaan jalan (di atas gunung).

Penyebab insiden bisa berkaitan dengan pengalaman seseorang yang bisa memicu fatique atau keletihan. Hal ini bukan cuma akibat stamina melemah. Tetapi oleh faktor kejenuhan yang dihadapi pengemudi. Alhasil, begitu lewat trek panjang dan sepi, gampang berhalusinasi.

Kalau mau masuk akal, menuding faktor alam lebih bijak. Seperti diketahui di Cipularang ada beberapa titik yang melalui bukit atau lembah. Hal ini mempengaruhi tekanan angin dari kanan-kiri yang besar. "Akibatnya, mobil serasa bergeser ke samping (seakan mengalami aquaplaning, red)," beber Jusri. Acp, Mashim, Iday

Thursday, February 5, 2009

Do & Don’t Berkendara Motor Saat Hujan

SUMBER BERITA

Bagi pengendara roda dua, musim hujan bisa jadi kendala kegiatan. Tak heran, meskipun hujan lebat, enggak sedikit pemilik motor yang memaksa menerjang biar cepat sampai tujuan.

Wah, bahaya tuh kalau dilakukan setiap hari. Enggak cuma sakit flu maupun batuk pilek, bahayanya kalau sampai kecelakaan dan nyawa taruhannya. Nah, biar semua itu enggak terjadi, lebih baik berteduh atau tidak meneruskan perjalanan.

“Demi keamanan dan keselamatan lebih baik berteduh. Tapi di tempat yang aman, jangan di bawah pohon maupun neon box yang sewaktu-waktu bisa roboh akibat hujan sekaligus angin kencang,” urai Jusri Pulubuhu, training director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Kalau memang tidak bisa ditunda dan harus cepat sampai tujuan, nyalakan lampu depan maupun belakang besutan untuk memberikan indikator pada pengendara lain. “Ini juga sebagai alat komunikasi dan demi keselamatan bersama,” tambah Jusri.

Selain itu berjalanlah dengan kecepatan rendah dan konstan, serta jaga jarak dengan kendaraan lain. “Misal butuh rem mendadak meski jalan agak licin, motor masih tetap bisa terkontrol dan tidak menabrak kendaraan di depannya,” ujar pria ramah ini.

Selain itu jangan lupa gunakan jas hujan model pisahan (celana dan baju pisah). “Jangan memakai jas hujan model terusan (ponco, red), karena rawan kecelakaan. Bisa nyangkut di gir roda belakang,” tambah Inuk Blazer, ketua Inuk Blazer Ladies Bikers Club (IBLBC) Jakarta.

Lanjutnya, bila ketebalan ban tidak memungkinkan atau terlalu tipis, jangan paksakan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Pasalnya, ban tipis sangat licin dan rawan kecelakaan’.

Beraksi di Ladang Pembantaian

SUMBER BERITA
gambar

Sampai detik ini sebagian besar orang tidak peduli soal safety driving. Kalaupun tahu, mereka tidak mau tahu. Terbukti, kecelakaan lalu lintas berulang terjadi, dan kasusnya nyaris sama. Mobil terbalik, tabrakan, terbakar, ban pecah, tercebur sungai dan sebagainya.
Ulah pengguna jalan juga tak berubah. Sering dijumpai mereka ngebut secara sembrono, berbelok tanpa memberi tanda, menyalip tiba-tiba, mengerem mendadak dan sebagainya. Ini fakta sehari-hari dalam berlalu-lintas dan menjadi hal yang biasa. Padahal dampak yang diakibatkannya bisa merugikan diri sendiri atau orang lain.

Dalam konteks ini, PT Asuransi Astra menggelar acara “Drive Safe Day for Journalist,” pada Sabtu (19/1) di Jakarta. Program ini dibuat untuk memberi pemahaman bagaimana menguasai kendaraan dengan benar dan aman, dalam berbagai situasi yang terkadang membutuhkan respons seketika.

Salah satu sesi yang menarik adalah praktik. Di lapangan kantor pusat PT Asuransi Astra telah dibuat simulasi lintasan, di mana para peserta bisa mempraktikkan teknik mengerem dan cara menghindari tabrakan frontal. Betulkah rem bisa menghentikan laju mobil dan setir yang berfungsi membelokkan arah, bekerja sesuai keinginan kita?

Menurut Jusri Pulubuhu–Training Director dari Jakarta Devensive Driving Consulting (JDDC), dalam situasi panik, pengendara sering melakukan pengereman mendadak sambil membelokkan setir untuk menghindari tabrakan.Tapi yang terjadi justru kebalikannya.

Dalam situasi ini, rem sama sekali tidak berfungsi dan setir yang dibelokkan tidak juga mampu membelokkan arah mobil, sehingga tabrakan frontal tak bisa dihindari. Padahal kecepatan mobil tak lebih dari 60 km/jam. Para peserta di sesi ini dibuat takjub, sebab satu per satu menjajal adegan seru ini.

Mulai dari menginjak rem hingga objek yang akan ditabrak–yang berjarak hanya sekitar 20 meter– ternyata mobil tidak juga stop, bahkan melaju dan akhirnya menabrak “tembok” yang disusun dari balok-balok busa. “Bagaimana bisa, saya sudah mengerem dan membelokkan kemudi ke arah lain, mobil kok tetap nyelonong ya. Untung bukan tembok betulan,” celoteh M Lulut dari Majalah Autocar, menceritakan pengalamannya.

Oleh panitia, mobil tes sengaja tidak difungsikan fitur rem ABS (Antilock Braking System)–ini seperti kondisi sebenarnya--di mana umumnya kendaraan yang berseliweran di jalan raya tanpa disertai fitur tersebut. Hanya mobil dengan merek-merek tertentu atau mewah yang memiliki fitur tersebut.

“Artinya, mobil-mobil yang tidak disertai perangkat itu memang tidak aman sehingga kita harus mengatur jarak aman untuk menghindari tabrakan frontal. Kalau ada ABS pun, bukan jaminan bahwa kita akan aman, sebab faktor manusianya menentukan. Apakah dia cukup cekatan untuk melakukan manuver dalam tempo seper sekian detik secara akurat?” jelas Jusri.

Menurut Jusri, angka kematian yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas mencapai 36.000 orang per tahun di Indonesia. Penyebab utama adalah faktor manusia yang mencapai 90 persen. Celakanya, kesadaran untuk mengendarai secara aman belum menyentuh nurani pengguna jalan raya, khususnya di Indonesia sehingga sering terjadi pelanggaran lalu lintas yang bisa mencelakakan diri sendiri, bahkan orang lain.

Dalam kondisi ekstrem, nyawa pun melayang. Akibatnya, keluarga yang salah satu anggotanya tewas atau cacat seumur hidup karena kecelakaan, sangat mungkin bisa jatuh miskin, karena kehilangan tulang punggung ekonomi keluarganya. “Tinggal dikalikan dengan angka kematian setiap tahun maka bisa dihitung berapa besar pemiskinan yang terjadi. Jadi, slogan ingatlah keluarga menunggu di rumah itu, dibuat untuk dicermati karena maknanya dalam,” ujarnya

Panduan Dasar Defensive Driving

SUMBER BERITA
gambar

- 40.000 ribu jiwa melayang setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia -

Demikian informasi yang BeritaATPM.com catat, saat mengikuti program Smart Driving Clicic (SDC) pada awal April 2007 lalu di kawasan Lido, Bogor. Data lainya yang kami catat melalui program tersebut, yaitu Indonesia berada di peringkat terburuk di Asia dalam hal berlalu lintas dan road safety. Dan menurut data tahun 2006 diinformasikan kerugian negara mencapai Rp. 100 trilyun akibat kecelakaan, seperti yang dikutip dari Jusri Pulubuhu, founder/training director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Di sisi lain, asuransi kecelakaan yang menyebabkan jiwa melayang pun tergolong sangat rendah dibanding negara tetangga. Asuransi kematian di Indonesia yang diambil dari polis pajak kendaraan hanya berkisar Rp. 10 juta/jiwa. Bandingkan dengan Singapura Rp. 3,6 milyar/jiwa dan Malaysia Rp. 2,4 milyar/jiwa. Pertanyaannya kemudian, apakah kita akan menambah jumlah korban jiwa dengan kerugian yang sangat besar tersebut? Tanpa bermaksud menggurui, kami membawa 'oleh-oleh' dari pelatihan tersebut, yang mungkin bisa sangat membantu Anda untuk mengemudi dengan teknik beresiko rendah.

Mengemudi secara difensif diawali dengan perencanaan dan kemampuan yang matang. Setiap kali mengemudi, kita harus melakukannya seakan-akan jiwa kita tergantung pada cara kita mengemudi. Seorang pengemudi yang difensif harus mampu, secara sadar maupun spontan untuk melakukan tindakan-tindakan preventif dan bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, orang lain, properti, dan lingkungan terhadap potensi kerusakan/kerugian.

Ada tiga faktor kunci teknik mengemudi difensif. Pertama, pemahaman dan penguasaan bahaya dan resiko. Kedua, pemahaman dan penguasaan dasar-dasar kendaraan bermotor, dan ketiga, pemahaman dan penguasaan teknik mengemudi difensif. Faktor ketiga ini dibagi lagi dalam tiga sub, yaitu pemahaman dan penguasaan mengenai peraturan lalu lintas, pemahaman dan penguasaan teknik kebiasaan melihat, dan pemahaman dan penguasaan keterampilan emergensi.

Kebiasaan Observasi dan Melihat
Ada tiga konsep dalam mengemudi difensif versi JDDC, yaitu pandangan aman, lingkaran aman, dan diikat dengan 'sikap'. Dengan mempunyai pandangan aman, kita dapat mengenali sesuatu lebih awal, menjadi lebih waspada, mempunyai waktu untuk mengambil keputusan, waktu yang cukup untuk menghindari sesuatu tersebut, dan terhindar dari pergerakan tiba-tiba dan pengereman tajam.

Melalui pandangan aman, kita dapat menciptakan lingkaran aman/lingkaran imajinasi. Karena mengemudi kendaraan bermotor merupakan kegiatan yang dinamis, dengan situasi yang selalu berubah, maka kita harus selalu menjaga pandangan dan memelihara ruang aman untuk setiap pergerakan. Usahakan menstimulasi mata ke kanan dan ke kiri setiap dua detik.

Bahaya
Berdasarkan studi JDDC, faktor manusia menempati porsi tertinggi dari suatu kecelakaan kendaraan bermotor. Beberapa faktor tersebut disebabkan diantaranya tidak fokus, kurang terampil, serta lemahnya pengkajian resiko. Kurang terampil meliputi ketidaktahuan pengemudi terhadap fungsi-fungsi alat-alat kontrol, termasuk dalam hal rem dan cara pengoperasiannya.

Bahaya adalah suatu obyek, kondisi fisik atau pengaruh fisik yang mempunyai potensi untuk menyebabkan suatu kehilangan, kerusakan, kehancuran, kerugian, bahkan lebih jauh lagi, kematian. Jalan raya adalah suatu tempat berkumpulnya segala macam bahaya, mulai dari pejalan kaki, pengendara, kendaraan bermotor, kepadatan pemakai jalan, kondisi permukaan jalan, hingga ditambah masalah cuaca.

Adalah tindakan bijaksana bila kita paham akan bahaya dan mengambil suatu sikap dalam merespon bahaya-bahaya tersebut dengan suatu sistem preventif, agar resiko dapat dihindari atau setidaknya diminimalisir.

5 Kategori Gangguan

Pertama, Rute.
- Mencari-cari arah petunjuk jalan,
- Berada di jalan padat dan sempit sambil mencari tanda-tanda petunjuk,
- Memasuki suatu kawasan asing.

Kedua, Mental.
- Sedang marah, atau gangguan pikiran lain,
- Ekonomi, pekerjaan,
- Sedang sangat gembira, sedih.

Ketiga, Pandangan.
- Bisa terjadi terhadap sesuatu yang menarik di pinggir jalan,
- Billboard,
- Mobil yang mewah dan hebat.

Keempat, Dari Kendaraan.
- Bunyi-bunyi yang aneh tiba-tiba dari kendaraan kita, atau
- Sesuatu yang dibicarakan oleh penumpang.

Kelima, Tidak Terbiasa
- Mengemudi kendaraan yang lain,
- Kecepatan tidak terbiasa,
- Kondisi lalu lintas yang berbeda.

Metode Sederhana Pemeriksaan Pra Perjalanan
Mengelilingi kendaraan untuk mengecek bagian luar kendaraan, misalnya bodi kendaraan, bagian kolong kendaraan, kondisi roda, kebersihan kaca, serta plat nomor kendaraan. Selanjutnya memeriksan bagian mesin kendaraan, berikut pengecekan lampu-lampu dan indikator. Lalu diteruskan pengecekan kondisi sabuk pengaman dan alat keselamatan lainnya.

JDDC memberi satu simbol kata untuk hal ini, yaitu BALOK, yang merupakan singkatan dari B (ban, bodi kendaraan), A untuk air (radiator, aki, wiper), L untuk listrik (lampu-lampu, klakson), O untuk olie (mesin, power steering, rem, transmisi otomatik), dan K untuk karet/kabel (fan belt, selang-selang), Kertas (SIM, STNK, KTP, dll).

Pengenalan Kendaraan
Disamping itu, pengenalan dan pemahaman akan kendaraan menjadi bagian penting lainnya, yang mencakup 3 kelompok, yaitu: (1) Indikator kontrol, meliputi indikator air, oli, aki, putaran mesin, temperatur, dan tekanan. Sementara (2) fisik kendaraan, meliputi track base (jarak lebar roda), wheelbase (jarak sumbu roda), radius putar, dan tinggi kendaraan. Sementara (3) karakter kendaraan, diantaranya sudut steer (roda kemudi), rem, dan tenaga. Sudut steer (roda kemudi), dilakukan dengan pergerakan ke kiri dan ke kanan saat kita mulai pergerakan. Lakukan ini di area yang aman dengan kecepatan yang pelan. Dengan demikian kita akan segera tahu kemampuan dan kondisi putar dari kendaraan tersebut.

Pengereman dan Fungsi Rem
Mengenai karakter rem, sebaiknya kita melakukan penginjakan pedal rem, dari halus sampai yang paling dalam sehingga kita mengerti karakter dan sensitivitas dari rem tersebut. Tindakan harus dilakukan di area aman, dengan demikian kita dapat menghindari kepanikan ketika harus melakukan pengereman tiba-tiba.

Umumnya pada sebuah kecelakaan kendaraan bermotor, rem dijadikan alasan utama. Misalnya rem kendaraan tidak bekerja maksimal atau jarak pengereman terlalu panjang. Beberapa pembalap bahkan mengatakan, dari keseluruhan tugas pengemudi yang paling berat adalah pengereman dengan benar. Dan ilmu mengemudi difensif akhirnya bermuara pada bagaimana mengoperasikan rem dengan benar. Pengoperasian rem dengan benar dan sesuai kemampuan akan memperkecil peluang pengemudi terlibat kecelakaan.

Jangan menginjak pedal kopling pada saat melakukan pengereman.

Jarak berhenti kendaraan akan sangat dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:
  • Manusia; kondisi fisik, umur, mental dari pengemudi
  • Kecepatan; semakin cepat laju kendaraan, semakin besar daya kinetik yang terjadi, dan ini akan membuat jarak pengereman menjadi lebih panjang.
  • Kondisi ban; permukaan ban yang baik tidak kurang dari 2mm akan membuat traksi/cengkeraman roda menjadi maksimal ketika pengereman berlangsung.
  • Cuaca; cuaca panas pada permukaan aspal akan membuat cengkeraman roda berkurang saat dilakukan pengereman.
  • Lintasan; lintasan gravel, basah, dan berpasir ikut memberikan jarak berhenti yang panjang dibandingkan permukaan tanah kering/aspal.
  • Bobot kendaraan; semakin berat beban dari sebuah kendaraan akan memberikan daya kinetik/dorong yang besar kepada kendaraan tersebut. Dengan demikian jarak berhenti kendaraan semakin panjang.
Ada dua fase reaksi di sini. Fase pertama, reaksi manusia, yaitu pengemudi memerlukan waktu untuk mengobservasi sebelum memutuskan tindakan dan akhirnya bereaksi. Selama masa observasi, kendaraan tetap bergerak dan pengemudi belum melakukan tindakan apa-apa. Fase kedua, yaitu reaksi mekanikal, di mana roda tidak langsung aktif seketika saat merespon reaksi pengemudi.

Jika kendaraan kita masih menggunakan tromol dan belum dilengkapi ABS, maka ada baiknya kita mempelajari teknik pengereman stab dan squeeze. Kedua teknik ini dibutuhkan saat kondisi darurat. Teknik stab yaitu pompa pedal rem sampai terkunci, kemudian lepas, dan tekan lagi. Sementara teknik squeeze, yaitu pompa pedal rem, tekan, lepas, tekan.

Blind Spot
Perlu disadari bidang pandang di spion tetap lebih terbatas dibanding dengan melihat langsung. Untuk itu kaca spion adalah langkah pertama untuk melihat sisi yang dituju. Langkah berikutnya adalah mengaktifkan lampu sein, menyempatkan menoleh langsung, baru kita beraksi, pindah jalur misalnya.

Kaca spion adalah 'Alat Bantu' Melihat!!

Blind spot adalah suatu bidang pandang yang tidak terlihat akibat terhalang oleh sesuatu obyek. Di Amerika Serikat dikabarkan lebih dari 600.000 kasus pindah jalur mengundang kecelakaan setiap tahunnya. Dan 60 % dari jumlah pengemudi tersebut umumnya mengaku tidak melihat kendaraan lain.
Selalu amati kaca spion Anda (aturan 5 - 8 detik!)

Menikung dan Olah Kemudi
Dalam mengemudi difensif, metoda tangan di arah jarum jam 10 - 2 atau 9 - 3, dengan teknik menggerakkan stir 'tarik dan dorong' (pull & push), sehingga kedua tangan tidak pernah berada di dalam lingkaran setang kemudi, termasuk jempol Anda. Khusus untuk setang kemudi yang telah dilengkapi bantalan udara (airbag), maka posisi tangan sangat dianjurkan pada posisi 9 - 3.

Pada dasarnya ketika kendaraan sedang bergerak, maka kestabilan kendaraan telah berkurang. Ini menyebabkan traksi roda pada permukaan lintasan ikut berkurang. Olehnya saat menikung, pengemudi harus memfokuskan cara mengemudinya pada dua faktor, yaitu kecepatan dan lintasan. Kecepatan yang berlebihan dan sudut radius yang besar akan memperbesar daya sentrifugal dan mengurangi traksi roda ke permukaan jalan. Sementara mengerem, memindahkan transmisi, dan mengubah kecepatan dengan tiba-tiba membuat kestabilan kendaraan akan berkurang dan memperbesar daya sentrifugal.

Pandangan Aman

Zona Melihat
Zona paling jauh di mana kita melihat bahaya dari awal 30 - 120 detik ke depan, tetapi tidak jelas. Kita mempunyai waktu yang cukup untuk bermanuver dengan halus dan aman.

Zona Analisa
Zona antara 12 - 25 detik di hadapan kita. Pada zona ini bahaya baru bisa terlihat jelas. Pada saat inilah kita baru bisa menganalisa dan mengambil keputusan. Coba ambil satu titik target di hadapan Anda yang berjarak 15 detik ke depan, dengan cara ini Anda akan mengemudi dengan lurus. Apabila kurang dari jarak itu, Anda akan mengemudi dengan meliuk-liuk, ke kiri dan ke kanan, dan menyulitkan pengendara di belakang Anda (ini disebabkan karena jarak Anda terlalu dekat).

Zona Beraksi
Zona terdekat dengan Anda 4 - 6 detik ke depan. Pada zona ini, Anda harus dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada obyek di depan, jika tidak maka Anda berada dalam kesulitan.

Tabrakan depan-depan
Tabrakan depan dengan depan (frontal) atau disebut adu kambing adalah tabrakan yang mematikan. Ketika kecepatan kedua kendaraan yang berlawanan beradu kambing, maka hukum energi kinetik berlaku, yaitu ketika dua kecepatan berlawanan beradu, maka terjadi empat kali tenaga daya yang terjadi.

Jika kendaraan yang datang dari depan baru disadari pada zona analisa 12 - 15 detik, maka kurangi kecepatan dengan segera dan arahkan kendaraan ke arah bahu jalan (kiri), jangan menunggu sampai kecelakaan terjadi.

Jika masalah baru muncul pada zona aksi 4 - 6 detik di depan Anda, maka beraksilah segera untuk menghindar. Beri klakson/lampu jika masih punya waktu. Bagi kendaraan yang belum dilengkapi ABS, maka rem dengan keras (tajam), selanjutnya dengan cepat lepas rem (ingat teknik stab/squeeze). Kalau Anda melakukan pengereman yang tajam dengan lama, maka roda-roda akan terkunci dan slip. Hal ini mengakibatkan Anda tidak dapat/sulit mengontrol kendaraan Anda.

Panduan Dasar Defensive Driving ini sangatlah penting untuk dipahami, karena menyangkut keselamatan diri Anda dan orang lain. Wajib selalu diingat, Andalah awal dan penentunya. Have a nice defensive driving!!

sumber: beritaatpm.com

Disiplin Berkendara

SUMBER BERITA

Tuesday, 07 October 2008
Sekarang ini banyak yang menuding kalau motor biang kerok kematian di jalan raya. Kata lainnya, motor nggak cuma alat transportasi tapi juga mesin pembunuh nomor satu. Di waktu lalu, MOTOR Plus mengulas masalah ini. Mendalaminya, kami ajak rembug Prof. Dr. Danang Parikesit, Senior Researcher Transport Planning And Financing Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Beliau setuju jika motor sangat berbahaya dengan data-data. “Sebanyak 30 ribu orang tewas per tahun karena kecelakaan bermotor dan 70 persen atau sekitar 21 ribu orang karena motor,” ulasnya. Dari penelitiannya, Danang menyimpulkan, sebab utama kecelakaan karena perilaku berkendara yang salah. “Di samping kelaikan motornya sendiri,” tegas pria yang menukangi Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) UGM ini.

Pak Prof memberikan kuncian dua hal yakni perilaku mengendara dan kelaikan motor. Jadi bukan semata motor sendiri yang jadi pembunuh! Prof. Dr. Rahardi Ramelan, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya mengungkapkan dalam makalahnya Ada Apa Di Jalan Raya Kita, yangf isi mengenai keganjilan yang terjadi di jalan raya. Ia menekankan aspek disiplin berlalu lintas yang lemah dari pengendara.

“Perilaku dari kebanyakan pengendara dan pengawas lalu lintas jauh dari harapan. Etika yang jadi pegangan jauh ditinggalkan,” tegasnya. Sebagai tambahan yang nggak kalah penting, environment dalam aktivitas bermotorpun perlu diperbaiki. Pemerintah sebagai penyelenggara negara menjadi titik penting ikhwal masalah ini.

“Masalahnya motor adalah benda terkecil di jalan raya. Saat terjadi kecelakaan, otomotis kemungkinan kematian atau cedera fatal ya motor,” gambar Joel Deksa Mastana, Chief Instructor, Motorider Safety. Jusri Pulubuhu Director Training Jakarta Defensive driving Consulting (JDDC) ambil peran. “Ada 4 faktor penting yang membuat motor bahaya dan nggak bisa dilihat sepotong-sepotong! Kebijakan, penegakan hukum, infrastruktur dan pendidikan,” seriusnya.

Dari gambaran tadi, ‘Pembunuhan’ yang melibatkan motor tadi disebabkan faktor internal dan eksternal. Di sisi internal, pendidikan keselamatan berkendara dan kesadaran pemakai jalan memang masih rendah. Diakui, pengguna motor sering berperilaku tak ideal di jalan. Dari pengamatan sehari-hari, MOTOR Plus mencatat beberapa perilaku tak safety seperti zig-zag (bergerak tak konstan kanan-kiri tak beraturan, unskillful (skill rendah dalam berkendara), kamikaze (terlalu berani ngadu seperti ingin bunuh diri) dan banyak lagi.

Jenis riders seperti ini banyak di jalanan. Ironisnya, saat terjadi benturan di jalanan, merekalah yang paling fatal akibatnya. Sisi ekstern ‘pembunuhan’ yang dilakoni motor tentunya pada ‘lawan’ di jalanan khususnya mobil. Pengguna jalanan ini sama tak patutnya di jalanan.

Lihat mobilis angkot yang berhenti sembarangan, supir bus dan truk di luar kota terutama Pantura yang ‘mengintimidasi’ pengendara dan menganggap mereka hanyalah penganggu perjalanan. Padahal mereka seharusnya tahu kesamaan hak di jalanan karena sama-sama membayar pajak.

MEKANISME PENERBITAN SIM HARUS DITERAPKAN SERIUS

Coba perhatikan brosur mekanisme penerbitan SIM dari markas besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Direktorat Lalu Lintas. Di situ tertera syarat memiliki SIM yakni KTP/Passpor, Kesehatan dan Ijazah/Sertifikat Sekolah Mengemudi.

Nah, yang terakhir ini hampir mirip dengan sertifikat safety riding. Makin sip, ada hukum yang melindungi hal ini. Simak peraturan pasal 230 PP No. 44/93. Di situ dijelaskan bahwa SIM tak berlaku jika perolehannya dengan cara tidak sah alias tidak dilengkapi syarat di atas. Dengan kata lain, polisi berhak menganggap SIM tak sah jika pemilik tidak memiliki ijazah-sertifikat mengemudi.

Pada kesempatan lain, Direktur Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia, Brigjen Yudi Sushariyanto pernah mengatakan, pihaknya belum akan menerapkan sertifikat safety riding dalam pengambilan SIM.

Iwan Fals pernah ngomong ke Em-Plus kalau kekacauan jalan bisa diatasi dengan cara memperbaiki sitem atau proses pembuatan SIM. Terserah mau itu SIM A (mobil) atau SIM C (motor). “Itu benar berjalan, lalu lintas pasti nyaman,” kata bang Iwan yang rambut putihnya sudah mulai banyak itu.


Written by Otomotifnet.com
http://otomotifnet.com/otoweb/index.php?

Perlengkapan Safety Foxy Lady

SUMBER BERITA

Dihitung jumlah memang nggak ada data pasti. Namun yang pasti, di jalanan pengendara cewek terlihat makin banyak. Ada banyak alasan foxy lady naik motor. Lebih efisien soal waktu dan biaya. Namun, ada juga alasan khusus. Seperti ingin menghindari pelecehan seksual di sarana transportasi.

"Perlengkapan kendaraan seperti helm, jaket, sarung tangan dan sepatu tetap wajib bagi pengendara termasuk wanita. Namun, tetap mempertimbangkan aspek gaya," jelas Joel D. Mastana, instruktur safety riding di U Mild U Bikers.

Soal keamanan, tidak ada perbedaan khusus helm cewek atau cowok. Semua harus mengikuti kaidah berkendara, seperti memenuhi SNI atau tingkatan yang lebih tinggi seperrti SNELL.

Namun demikian karena ada sedikit perbedaan fisik, perlu kekhususan tersendiri buat foxy lady. "Umumnya, ukuran kepala cewek lebih kecil. Di pasaran banyak pilihan warna ngejreng. Pink dan motif lucu, seperti bunga. Pilihlah itu," jelas Dewi, pengendara motor dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut Anggono Iriawan, prinsip penggunaan helm, selain memenuhi unsur aman juga nyaman bagi kepala. "Kebesaran tidak bagus begitu juga sebaliknya ," jelas Kepala Instruktur Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM) itu.

Pertimbangkan juga penggunaan anting bagi kaum perempuan. Anting yang panjang bisa nyangkut dan pastinya menyulitkan ketika pakai helm full-face. Ini mengakibatkan konsen mbak atau neng bisa terganggu saat berkendara.

Perlengkapan lain, sarung tangan. Di pasaran tersedia aneka sarung tangan. Mulai bahan kulit atau kombinasi kulit dan kain. Bentuknya ada yang setengah atau tertutup.

"Pilih sarung tangan yang tidak licin saat memegang grip atau setang. Bahan kulit sangat disarankan. Juga pilih sarung tangan tertutup," tambah Joel D. Mastana lagi.

Sebagian foxy ladyjuga tetap mengedepankan unsur gaya. Jaket harus bisa membantu keamanan pengendara wanita. Melindungi dari terik matahari dan melindungi dada dari angin. Menurut Jusri Pulubuhu, jaket melindungi bagian tubuh ketika jatuh. "Membantu mengurangi gesekan kulit dengan aspal," jelas Direktur Training, Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

Tak kalah penting, penggunaan sepatu. Cewek masih sering terlihat memakai tumit tinggi. "Ini mengurangi kemampuan kaki untuk menginjak rem atau oper gigi. Sebaiknya memakai sepatu yang hak-nya tidak lebih 2 cm. Soal gaya itu terserah masing-masing. Yang jelas harus aman dulu. Safety first," tutup Anggono.

TIPS PRAKTIS:
  1. Pas riding dianjurkan pakai sun-block dan baru berdandan saat tidak naik motor.
  2. Lindungi mata dengan helm full face, goggle atau kacamata yang baik. Menurut dr. Deden W. Sorna, senior Tiger Association Bandung (TAB), debu dan partikel mudah menyerang dan menyebabkan inflamasi (peradangan) dan pinquekula (perlemahan).
  3. Sering melakukan perawatan tubuh. Mulai creambath, hair masker dan hair spa. Menurut Anna Listiana, pemilik Anna Salon, di Jakarta Barat, perawatan ini untuk melancarkan peredaran darah dan syaraf agar tetap fresh dan cantik.

Konyol di Lampu Merah

SUMBER BERITA

Perilaku konyol kadang ditunjukkan bikers saat berhenti di perempatan lampu merah. Yang jelas bukan semata menyebalkan pengguna jalan lain. Tapi juga membahayakan. Lihat apa aja sih prilaku buruk yang memang tidak perlu ditiru. Wuuuu...

MEMOTONG JALUR

Tabrakan dari arah samping bisa dihindari jika pengendara tidak memotong jalur pengguna jalan lain. Maklum, motor mudah terobos sana-sini. Jadi, asal ada ruang bisa ngambil jalur lain. "Risiko seperti ini harus dihindari. Karenanya jangan ambil jalur orang lain," jelas Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting.

'KORUPSI' LAJUR KIRI

Risiko disenggol dari belakang bisa terjadi karena lajur kiri dipakai untuk berhenti. Korupsi jalur yang sebenarnya untuk satu motor diisi sampai tiga motor. Akibatnya, pengendara di belakang jadi tidak bisa jalan.
"Melanggar garis batas sangat berbahaya buat pengendara. Posisi ini bisa jadi rebutan antara sesama pengendara. Parahnya, kalau disenggol dari belakang," jelas Hamisuseno, dari klub Hornet (Honda on Internet)

TIDAK SABAR

Sering melihat, pengendara yang tidak sabar menunggu lampu ganti warna dari merah ke hijau. Tancap gas! Sebaiknya, pengendara bersikap aman. Waktu sedetik tidak banyak pengaruhnya kok. Makanya, jangan langsung tancap gas start apalagi sampai jump start. Emangnya mau balap?

"Ini mengurangi kecelakaan kalau pengendara dari arah lain juga tidak sabar, lampu merah diterobos. Perilaku menerobos lampu merah dan melewati marka jalan juga membahayakan diri," jelas AKP Harry Setiyadi, Kasie Idik Lantas Polda Metro Jaya.

Wednesday, February 4, 2009

Dibonceng Bukan Pasangan

SUMBER BERITA

Entah karena canggung, boncenger cewek enggan duduk rapat sama pengendara. Umumnya, mereka jaga jarak. Maklum, si pengendara bukan yayang atau suami tercinta. Makanya jadi atur jarak gitu. Wah, macam Metromini aja! Sebenarnya duduk duduk berjarak bikin pengendalian jadi nggak karuan. Pengendara jadi terasa berat. Belum lagi kalau saat melakukan manuver. Jusri Pulubuhu menyatakan dalam berkendara tidak ada hubungan atau tidak. Lebih diutamakan posisi duduk yang benar. Ini untuk keselamatan pengendara juga boncenger, jelas Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) itu.

Duduk rapat dengan pengendara untuk menjaga keseimbangan dan motor tidak bergeser. Dengan menempel ke pengendara, maka titik keseimbangan antara motor dengan pengendara dapat dijaga. Posisi duduk jangan sampai melawan arah pengendara. Ikuti gerak arah pengendara, tambah pria berkantor di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan itu lagi.

Kedua lutut juga harus merapat atau menggapit pinggul pengendara. Agar pengendara bisa menjaga irama kendaraan dengan boncenger, bilang Anggono Irawan, Kepala Instruktur Safety Riding, PT Astra Honda Motor (AHM).

Boncenger ngak usah sungkan saat tangan merapat atau merangkul pinggang yang membinceng. Dengan begitu, jika ada gerak mendadak yang dilakukan pengendara bisa diikuti boncenger. Kalau sungkan berpegangan atau memeluk pengendara, minimal paha mengapit ke pinggul pengendara, wanti Jusri lagi.

Tapi ini kurang mendukung ketika terjadi gerakan ke depan atau ke belakang yang mendadak, kemungkinan jepitan gampang lepas, karena tidak didukung pegangan erat dan pengendara mudah kehilangan kestabilan.

Jadi, ngak perlu sungkan. * Tining

Sumber : Motor Plus, edisi 365, Sabtu 25 Februari 2006
Disesuaikan oleh : Adi/SSFC-056

Mengendarai Mobil Saat Banjir

SUMBER BERITA

Musim banjir tiba. Perlu perhatian khusus saat Anda mengendarai dan merawat kendaraan bermotor. Salah-salah, kendaraan bisa rusak parah dan jiwa terancam.

Menurut pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, ada tiga risiko utama saat jalan tergenang air, yakni macet, mogok, dan kecelakaan. Untuk menghindari kerugian akibat tiga hal itu, perlu antisipasi dini.

Antisipasi dimulai dari pengenalan medan tempat Anda biasa beraktivitas. Kalau bisa, jauh hari sebelum hujan, kumpulkan informasi mengenai lingkungan Anda, mulai dari rumah, kantor, pusat perbelanjaan, dan akses jalan yang menghubungkan tempat-tempat tersebut.

Identifikasi setiap kondisi yang bisa menimbulkan genangan air dan banjir, seperti sungai, cekungan, pintu air, bendungan, dan tampungan air seperti rawa, empang, tambak, dan sawah. Saat hujan turun, hafalkan akibatnya terhadap jalan, seperti di mana muncul genangan air, kerusakan jalan, dan titik-titik kemacetan.

Setelah itu, buat rencana perjalanan. Monitor kondisi terakhir rute yang akan dilalui melalui radio, televisi, atau internet. Siapkan rute-rute alternatif.

Kenali kendaraan

Kenali betul kendaraan yang Anda digunakan. Banyak mobil dan sepeda motor mogok atau mengalami kecelakaan saat banjir karena pemiliknya tak tahu spesifikasi kendaraan. Kenali tipe kendaraan, jenisnya, tipe mesin, hingga letak dan fungsi bagian-bagian yang rawan terkena air.

"Jenis mobil yang berbeda memiliki antisipasi berbeda pula. Mobil bensin berbeda dengan diesel misalnya," ucap Jusri.

Langkah selanjutnya, persiapkan kendaraan untuk melalui medan basah. Lindungi bagian kelistrikan yang tak boleh kena air, seperti distributor, koil, busi, dan ECU (electronic control unit).

"Periksa kondisi kabel dan sambungannya, jangan sampai ada yang terbuka atau lecet karena bisa korsleting. Semprot bagian-bagian rawan itu dengan insulator anti-air," katanya.

Pastikan ban memiliki alur-alur pembuang air cukup besar dan dalam kondisi bagus. "Alur-alur ban berfungsi membuang air di antara ban dan permukaan jalan sehingga ban masih mencengkeram jalan. Pastikan kedalaman alurnya tak kurang dari dua milimeter," ujar mantan pembalap ini.

Tak kalah penting memeriksa kondisi wiper, AC, dan pemanas kaca belakang (defogger). Ini berkaitan dengan daya pandang pengemudi. Karet wiper sebaiknya ganti setiap dua tahun karena karet yang lelah (fatigue) dan keras tak menghapus air dengan sempurna. AC yang tak beres menimbulkan embun pada kaca. Sementara defogger berfungsi memanaskan kaca belakang agar tak muncul embun.

Jangan memaksakan

Saat bertemu genangan air, perhatikan lintasan di depan sebelum menerjang air. Ukur kedalaman air dan perkirakan kondisi jalan. Dalam kondisi tertutup air, Anda tak tahu apakah kondisi jalan mulus atau berlubang.

"Jika ada mobil di depan, bisa diukur seberapa dalam genangan air. Kalau tak ada kendaraan di depan, lebih baik Anda turun dan lakukan pengecekan langsung," tuturnya.

Jika genangan terlalu dalam, jangan memaksa melewatinya. Putar balik kendaraan atau jika tak mungkin, matikan mesin dan dorong kendaraan pada posisi aman di pinggir jalan, kunci rapat, dan tinggalkan. Nyawa Anda lebih berharga dari mobil semewah apa pun.

"Jangan lupa, usahakan melepas ECU sebelum meninggalkan mobil dan simpan di tempat kering," kata Jusri.

Bila genangan masih mungkin dilewati, kemudikan mobil dengan ekstra hati-hati. Untuk menghindari mogok, jaga putaran mesin konstan. M Taqwa, mekanik bengkel Gardenspeed, mengingatkan mitos yang menyatakan saat menerjang air putaran mesin harus tinggi.

"Padahal makin tinggi putaran bisa terjadi water hammer. Injak gas seperlunya, cukup untuk membuat mobil bergerak," ucapnya.

Masukkan persneling pada gigi paling rendah (gigi 1 pada mobil transmisi manual, posisi L atau S pada transmisi otomatis), matikan sementara semua perangkat yang membebani kerja mesin, seperti AC dan sistem audio, buka kaca jendela, lalu jalan pelan-pelan. Jaga jarak mobil Anda dengan kendaraan di depan.

Bila mesin mati di tengah banjir, jangan mencoba menghidupkan kembali. Segera netralkan persneling, lepas kabel negatif dari aki mobil untuk menghindari korsleting, dan dorong mobil ke pinggir untuk memberi jalan kendaraan di belakang. Setelah itu, dorong mobil ke tempat aman dan kering.

Begitu memungkinkan, periksa dan keringkan seluruh komponen sistem pengapian dan kelistrikan mesin mobil. Periksa juga filter udara, kondisi oli mesin, dan oli transmisi. Jika bagian-bagian tersebut sudah tercampur air, jangan mencoba menghidupkan mesin mobil (oli yang tercampur air berwarna coklat encer seperti kopi susu). Telepon mobil derek untuk menarik mobil Anda ke bengkel terdekat. (DAHONO FITRIANTO)

TVS Adakan Safety Riding Course

SUMBER BERITA

Kepedulian TVS ternyata tidak hanya memasarkan produk Apache dan NEO, tapi juga kepada para pengendara motor. Tingginya angka kecelakaan sepeda motor di jalan raya membuat produsen motor yang baru berkiprah di Tanah Air awal tahun ini cukup concern ikut bertanggung jawab terhadap keselamatan pengendara motor. Ini dibuktikan dengan digelarnya kursus singkat keselamatan berkendara bagi para pengendara motor Ibukota bertempat di Putt-putt Golf Café, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/5) lalu.

Kursus yang dipandu oleh Jusri Pulubuhu, instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) tersebut mengajarkan bagaimana cara aman mengendarai motor di jalan raya. Kursus diikuti oleh ratusan anggota club motor yang tersebar di seluruh Jakarta. Menurut Jusri, banyaknya jumlah kecelakaan motor di jalan raya disebabkan kurang penguasaan pengendara terhadap motor yang dikendarainya. Pengendara hanya sekedar bisa menjalankan motor tapi tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang teknis berkendara. Dalam slide yang dipresentasilkan dihadapan peserta kursus, Hengki memaparkan beberapa contoh kecelakaan yang disebabkan keteledoran pengendara. Dan ia pun memberi tahu beberapa trik agar bisa menghindari kecelakaan tersebut.

Presentasi Jusri dilanjutnya dengan praktik test ride menggunakan Apache di area parkir Pintu Satu Senayan. Peserta kursus diberi kesempatan secara langsung mempraktekan teori yang telah diperoleh dengan kondisi rintangan di lapangan. Mereka harus melalui jalan berkelok serta halangan tembok besar yang dibuat dari susunan batu beton. Skill mereka makin diuji saat harus melewati sederetan lubang dan jalan yang menyempit. Puncaknya, peserta diwajibkan melewati jalanan berpasir dan tanjakan yang cukup tajam. Umumnya, rintangan yang gagal dilalui dengan mulus saat melewati jalan berpasir. Banyak peserta terjatuh karena tidak bisa mengendalikan motornya.

Menurut Mr. Kulkarni P.V, Head of Engineering TVS Motor Company Indonesia, tujuan utama kursus ini adalah untuk membekali para pengendara motor dengan edukasi yang cukup sehingga mampu menghindari kecelakaan di jalan raya. “Pengetahuan berkendara sangat penting untuk dikuasai. Diharapkan dari kursus ini dapat mengedukasi pengendara sehingga memiliki penguasaan teknis berkendara yang lebih baik agar mereka terhindar dari kecelakaan,” ujar Kulkarni.

Dari data Polda Metro Jaya, selama 2007 telah terjadi kecelakaan sepeda motor sebanyak 3900 kali dan lebih dari 700 orang meninggal dari kecelakaan tersebut. Dan diperkirakan dengan makin banyaknya sepeda motor yang beroperasi di Jakarta, angka kecelakaan pun akan semakin meningkat. Untuk itu, kursus seperti yang diadakan TVS Motor bisa menjadi salah satu langkah preventif untuk menekan angka kecelakaan. Dan TVS mempunyai komitmen untuk membantu mengurangi angka kecelakaan itu yakni selain membuat produk berkualitas dengan tingkat keamanan tinggi, juga melakukan berbagai edukasi kepada para pelanggannya khususnya yang tergabung dalam TVS Motor Community (TMC) yang baru saja didirikan.

Kursus singkat tersebut ditutup dengan iringan pawai peserta kursus di sekitar jalan Sudirman – Thamrin serta pemberian sertifikat kepada para peserta.

  © Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP